Dari awal menuntun ilmu, taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, hingga saat ini aku duduk di bangku SMA, menjadi salah satu pemilik kursi kelas XII IPA 2, baru terbesit dipikiranku sebuah pertanyaan yang mungkin sangat mudah dijawab oleh mereka yang punya tujuan. Kenapa aku menghabiskan waktuku di sekolah? Pergi, belajar, bermain, dan kembali ke rumah. Aku hanya menghabiskan waktuku seperti itu, tanpa berpikir akan kugunakan untuk apa ilmu yang ku dapat.
Akhir-akhir ini, aku sering berbincang dengan temanku mengenai kemana aku akan pergi setelah lulus. Aku mulai memikirkan tujuanku, sebuah impian yang ingin aku raih. Agak telat memang, karena aku baru memikirkannya setelah menginjak kelas XII. Namun, aku pikir tidak masalah daripada tidak memikirkannya sama sekali.
Saat guruku memberikan kami sebuah angket penjurusan, dimana kami diminta menulis universitas dan jurusan apa yang akan kami pilih sebagai tujuan akhir menempuh pendidikan di SMA. Aku merasa iri melihat teman-temanku yang dengan mantap mengeluarkan sebuah bolpoin dan menulis pilihan mereka. Sementara aku hanya diam dan berpikir, akan ku isi apa kertas di hadapanku itu. Walaupun sudah sangat sering aku membicarakan ini dengan temanku, aku tetap tidak menemukan pilihan akhir.
Hingga suatu hari, aku bertemu dengan seorang teman, Rehan namanya. Siswa SMA tetangga yang populer karena kepintarannya. Dia mewakili Indonesia dalam Olimpiade Sains Internasional tahun lalu dan berhasil membawa pulang sebuah piala. Selain pintar, dia juga tampan dan pandai membuat para gadis larut dalam permainan basketnya.
"Itu apa di telingamu?" tanyaku.
Ini kali pertama aku memberanikan diri menemuinya, untuk saling mengenal dan meminta saran tentang tujuan sekolahku. Barang kali aku dapat pencerahan dari pria yang memiliki IQ di atas rata-rata itu. Namun, ada yang sedikit menggangguku saat melihat wajahnya. Dia yang sedang memainkan gitar dan melantunkan sebuah lagu di bangku taman itu, seperti menggunakan sesuatu di telinga kanannya.
"Bukan apa-apa," jawabnya.
Dia yang terkejut dengan pentanyaanku buru-buru melepas alat yang tidak lain adalah Haering Aid dari telinganya. Kumudian menyembunyikan alat itu di genggaman tangannya, seperti tidak ingin aku mengetahui kekurangan yang ia miliki. Sebelumnya aku melihat alat itu di klinik ayahku yang kemudian aku diberitahu nama dan fungsinya. Hearing Aid adalah alat bantu untuk mereka yang mengalami gangguan pada indra pendengarnya.
Gosip yang menyebar sepertinya benar tentang pria yang diberi julukan "Haedphone Man" ini. Dia mendapat julukan itu karena eratnya dengan headphone seperti dua kertas yang telah terikat oleh lem. Sebelumnya aku tidak percaya gosip seperti itu, karena kupikir itu mengada-ada. Mereka mengatakan bahwa dia menutupi ketuliannya dengan headphone. Dia memakai headphone setiap hari agar jika ada seseorang yang memanggilnya dan dia tidak mengerti, orang itu dapat mengerti bahwa dia sedang mendengarkan musik dan bukannya tuli.
"Aku Dian dari SMA Negeri 1, maaf kalau ganggu kamu," ucapku mengalihkan pembicaraan kemudian duduk di sampingnya. Dia baru menoleh kearahku begitu aku duduk dan membuatku agak terkejut mendengarnya bertanya siapa namaku.
"Kamu gak bisa denger sama sekali?" tanyaku spontan dengan sedikit gerakan tangan yang kusadari sesudahnya bahwa itu tidak sopan. Aku segera meminta maaf, sementara dia hanya tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia mengerti ucapanku atau tidak.
"Aku membaca bibir." Dia berbicara dengan santai, kemudian meletakkan gitarnya di bawah menyandar kursi. Oh... Jadi begitu caranya berkomunikasi.
Kami melanjutkan obrolan dan banyak tertawa. Dia mengatakan gaya berceritaku sangat lucu sampai membuatnya ingin menangis karena tertawa. Agak kesal sih, tapi aku senang melihatnya tertawa lepas seperti itu. Dia juga tidak lagi malu menggunakan Hearing Aidnya dan bernyanyi di hadapanku.
"Aku boleh tanya gak?" tanyaku kemudian begitu dia selesai bernyanyi.
"Tanya apa?"
"Lebih tepatnya minta solusi sih."
"Tentang?"
Aku menceritakan kesulitanku memilih jurusan kuliah. Aku sudah sering mencari berbagai informasi tentang jurusan yang baik di internet, juga meminta pendapat dari teman-temanku. Namun, aku merasa tetap tidak ada yang cocok. Hari ini aku tertarik dengan satu jurusan dan besok ketika aku mencari lagi, aku tertarik dengan yang lain. Itu terus terjadi sampai membuatku malas memikirkannya lagi.
"Itu salahmu, males," katanya kemudian.
"Ya gimana, aku tertarik sama A, tapi begitu aku cari informasi tentang A, aku ngerasa gak cocok. Cari lagi dan tertarik sama B, tapi balik lagi mikirin A karena ngerasa gak cocok sama B. Yah... Gitu aja terus sampe' aku bisa ngalahin tingginya Monas." Dia tersenyum mendengar ocehanku itu.
"Kamu cuma gak fokus. Coba deh luangin waktumu satu hari aja untuk mikirin itu bener-bener, tanpa berpaling ke yang lain. Cuma satu hari aja. Pikirin bener-bener apa yang ingin kamu lakuin di masa depan. Liat bakat apa yang kamu punya! Mungkin mereka bisa kasih kamu solusi, tapi semuanya akan balik ke kamu lagi." Dia berbicara layaknya seorang kakak bagiku dan itu membuatku kagum.
"Rehan!" Empat orang pria tiba-tiba datang menghampiri kami yang sebelumnya satu di antara mereka memanggil Rehan. Seperti sebelumnya, Rehan kembali melepas Hearing Aid dan menyembunyikannya. Dia kemudian berdiri untuk berbicara dengan orang-orang itu. Aku pun ikut berdiri menyaksikan.
"Yang lo lepas dan lo sembunyiin itu Hearing Aid ya? Wah... Berarti bener dong kata orang kalau lo itu tuli," kata salah satu di antara mereka. Kemudian yang lain menambahkan, memanaskan situasi.
Mereka mengatakan semua yang mereka tahu tentang Rehan, termasuk kecelakaan yang membuatnya tuli dan tentang ibunya. Rehan mengalami kecelakaan dua tahun lalu. Orang yang menabraknya tidak lain adalah calon suami ibunya yang kala itu sedang menikmati kencan bersama ibunya. Namun, ibu Rehan tidak segera turun untuk menolong Rehan yang terkulai lemas di jalan. Ibu Rehan hanya menyaksikan orang-orang menolong anaknya itu dari dalam mobil dan tidak melakukan apa-apa.
"Yang gue bilang ini bener kan, Headphone Man?" ejek salah satu di antara mereka.
Kepalan tangan dan tatapan matanya saat ini memperlihatkan bahwa dia seperti ingin meluapkan amarahnya kepada orang-orang yang mengungkit masa lalunya itu. Sementara mereka tetap tidak berhenti bicara. Mereka kemudian meminta Rehan untuk mengatakan bahwa lagu yang dinyanyikan olehnya tadi bukanlah lagunya, melainkan lagu milik grup mereka. Mereka mengancam akan membeberkan rahasia Rehan yang diam-diam menggunakan Hearing Aid jika dia tidak menuruti perintah mereka itu.
Rehan yang mengetahui ancaman itu tersenyum dan merenggangkan kepalannya kemudian berkata, "Gue emang tuli, tapi setidaknya gue gak seperti kalian yang hanya modal mengancam." Pria ini dengan mantap mengucapkannya. Dia juga mengatakan bahwa mereka tidak perlu repot-repot, dia sendiri yang akan memberitahu dunia tentang penyakitnya.
Rehan kemudian mengambil gitarnya dan menarik tanganku, membawaku pergi meninggalkan mereka yang dibuatnya bengong itu.
-The End-
YOU ARE READING
Headphone Man
RandomRehan, pria yang membuatku kagum karena semangatnya itu dipanggil "Headphone Man" oleh teman-temannya. Dia mendapat julukan itu karena hampir setiap hari tak pernah lepas dari benda bernama headphone. Bukan karena hobinya mendengarkan musik, melaink...
