part 1

104 4 0
                                        

.........
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, rombongan datang dengan membawa bingkisan. Bajunya bagus, wangi dan indah. Terpancar kebahagiaanya. Kami menyambutnya dengan senyuman indah, menerima bingkisan dan mempersilahkan duduk pada tempat yang telah disediakan. Seseorang menyampaikan maksud kedatangannya ia pamannya, bersembunyilah seorang lelaki gagah dan tinggi dibalik pamannya dengan hati tak karuan. Tertawa dan tegang bercampur pada acara dipagi hari ini. Kecuali aku, yang masih berdiam diri didalam kamar, mempersiapkan diri menyambut orang-orang dan mempercantik diri. Waktu terus berjalan dan obrolan semakin menegang dengan siraman tawa yang membahagiakan. Aku, memberanikan diri keluar dari kamar. Semua orang menatapku dengan rasa iba dan menampakkan setengah kebahagiaanya. "Kenapa??" Aku terheran dalam hatiku . "Bukankah seharusnya semua orang berbahagia?? Bukankan ini yang diharapkan dan ditunggu-tunggu? Kedatangan orang asing berserta rombongannya?" aku masih saja banyak bertanya pada hatiku. Tetapi seharusnya aku tak banyak prasangka, kebahagian ini yang seharusnya aku nikmati. Aku berjalan dengan senyum yang tak aku sudahi, seseorang menatapku dan berkata " kenapa disini?, sabar ya " senyumku mulai menurun, aku membalikkan wajahku. Dan meneteskan air mata. Orang yang berlalu lalang saat itu, melihat aku menangis. Tetapi tak satupun meredakan ku mereka hanya tersenyum padaku. Rasanya tak sanggup dan tak percaya melihat semua ini. Semua orang berlalu lalang didepanku tiada henti, tangisku mulai tak bisa ku kendalikan. Aku putuskan untuk berdiam diri didalam kamar mandi menyudahi air mata yang tak kunjung berhenti. Beberapa kali orang-orang memanggilku, aku mendengar itu dari dalam kamar mandi. Aku ceritakan bahwa aku sedang mules, tetapi sebenarnya itu adalah sebuah alasan agar aku tak terlihat menangis dan tak melihat senyuman palsu mereka padaku.
Maksud dan tujuannya sudah selesai dilaksanakan, kami berbicara seputar waktu yang tepat untuk menyelengarakannya. Tetapi aku masih tidak percaya harus menangis karena apa. Semua orang nampaknya membiarkan aku menangis.
Rombongan pamit untuk kembali kerumahnya, mereka sudah keyang dengan hidangan yang kami suguhkan dan pulang dengan kebahagian yang terpancar pada wajahnya. Waktunya untuk kami menikmati hidangan kami sendiri, sembari berbicara manis dan mendengarkan perkataan beberapa orang yang menyentil dengan ejekan khasnya.

Qulubun Onde histórias criam vida. Descubra agora