Gila dan Orang-orang Gila 1

33 1 1
                                        

Gila. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gila diidentifikasikan dengan terganggunya saraf atau ketidaknormalan pikiran. Hal ini bisa disebabkan oleh tekanan yang memicu tingkat stres melebihi ambang batas. Dengan mengandalkan definisi tersebut, maka tak heran orang-orang menyebut Alex sebagai orang gila.

"Lihat Alex, tiap ngantor penampilannya amburadul. Tidak pernah rapi. Mirip kayak orang gila."

Well, apa salahnya celana jeans, kemeja, yang dipadupadankan dengan sneakers? Toh menurut Alex apa yang dikenakannya itu semua sangat fungsional. Nyaman dan bebas bergerak. Rok mini, blazer ketat dan dandanan menor bukan gayanya. Karena Alex bekerja di bidang kreatif. Alex tidak menjual dirinya, tapi ide yang ada dikepalanya.

Tapi sayang, wanita jaman sekarang tak lagi mementingkan isi kepala. Karena kepalanya hanya terisi dengan pencitraan. Oleh karena itu, hanya sekedar fungsional saja tidak cukup, haruslah menjadi sensasional juga. Tidak bisa disalahkan. Karena mayoritas kaum adam beserta lingkungannya justru mendukung dan membenarkan pola pikir itu. Sangat mainstream.

"Hanya orang gila yang gak punya ambisi. Dan itu elo, Lex."

Salah. Selama ini Alex memang sangat cuek dan santai menghadapi tuntutan kerja. Dan itu tak lantas menjadikan Alex tidak berambisi. Karena ambisi passionnya dalam bekerja adalah menghasilkan karya yang bermutu. Bukan melulu tentang besarnya sallary ataupun sederet angka dalam buku rekening.

"Jangan jadi orang gila yang gak berotak, Lex!"

Otak diciptakan Tuhan untuk berfikir, menggali dan menelurkan ide, mencari solusi. Kalaupun otak berkembang menjadi lebih rumit, manusianya aja yang terlalu memaksakannya. Manusia yang memaksanya untuk mencari jalan pintas, atau bahkan terkadang mempersulit dirinya sendiri. Memikirkan untuk mencari lebih dan lebih.

**

Alex melihat sekeliling. Alex pikir sekelilingnyalah yang gila. Bukan dirinya!

Ada Ardi. Dimata umum dia dinilai biasa. Seorang pekerja yang gigih. Dia berambisi di usianya yang muda, dia ingin menaiki tangga karier. Dari seorang pekerja paruh waktu, dia kemudian diangkat menjadi pekerja tetap. Tapi tak ingin berhenti sampai di situ. Ardi ingin menjadi pemimpin di timnya. Karena menurutnya, tim penjualan membutuhkan seorang leader untuk mengoptimalkan target penjualan.

Waktu delapan jam kerja tak cukup untuknya. Menciptakan rencana kerja beserta target pasarnya. Memaksa otak dan tubuhnya menghadapi tuntutan kerja yang tak ada habisnya. Itu demi target ambisinya. Tak salah memang. Toh sekarang dengan kerja kerasnya itu Ardi dipromosikan menjadi Supervisor di tim Pengembangan.

"Woi, udah malam. Lu gak pulang Di?" tanya Alex suatu waktu saat melihat Ardi masih saja berkutat dengan komputer dan berbagai diagram di ruangannya.

"Tar lagi deh, Lex, nanggung. Lu duluan aja."

"Halah, kalo nurutin kerjaan, kagak pernah habis kali, Di. Pulang aja yuk, gue nebeng hehehehe..."

"Kalo gue sesantai elu, bisa-bisa tender PT. Mulia kagak pernah menghiasi portofolio kinerja gue."

Alex hanya mengangkat bahu. "Terserah lu deh. Yang jelas, gue ogah ngabisin masa muda gue di kurungan yang disebut gedung perkantoran ini."

"Orang harus punya sedikit ambisi untuk memperbaiki kehidupannya. Selagi ada kesempatan dan nyiptain peluang untuk sampai ke atas, kenapa tidak?"

"Selagi kita bisa memanagemen waktu dengan baik, semua kerjaan dalam ambisi yang lu maksud itu bisa kok kita raih tanpa ngorbanin kesengan masa muda, hahaha..."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 20, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AlexandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang