Angin hangat menyapa lembut wajah cantik seorang gadis yang sedang berdiri di balkon apartemennya.
Kilauan pilu terlihat bersusah payah menyusuri petangnya jalanan Seoul mencari sang pelipur lara.
Matanya terpejam sesaat, mencoba menghentikan hatinya yang terus mengharapkan kehadiran pria itu.
Tubuh ringkihnya berguncang keras ... Nampaknya tak lagi mampu menahan sakit yang ia rasakan.
Air matanya mulai meleleh dari kedua mata tajamnya yang kini nampak sayu karena nampaknya masih belum sanggup menatap dunianya yang hancur.
Hatinya terlalu rapuh untuk meratapi semua kenangan yang tak mau meninggalkannya.
Otaknya telah ribuan kali berusaha membakar hangus pisau yang menghancurkan jiwanya, namun apa daya ... hati tak bisa dipaksakan.
Ia memejamkan matanya untuk sesaat dan menarik nafas panjang. Mencoba menikmati musim dingin yang mulai berganti menjadi musim semi yang hangat.
Rambutnya yang panjang berwarna coklat tua bak kayu eboni terus bergerak lembut tertiup angin.
Tubuhnya mungkin telah berdiri di sana sejak sang mentari masih tersenyum terang, namun hati dan jiwanya?
Mungkin saja telah ikut terbang bersama sang angin mengelilingi dunia yang sangat luas namun entah mengapa terasa sangat menyesakkan untuknya.
Angin yang semakin kencang membuatnya terpaksa masuk ke dalam apartemennya seraya berharap agar hatinya juga dapat ikut tumbuh lagi seperti bunga yang sempat mati saat musim dingin.
Ia lalu duduk di sofa menatap kosong ke arah televisi. Sesekali matanya mencuri pandang pada handphonenya yang tak kunjung berdering.
Orang mungkin akan menganggap ia hiperbola menghadapi kerumitan cinta.
Sederhana saja, ia ditinggalkan dan ia masih belum bisa menerima hal tersebut.
Setiap manusia pasti menjadikan dirinya sendiri sebagai pemeran utama cerita yang mereka jalani seperti yang ia lakukan.
Hanya saja, kali ini ia terlalu berlebihan dalam mencoba membelokkan jalan takdirnya.
Ia membuat fantasi cinta dengan keindahan tanpa akhir. Ia terus menggoreskan tinta khayalnya dengan penuh harapan agar dapat berakhir bahagia seperti kisah para putri dari negeri dongeng.
Menikah, dan hidup bahagia selamanya bersama sang pangeran.
Namun ada yang ia lupakan!
Sang pangeran telah memiliki permaisuri.
Munafik kalau bibirnya mengatakan ia tak tahu pria itu akhirnya dapat memiliki cintanya yang telah dikejar lebih dari separuh umurnya sendiri.
Tak dapat dibandingkan dengan kapan ia mengenalnya.
Dan pada akhirnya, akhir kisah yang coba ia tutup dengan kertas lain tetap harus dijalani.
"Dasar bodoh"
