Ketika itu juga, aku mendapati sebuah mimpi... sebuah mimpi dimana aku melihat diriku sendiri... tersungkur tak berdaya. Tidak ada tanda kehidupan pada diriku yang tergolek di sana. Sempat aku bertanya mengapa pemandangan menakutkan ini gagal membuat hatiku tergerak.
Dalam beberapa saat, aku menyadari waktu tengah berhenti. Suasana sekitar menggelap hingga perlahan secercah cahaya muncul di hadapanku. Dan dengan gema suaranya, ia berbisik mengatakan sesuatu kepadaku. Sesuatu tentang memenuhi takdirku... atau entahlah. Pikiranku saat itu tengah kosong.
[Kau akan memenuhi takdirmu. Takdir dimana hanya kau yang dapat menentukannya sendiri...]
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya dan hanya mampu mengira. Menyadari ekspresiku yang tengah tenggelam dalam pikiran, sang cahaya seakan menggerutu dengan menghela nafas. Mendadak sinar cahayanya berpencar memenuhi ruang. Tanpa sadar aku bereaksi melindungi pandanganku yang dibutakan oleh terang cahayanya dengan kedua tanganku.
Saat ku membuka mata, pemandangan sekitarku kini telah berubah menjadi padang bunga nan luas. Sungguh pemandangan yang menakjubkan bernuansa indah di bawah langit biru cerah. Aku bisa melihat beberapa kupu-kupu menari bebas. Ku julurkan telunjukku perlahan, menanti satu dari mereka hinggap di ujung jariku. Senyum kecil terungkap di wajahku. Perasaan damai ini sungguh merupakan hal langka yang pernah kurasakan.
[Kehadiranmu sendiri memiliki potensi untuk merubah takdir dunia. Entah dampaknya akan menjadi lebih baik...]
Sembari ia berkata, perlahan suasana sekitar bertransisi menjadi ladang tandus gersang dengan mayat berbagai makhluk hidup bertebaran di bawah langit merah kelam.
[... atau lebih buruk.]
Seiring sang cahaya lanjut berkata, kupu-kupu di ujung jariku berubah menjadi butiran debu yang tertiup angin seketika. Kekecewaan memenuhi rasa di hati. Apakah dia yang melakukan semua ini? Apa yang ingin ia capai? Hatiku bertanya dengan pandanganku kembali pada sang cahaya.
[Kau memiliki kekuatan untuk menentukan takdirmu sendiri. Aku tidak tahu akhir seperti apa yang akan kau tuju. Yang dapatku perbuat hanyalah memastikan agar kau tidak mati sebelum kau memenuhi tanggung jawabmu.]
Seketika suasana kembali dipenuhi gemerlap cahaya. Sekali lagi pandanganku berhasil dibutakan oleh terang cahayanya. Dan sekali lagi aku berakhir di tempat baru. Sebuah ruang di mana aku dapat melihat berbagai cuplikan kenanganku dari sudut pandang berbeda.
Mungkinkah ia memberiku waktu untuk mengenang masa lalu? Aku mengambil kesempatan tersebut dengan melihat kembali cuplikan kenanganku... melihat kembali kebodohan yang telah ku lalui...
[Aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu saja. Karena itu, aku akan mengembalikan waktumu pada saat di mana kau membuat pilihan.]
Tanpa mempedulikan apa yang dikatakannya, pikiranku berlanjut tenggelam dalam kenangan diambang nostalgia.
[Kuharap kau mengerti... karena ini akan cukup menyakitkan...]
Meski ia mengucapkannya dengan nada datar, entah mengapa aku merasakan keraguan dalam perkataannya. Tanpa sempat ku pertanyakan apa yang ia maksud, mendadak nafasku menjadi sesak dan tubuhku terasa berat.
[Pastikan kau tetap hidup...]
Dan saat itu juga suasana menjadi gelap... sangat gelap dan dingin...
***
Dan ketika aku membuka mataku, aku melihat laki-laki itu berdiri di sana, memandangku dengan pandangan... terkejut...? Aku tidak mengerti mengapa ia kemudian memalingkan wajahnya.
YOU ARE READING
Calico
FantasyKisah ini mengambil konsep dan setting dunia dari sebuah game berjudul Elona (Eternal League of Nefia). Irva adalah sebuah dunia dengan sejarah panjang yang kini telah menjejaki era ke 11, Sierre Terre, yang di kenal sebagai masa yang paling kacau s...
