Prolog

348 41 30
                                        

December 2018

Cleosa meringkuk dan memeluk tubuhnya di lantai rumah sakit itu. Tangisnya makin keras seiring di padatinya ruangan dibelakang nya oleh para perawat dan dokter yang kini panik. Ia merasa sesak didalam tangisnya. Suara di sekeliling nya begitu ramai oleh langkah kaki yang berlarian di koridor dan seruan perawat satu dengan yang lain nya.

Hancur. Hatinya terasa hancur remuk. Ia tak dapat lagi menahan segala emosi dan rasa sakit ini. Dunia sekelilingnya terasa buram dan berputar.

Tidak. Aku harus tetap kuat.

Ia berusaha bangkit. Menopang tubuhnya ke dinding, namun tubuhnya begitu lemah sehingga Ia terjatuh dan terjatuh lagi. Ia terduduk disana. Bersandar pada dinding pucat itu. Tangisnya begitu parau. Air matanya berlinang deras tanpa henti. Dalam hatinya Ia terus berteriak.

No no no no. You can't do this to me!

Ia menjambak rambutnya frustasi. Bibirnya tak henti menyuarakan namanya. Berharap Ia bisa mendengarnya. Berharap Ia bisa datang menghampiri Cleosa, memeluk erat dan mengelus rambutnya sambil berbisik pelan di telinganya "I'm here baby, I'm here"

Seketika pandangan nya kabur, kepala nya terasa pusing tak tertahankan dan semuanya gelap. Gelap. Ia bisa merasakan kepalanya menghantam lantai dan pipinya bersentuhan dengan benda dingin itu. Matanya masih basah oleh air mata. Lalu tiba-tiba ia mendengar sayup-sayup suara laki-laki memanggil namanya. Benarkah itu... Dia? Ingin dibuka nya kedua mata itu namuh tubuhnya tidak lagi memiliki energi untuk melakukan apapun. Kemudian dua tangan yang besar menggapai tubuhnya. Memegang erat bahunya lalu menarik Cleosa dari lantai dingin itu ke pelukannya sambil mengusap wajah Cleosa dan menyebut namanya. Cleosa merasa hangat. Setitik harapan muncul di benaknya. Mungkin kah Dia?

Dear Rain, Bring Him Back.Stories to obsess over. Discover now