Prolog

64 8 1
                                        

   Hari berlalu bagaikan angin lalu, hembusan angin membawa terbang perasaan yang tak bertuan ini penuh kesensaraan entah kemana.Bagaikan air sungai yang mengalir menggikuti arus begitu pun perasaan yang mengalir seperti air sungai yang tidak bisa di tolak ketika cinta itu datang perasaan itu tumbuh subur bagaikan bunga yang selalu di siram air setiap hari.

Seorang gadis tengah sibuk merapihkan rambut cokelat gelapnya, ia pun memberi sentuhan terakhir dan perfect. Senyumnya mengembang melihat pantulan dirinya di cermin, tak lupa untuk merapihkan seragamnya sedikit.Ia kemudian mengambil tasnya dan mengenakkannya setelah itu ia berjalan keluar dari kamarnya dan bergegas kesekolah.

Dan di lain tempat

BUG

"cih, kalian hanya bisa main keroyok, pecundang."

"hey, shut up boy!, kau lah yang pecundang."

Satu tendangan lagi melayang dan kini tepat mengenai dada lelaki yang saat ini terlihat sangat menyedihkan. Wajah penuh dengan luka dan darah sebagian mengenai seragamnya.

Sementara para lelaki itu tertawa remeh dengan tatapan penuh emosi.

"seperti ini kau masih ingin melawan kami?."

"Cukup besar juga nyalimu ingin melawan kami boy.."

"aku tidak pernah merasa takut pada kalian, sekelompok orang-orang yang tak punya otak dengan pemikiran yang sangat dangkal cih, menyedihkan."

"wahh, mulutmu sangat berbisa brengsek."

BUG

"Akhh..."

Salah satu dari para lelaki itu jalan dan berjongkok didepan mangsa mereka yang sudah tak berdaya, dengan tatapan tajamnya.

"dengarkan aku bobby, kau terlalu begitu ambisi kepada kami, hingga tak menyadari apa akibatnya, jika kau membuat kami marah!." Ia lebih mendekat , tepatnya menempelkan bibirnya ditelinga mangsanya itu.

"Bunuh, aku bisa saja langsung membunuhmu dengan tanganku ini."

"Ciuh~

"coba saja kau bunuh aku Wahyu  keparat."

Wahyu memejamkan matanya sejenak saat merasakan sesuatu cairan mengakir dari pipinya.

"Brengsek, beraninya kau meludahi wajah Wahyu!."

"Wahyu kau tidak apa-apa?." Wahyu  mengangkat tangannya sebelah , menandakan ia baik-baik saja. Lalu melirik tajam kearah korbannya itu.

"sungguh penuh keberanian." Wahyu  bangkit bangun dengan gaya angkuh dan...

BUG

"Ughhh..." Budi memuntahkan darah dari mulutnya, setelah mendapatkan tendangan kuat dari seseorang yang telah ia ludahi tadi.

"habisi dia!." Ucap Wahyu dengan penuh penekanan dan berlalu begitu saja. Meninggalkan para sahabatnya yang dengan senang hati melaksanakan perintah dari ketua mereka. menghajar.

TBC.

Don't Leave MeHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora