Chapter 5

220 16 2
                                    

"Belum ku pikirkan" Sehun mengulurkan tangan keatas untuk mengambil cangkir dan tatakanya sari dalam lemari. Saat itu ia menjadi sadar akan beberapa hal sekaligus, betapa berakan mengangkat tangan itu membuat buah dadanya semaki tercetak pada kausnya, betapa pendek dan sempitnya celana pendeknya, dan betapa enaknya harum Kim Kai. Kulit lelaki itu sabun dan aftershave beraroma rempah-rempah. Mulutnya pasti terasa seperti papermint.

Melarangmya untuk merasakannya, tapi -

88 Indigo Place
.

Pair: Kaihun

Warning ff ini berungsur GS

.

.

Disini saya hanya meremake cerita ini, dan cerita saya

Angkat dari novel karangan 'Sandra Brown'

Happy Reading
~oOOo~

"Apanya bagaimana?" Sehun mengisi dua cangkir kopi sebaik-baiknya, walaupun kedua tangannya bergetaran. Sebelumnya ia selalu memaki dapur ini karna terlalu besar sehingga memerlukan waktu saat mengambil sesuatu. Dalam beberpa menit terakhir, kelihatannya dapur itu telah menyusut derastis.

"peralatan masaknya. Terima kasih," sahut Kai. Diambilnya salah satu cangkir berikut tanganya dari tangan Sehun.

"Oh, well, kurasa akan kutinggal. Barang-barang ini sudah ada sejak dapur ini direnovasi dan dimodernisasi. Aku pasti tak akan banyak menggunakannyadan jika dijual mungkin tak akan banyak menghasilkan. Krim atau gula?"

"Tidak, Terima kasih." Kai meminum kopinya

"kau akan pergi kemana?"

Pandangan Sehun mengikuti uap yang mengepul dari cangkir kopi nya. Dan akhirnya bertemu cdengan tatapan Kai. "Pergi? Kapan?."

"Setelah Rumahmu dijual."

"Ke tempat lain," jawab Sehun.

Selama beberapa detik mereka saling bertatapan. Sehun-lah yang berpaling lebih dulu.

"seperti yang kulihat, semua peralatan masak dalam kondisi yang baik dan sempurna untuk dipergunakan."

Kai meneliti semuanya dengan sangat cermat. Memang sehun jauh lebih suka lelaki itu mengamati rumah dan perabotannya daripada mengati dirinya, tetapi ketelitian Kai terasa mengerikan dan menjengkelkan. Kai menemukan serpihan pada sambungan ubin untuk mengambilnya dengan kuku jari telunjuk.

"Itu hanya plesteran yang terlepas," Kata Sehun tak sabar.

"Aku tahu. Aku dapat memperbaikinya sendiri." Kai menatap dada Sehun, tanpa menyembunyikan rasa terposannya. Pandangannya terpaku disana selama beberpa saat.

Sebelum merambat lagi keatas, kewajah Sehun. "Tangan ku sangat terampil." Sehun terpikat oleh tatap tajam berwarna cokelat itu beberapa lama, lalu berpaling marah. "Aku bertarung pasti seperti itu", Pikirnya pedas.

Walapun lidahnya seperti terbakar, Sehun menghabiskan secangkir kopinya sekali teggukan besar. Lalu ia meletakkan cangkir dan tatakannya dimeja dapur dengan jantung berdebar kencang. Ia tak menginginkan Kai disini. Lelaki ini mengusuik ketenangannya, membuatnya gugup serta bersikap defensif.
Namun ia tak dapat mangusir lelaki ini begitu saja. Dia klein Suho Nona. Satu-satunya pilihannya bagi Sehun adalah mengakhiri urusan mereka sesegera mungkinn

"Apa yang ingin kaulihat?"
Kai menyilangkan kakinya, menyandarkan pinggulnya kemeja dapur seraya meneguk kopinya perlahan-lahan, sementara matanya terpaku pada Sehun "Sejauh ini aku belum melihat banyak.

88 Indigo PlaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang