Entah sudah keberapa kalinya aku bermimpi,mimpi yang sama setiap malamnya.Saat ini hatiku mulai berbicara,jauh dari pendengaranku,terpaksa aku mendekatinya
"Apa aku akan baik-baik saja?"tanya
Ara.Dipandanginya pria di depannya itu, penuh tanya namun tanpa keraguan.
"Bukan kau yang harus di perhatikan.Meskipun begitu kau harus bisa menata perasaanmu dan menghapus dosa itu." jawab Reynard. Gurat ketampanan dan kedewasaannya terlihat jelas, saat ia tersenyum menyemangati Ara.
"Aku tidak mengerti. Kenapa harus menata perasaanku, aku hanya perlu meminta maaf" ujar Ara, wajah imutnya menunjukan kebingungan. Tapi itu tidak lama, suatu jawaban akan pertanyaannya itu terjawab olehnya sendiri.
"Itu semua belum berakhir," Ujar Rey seolah meyakinkan apa yang tengah dipikirkan Ara.
"Ini baru awal. Kau tahu, ini baru permukaan air, tenang. Tapi saat kau masuk kedalamnya, ketenangannya akan goyah dan menyentuh kulitmu".
Ara sama sekali tidak memberi tanggapan apapun.
¤¤¤
"Kau Ara Zalika?" tanya seorang gadis berambut blonde panjang dan berwarna pirang.Ia menggunakan seragam sekolah putih berlengan panjang dengan sweeter pink dan dasi yang berwarna senada.
"Iya aku Ara Zalika. Apa kau siswi yang akan mengantarku ke kelas?" tanya Ara.
"Kelas kita sama, jadi aku disuruh mengantar mu kesana.Ayo!"Ajaknya
Ara mengangguk. Mereka kini berjalan berdampingan menuju kelas. Untuk beberapa menit suasana tampak sepi, tidak ada diantara mereka yang memulai percakapan. Namun tiba-tiba.
"Apa aku boleh tahu siapa namamu?" tanya Ara, tepat saat mereka sampai di lantai dua.
"Namaku Salsadila putri, tapi aku lebih akrab dipanggil Dila."ujar gadis blonde itu.
"Apa kelas kita masih jauh?"
"Kita sudah dilantai dua, lantai paling atas kelas kita melewati dua ruangan. Nah kita sampai!" Ujar Dila. Dengan cepat Ara mempersiapkan diri dengan merapikan baju seragam barunya dan menghela napas secepatnya.
"Permisi Ibu Devi. Saya sudah mengajaknya ke kelas." ujar Dila masih berdiri diambang pintu. Ara menunggu di belakangnya.
Seorang Guru perempuan menoleh padanya. Sepertinya dia baru saja bercerita sesuatu yang lucu, karena sebagian dari siswi yang ada mencoba menahan tawa.
"Oh, bagus, masuklah!" ujar Ibu Devi
Bila memasuki kelas, begitupun dengan Ara. Semua pandangan kini teralihkan ke arah Ara. Mereka ingin tahu seperti apa siswa baru itu. Begitupun dengan seorang pria yang duduk dekat jendela, dia ikut menoleh, ingin memastikan bahwa dialah siswa baru itu.
Tidak butuh waktu lama bagi Ara Zalika untuk berteman dengan yang lain. Selain karena sikapnya yang ramah dan mudah bergaul. ia bisa beradaptasi dengan baik. Diantara teman-teman barunya, yang paling dekat dengannya saat ini, adalah Dila.
Meski diawal pertemuan mereka tidak banyak bicara. Tapi sekarang mereka sudah seperti teman lama. Dila yang cuek dan terlihat dingin rupanya sangat cerewet dan semaunya, dia juga orang yang ceria dan sulit ditebak.
"Pelajaran kali ini membosankan." ujar Dila.Dia bicara sambil membuang napas sembarangan. Ara yang duduk di bangku sebelahnya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara bingung dan ragu.
Merasa Ara memandanginya, Dila balik menatapnya.
"Aku tidak suka disuruh merangkum, itu membuatku mengantuk!" ujar Dila seolah mengerti apa yang ada di pikiran Ara. Bukankah Ara memang ingin menanyakan dimana letak membosankan yang dimaksud Dila.
"Kau tidak suka menulis?"tanya Ara
"Bukan begitu, hanya saja aku ini... apa ya istilahnya, pokonya aku ini mudah tertidur, ya bisa dibilang tukang tidur." ujar Dila.
"Hai.. kau masih ingat aku Ara?"tanya seorang pria yang duduk di depan Ara sambil membalikkan seluruh badannya tiba-tiba ke arah Ara.
Ara terkejut dengan gerakan pria itu, sedangkan Dila hanya mendengus.
"Ya Ara, kau jangan mau dekat dengan putri tidur ini. Kalau suasana sepi atau mendengar musik mellow, pasti dia tidur. kau pasti repot kalau bersamanya!" Saran pria itu
"Ya aku tidak minta komentarmu!" solot Dila. Ia kembali melanjutkan menulisnya, namun sepertinya usaha untuk tidak mengantuk tidak bisa ia tahan. Perlahan ia menidurkan kepalanya di lengan kirinya dan memunggungi mereka.
"Apa kubilang, dia payah sekali dengan suasana begini" ujar pria itu
"Ah aku ingat, Kau Bastian pratama bukan? Ketua OSIS waktu kita SMP" ujar Ara. Sepertinya diamnya itu untuk memikirkan siapa pria di depannya ini.
"Sekarang sih aku hanya ketua Sekbid"ujarnya nyengir.
"Kau jadi pengurus OSIS disini?"tanya Ara girang.
~~~~
"Tidak bisa, besokkan ulangan sejarah. Aku butuh catatan ini, kenapa kau tidak menulis sih!" tolak Hara saat Dila meminjam bukunya. kemarin dia kan tidak merangkum karena tidur di kelas.
"Yahh kenapa kau jadi pelit sih. Aku pinjam sebentar deh!" pinta Dila. sepertinya ia sering melakukan hal ini.
"Kenapa tidak kemarin saja waktu pulang sekolah. Kalau sekarang aku tidak meminjamkannya. Kau itu harus serius Dila, jangan tidur di kelas terus " komen Hara
" Aishh kenapa kau malah menasehatiku. kalau kau tidak meminjamkannya, lalu aku bagaimana??" ujar Dila sambil menunjukan wajah menyedihkan.
" Itu pelajaran untukmu, agar lain kali mencoba membuka lebar-lebar matamu dan menulis"
" Aku sudah berusaha." ujar Dila tersinggung.
Pada akhirnya. Dila melangkah keluar kelas, ia kalah debat dengan Hara, ketua kelasnya yang cerewet dan aktif. Bahkan sehari Ara baru masukpun, ia sudah memberi tahu peraturan kelas dan piket padanya.
" Kau bisa pinjam punyaku!" tawar Ara yang ternyata mengikuti Dila keluar kelas.
Dila menatap Ara dan beralih pada buku yang disodorkan itu padanya.
"Kau bilang sebentarkan, jadi salin saja rangkumanku sepulang sekolah hari ini. Aku akan menungguimu." tawar Ara masih dengan sodoran bukunya yang tidak diambil juga oleh Dila.
" Kau serius?" tanya Dila
" Kita sudah jadi temankan?" ujat Ara tersenyum.
" Baiklah!" ujar Dila lalu mengambil buku Tania.
" Tak masalah Hara tidak meminjamkan bukunya padaku, tak masalah kalau kelasku sepinya bagai bangunan kosong, tak masalah aku pulang sore. Yang pasti sekarang aku lapar, Ayo ke kantin!" ujar Dila lalu merangkul bahu Ara.
¤¤¤
Dila telah asik menyalin rangkuman milik Ara kedalam buku catatannya. Sudah hampir 30 menit ia masih menulis, meski pegal tapi ia terus menyemangati dirinya. Pasti bentar lagi selesai, pikirnya.
Ara yang duduk di depannya ikut menemani dan menyemangati. 15 menit kemudian, Ara berhenti menyemangati Dila, ia tengah memandang sesuatu di depannya. ( Ara liat apa ya? tunggu di chapter selanjutnya ya )
¤¤¤
Maaf ya jika cerita ini kurang menarik atau banyak typonya. Mohon dimaklum soalnya ini pertama kalinya.Mohon beri masukan ya.karena masukan dari kalianlah yang jadi motivasiku😊
Semoga suka ;)
Assalamu'alaikum teman-teman. ♡
YOU ARE READING
Natara
FanfictionNeat adalah figur ketua osis yang ramah,sangat diandalkan dan berpengaruh,namun sikapnya berubah setelah berjumpa dengan siswi baru, Ara.Gadis ini membuatnya terusik.luka 3 tahun silam sulit dilupakannya.perasaan dicampakkan tanpa alasan jelas,membu...
