Aku menatap jendela kamarku. Hujan membasahi bagian luar dari jendelaku. Aku merasakan kehampaan. Entahlah, semenjak kepergiannya, menatap hujan menjadi begitu menyakitkan. Tak seharusnya aku agresif ketika mendekatinya, kalau tahu akan berakhir semenyakitkan ini. Bila tahu kalau hujan yang selalu kutunggu-tunggu, justru akan terasa begitu menyakitkan sekarang.
Tanpa kusadari, air mataku telah mengalir di pipiku. Aku buru-buru mengusapnya ketika seseorang mengetuk pintu.
"Raina, ayo turun ke bawah untuk makan sore. Bi Imah sudah membuatkan sup ayam kesukaanmu," suara itu terdengar begitu khawatir. Jelas saja sih, karena sejak 3 hari yang lalu aku sudah menolak untuk menelan apa pun. Kecuali air. Yeah, nafsu makanku hilang total.
Aku hanya diam, tidak menjawab. Tetap menatap hujan di luar jendela. Menurut kalian, apakah wajar bila seorang murid jatuh cinta kepada gurunya? Kalau cinta itu tidak memandang usia dan status, lalu mengapa? Mengapa semua ini justru berakhir begitu menyakitkan?
Aku mengambil obat tidur di samping ranjangku, menelannya beberapa, lalu segera membaringkan tubuhku. Biarlah, bila kali ini aku tak dapat lagi terbangun dari tidurku, biarlah aku tetap tertidur selamanya dalam keadaan mencintainya …
---
Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengenal cinta. Aku tak tahu apakah dia mencintaiku atau tidak. Ataukah ia hanya main-main? Aku tak tahu. Aku tak mengerti hingga saat ini. Perlakuannya kepadaku, semuanya membuatku memiliki perasaan ini sekarang. Perasaan yang membuatku begitu sesak. Hingga akhirnya tak tertahankan dan terucap di bawah derasnya hujan yang mengguyur kota Bandung.
"Raina belum makan?" tanyanya sambil menatapku.
"Emh, belum."
"Makan, yuk! Biar saya yang bayar."
"Eh, tapi ..," belum sempat kuselesaikan kalimatku, ia telah menarik tangaku.
"Gak usah tapi, tapian," ia tersenyum padaku. Aku hanya diam, mengikuti langkahnya. Ia meraih payung, hujan deras mengguyur Bandung ketika itu.
"Nasi goreng dua, ya, Mang. Raina mau pakai telur?"
"Nggak usah."
Kami duduk berhadapan, lalu ia memulai percakapan yang hangat di tengah udara yang dingin karena hujan. Bertanya berbagai hal, yang hanya kujawab seperlunya. Entahlah, aku merasa begitu canggung, kaku. Sedangkan ia dengan santai berbicara. Menceritakan beberapa pengalamannya. Semua detail tentang percakapan, kejadian-kejadian itu tak pernah kulupakan. Atau lebih tepatnya aku tidak bisa lupa.
Semua itu karena aku menderita hyperthymesia. Keadaan itu membuatku dapat mengingat seluruh detail kejadian sejak kecil. Semua, tanpa terkecuali.
Aku ingat bagaimana dia makan begitu lahap dan aku malu-malu mulai menyantap makananku.
"Enak,'kan Rain? Lain kali makan bareng lagi, ya?" katanya sambil menyerahkan sejumlah uang kepada si penjual.
"I-iya. Umh, saya izin pulang duluan, ya?" Ketika itu, hujan sudah reda, menyisakan jalanan becek, daun-daun pohon yang basah, dan udara yang dingin.
Ia mengangguk, tapi kemudian bertanya,"Kau butuh payung?"
Aku menggeleng, tapi sepertinya ia mengerti kalau diriku kedinginan. Ia melepas jaket di tubuhnya, memakaikannya di tubuhku. Ia tersenyum, lalu berbalik, berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Kupikir, aku akan mengembalikan jaketnya besok, namun aku tak pernah tahu itulah pertemuan terakhir kami. Aku tak memiliki perasaan apa pun padanya ketika itu. Aku masih benar-benar kecil untuk mengerti apa itu cinta.
YOU ARE READING
Hujan [4/4 END]
Short StoryAku dahulu begitu menanti hujan, hingga akhirnya hujan membuatku merasa begitu sakit. Hingga menatap hujan membuatku frustasi. Apakah salah bila aku mencintainya? Jika cinta tak melihat usia lalu kenapa, mengapa cinta ini menjadi begitu menyakitkan...
![Hujan [4/4 END]](https://img.wattpad.com/cover/86762415-64-k163545.jpg)