1. Mother Days

257 15 0
                                        

Suara ayam berkokok telah membangunkan Chindai yang masih meringkuk di dalam selimut tebalnya. Ia menyingkap selimutnya dengan kasar, dan menutup telinga kuat-kuat.

"Huanjir tuh ayam, pengen gue gorok kali ya," teriak Chindai masih dengan mata terpejam. Dengan sedikit malas, ia membuka matanya perlahan, dan mengerjapkannya berkali-kali, sekedar ingin mengumpulkan nyawanya yang masih setengah-setengah. Silau, itulah yang ia rasakan saat pertama kali membuka matanya, seberkas cahaya yang meyelinap dicelah gorden kamarnya membuat matanya harus kembali beradaptasi. Ia mengambil kalender yang ada di sampingnya, tanggal 22 Desember. Seketika raut wajahnya yang tadi kesal berubah menjadi riang kembali. Dengan gerakan cepat ia segera menyambar handuknya dan pergi begitu saja untuk membersihkan badannya.

Tak butuh waktu yang lama untuk membersihkan badanya. Mungkin hanya 15 menit saja. Kini, Chindai sudah siap dengan penampilannya. Kaos oblong bergambar doraemon, celana jeans selutut, dan sepatu olah raga kesayangannya. Tak lupa juga ia memakai topi sebagai pelengkap penampilannya. Setelah ia yakini bahwa dirinya sudah rapi, segera ia turun ke bawah untuk menemui mama dan kakak kesayangannya.

"Selamat pagi, Ma! Happy mother's day" sapa gadis cantik menghampiri sang Mama seraya mencium kedua pipinya dan memberikan kotak kecil yang sudah ia bungkus dengan kertas kado secara rapi. Chindai berdecak kesal melihat pandangaan itu, lagi-lagi ia kalah cepat dengan Kakaknya. Dengan malas ia hampiri Kakaknya dan mengecup pipinya dengan sayang.

"Selamat pagi, Kakak!"

"Pagi Adek!"

"Pagi, Ma. Happy mother's day!" sapa Chindai beralih ingin mengecup pipi sang Mama. Namun, ia malah menghindar dari kecupan Chindai.

"Jangan banyak tingkah, dan cepat sarapan!" sergahnya bernada sinis. Chindai terpaku mendengar ucapan sang Mama. Hampir saja ia mengeluarkan air mata kalau saja Chelsea tak memanggilnya.

"Rapi banget, Ndai. Mau kemana?" tanya Chelsea kepada adik semata wayangnya seraya menyodorkan roti yang sudah ia oleskan dengan selai coklat kesukaan Chindai. Dengan senang hati Chindai menerima roti itu dan tersenyum manis. Dalam hati ia bersyukur, karena masih ada orang di sekitarnya yang selalu sayang kepadanya, seperti kakaknya ini, Chindai tahu ia adalah gadis yang nakal, dan mungkin itu alasan kenapa mamanya lebih menyayangi kakaknya daripada dirinya.

"Jalan," jawab Chindai singkat.

"Ya udah. Nanti kalau pulang jangan sore-sore ya, Ndai!" ujar Chelsea mengingatkan Chindai. Chindai tersenyum sinis mendengar kakaknya bertutur seperti itu, ia tepuk pundak sang Kakak dengan senyum yang meremehkan.

"Kakak tenang aja, gue pulangnya nggak bakalan sore kok. Paling-paling tengah malam. Percuma juga kan gue di rumah. Yang ada gue hanya dianggap angin lewat sama tuh orang," ujar Chindai melihat mamanya dengan tatapan meremehkan.

"Jaga bicara kamu Chindai. Dasar anak nggak tahu diri," ujar Mama Chindai menggebrak meja makan dengan keras. Membuat Chindai semakin gencar untuk membuat Mamanya marah.

"Anak nggak tahu diri? Anaknya siapa? Yang ngajarin juga siapa?" sinisnya, tersenyum miring.

"CHINDAI, jangan pernah kurang ajar sama Mama!" bentak Chelsea kepada Chindai. Sungguh, Chelsea tidak terima jika mamanya dibentak oleh siapa pun, meskipun itu adik kesayangannya sekalipun.

"Apa? Lo belain dia? Haha. Emang lo berdua sama aja. Gue di sini cuma benalu buat kalian. Maaf kalau selama ini gue selalu nyusahin kalian," ujar Chindai melangkah menjauhi mereka, sebelum itu Chindai terlebih dahulu memecahkan piring yang ada di meja makan. Lalu pergi entah ke mana.

"Chindai hentikan, dasar anak kurang ajar," teriak mama Chindai ketika mengetahui Chindai memecahkan guci kesayangannya.

"Lihat itu, Chels, kelakuan adik kamu bener-bener bikin Mama pengin cepat-cepat mati," ujar Mama Chelsea kembali duduk di kursi seraya memijat-mijat keningnya yang terasa sedikit pusing.

"Udah ya, Ma. Jangan difikirin lagi. Aku yakin Chindai pasti lagi emosi," tenang Chelsea mengusap-usap kedua pundak mamanya.

* * *

Di sinilah Chindai. Di tempat yang selalu membuatnya merasakan kedamaian dalam hatinya, tempat yang selalu membuat hatinya teduh, tenang , dan damai. Tak akan pernah ada yang mengganggunya dan inilah rumah kedua bagi Chindai. Taman.
Chindai duduk beralaskan rumput, dengan memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya di sela kedua lututnya. Nyaman, itulah yang Chindai rasakan saat ini. Ia merasa nyaman jika berada di tempat ini, selain jauh dari keramaian di sini juga banya bunga melati kesukaannya. Ah, indah sekali.

"Pasti berantem lagi sama mamanya," ujar seorang pria menghampiri Chindai. Chindai masih terdiam, tak ingin bergerak sedikitpun. Toh, ia sudah hafal betul dengan suara itu, suara yang dua tahun belakangan ini telah menjadi teman hidupnya.

TBC.

2 Oktober 2016

Mohon kritik dan saranya ya!😊

What's Wrong?Where stories live. Discover now