Spesial give to : novelynshania
Aku hanya menatapmu dari kejauhan, dan berharap kau akan melihatku.
Ya! Diriku, diriku yang hanyalah seorang gadis lugu dan mengagumimu dalam kesunyian.
.
.
.
Shania POV
Aku menyukai seseorang.
Seseorang yang aku dambakan saat aku pertama kali melihatnya. Aku selalu menatapnya, berusaha meraihnya. Tapi aku sadar, aku tidak pernah mampu untuk mendapatkannya.
Seseorang yang aku kagumi, yang hanya bisa berbicara denganku melalui pesan belaka.
Selalu aku yang berjuang. Berjuang mendapatkan kontaknya, berjuang untuk lebih mengenalnya, berjuang untuk meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu kurasa.
Tapi ada daya, dia tidak akan pernah melihatku. Dia tidak akan pernah menatapku, dia tidak akan pernah menganggap diriku ada.
"Dan, oper bolanya Dan!"
Saat ini aku tengah melihatnya bermain futsal. Olahraga yang selalu dia senangi, dan bisa membanggakan sekolah dengan permainannya yang menakjubkan itu.
"Aduh! Ah, sakit!"
Aku terkejut melihatnya merintih kesakitan. Sudah banyak anak-anak yang mengerubunginya untuk melihat kondisinya. Tanpa sadar setetes air bening lolos dari kelopak mataku.
"Shan, itu Daniel. Dia jatoh habis salto tadi," ujar Gracia temanku.
Aku hanya diam terpaku melihatnya dibopong dan segera dibawa ke rumah sakit. Aku memang hanya bisa melihatnya, tanpa bisa menunjukkan kepedulianku padanya.
"We Shan, lo kenapa?" kata Gracia.
"Alah, paling juga baper doang gara-gara liat kak Daniel kayak gitu. Lo sampe nangis liat dia kayak gitu, cemen banget sih lo! Inget ya, lo tuh gak pernah pantes untuk dia Shan," ujar Tere.
Aku masih tetap diam dan hanya berjalan lemah menuju tempat dudukku. Aku menangkupkan kepalaku di atas meja dan bayang-bayangnya lah yang selalu aku lihat.
Aku memang selalu menjadi bahan bully-an di kelas. Aku juga anak pertama dari empat bersaudara. Aku selalu yang disuruh dengan orang tua dan harus menjaga adik-adikku.
"We Shan, gua liat PR fisika lo dong," ujar Gracia.
"Hm."
"Di mana?"
"Itu di situ, lo gak liat apa!"
"Biasa aja geh mbak."
Aku kembali menangkupkan wajahku di meja, rasanya pusing menjalani hidup yang seperti ini terus. Terkadang aku lebih suka untuk sendirian dan membuang jauh-jauh rasa sayangku kepada orang lain.
"Daniel tangannya patah Shan," temanku memberitahu.
"Kok bisa? Gara-gara yang tadi?"
"Iyalah!"
Aku kembali lemas mendengarnya, tapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.
Bayangkan, saat kamu menyukai seseorang dan kamu peduli padanya, tapi tidak ada seorang pun yang menginginkan dirimu berada di dekatnya. Menyedihkan bukan?
***
Aku menyukai seseorang. Dia adalah Daniel Deardy, seorang kakak kelas yang aku kagumi sejak saat aku masuk ke sekolah dan tanpa sengaja mataku selalu melihat kearahnya.
YOU ARE READING
Unconditionally
Short StoryBagaimana rasanya saat kita mencintai seseorang dengan sangat tulus, tetapi orang itu malah justru tidak menerima dan membenci kita? Apakah kita salah mencintai seseorang dengan tulus? Mungkin saat kita mengagumi seseorang kita hanya dapat melihatn...
