Ran

609 24 5
                                        

"Aishhhhiiittttt..." Ran menggumam saat berhenti di depan kamar hotelnya. Bulu romanya meremang dan dia merasakan aura dingin keluar dari sela-sela pintu. Ran rasanya ingin menangis jejeritan. Walaupun bukan yang pertama kali, tetap saja dia malas berurusan makhluk-makhluk dunia lain yang dapat dilihatnya tanpa izin.

Yess... Ran bukanlah 'orang biasa'. Dia bisa melihat hantu. Terkadang bukan hanya melihat saja, tapi dia sering diganggu dan dimintai tolong para arwah penasaran. Tapi yang paling bikin dia stres adalah saat-saat harus bekerja di luar kota seperti ini dan menginap di hotel budget yang dipesankan oleh tim purchasing kantor. Kalau lagi hoki sih bisa dapat hotel budget dengan aura bagus, tapi kalo lagi apes ya kayak sekarang ini. Duh... Kirana malas banget untuk masuk ke kamar.

Tegangan cinta tak dapat dihindar lagi kala ku coba menyapamu Astuti!!!

"Astaghfirullohaladziiimmm!!!" Ran menjerit kaget karena ponselnya tiba-tiba berbunyi dengan nyaring. Ia merogoh hapenya dari tas selempang mungilnya dan mengusap layar ponselnya, menerima panggilan. "Ringtone elo tuh yaa! Bikin kaget aja tau nggak???" Omelnya dengan suara tertahan begitu menempelkan ponsel ke telinga.

Seseorang diseberang telepon tertawa renyah. "Lagian siapa suruh masang ringtone lagu dangdut begitu? Apa coba?"

"Ya kan biar gue langsung tahu kalo itu telepon dari elo, jadi kalo gue males ngomong sama elo nggak akan gue angkat! Dasar Astuti!"

"Dih, elo kayak anak SD ah mainnya ledek-ledekkan nama orangtua! Beno. Nama gue Beno! Ejaannya B- "

"Stop! Stop! Stop!" Potong Ran. "Elo dimana Ben?"

"Ih itu kan yang mau gue tanyain ke lo. Gue di kamar, nih. Elo udah nyampe kamar belom?"

"Errr - Udah, sih."

"Okay, then. See you in the morning."

"Gue boleh main ke kamar lo nggak?" tanya Ran cepat-cepat sebelum Beno menutup teleponnya.

"Waahh... Bolehlaaah... Mau nginep disini juga boleh banget. Masih muat kok kasurnya."

"Najong! Kamar berapa lo?"

"619."

"Oke. Tunggu depan lift sekarang!"

"Kenapa depan lift, dah? Tar juga lo bisa nge-bell."

"Jangan banyak tanya, ah! Buruan! Move your ass, lazy ass!"

"Ish~ Iye iye... Bawel."

Ran mematikan ponselnya dan berjalan cepat menuju lift. Sambil menarik napas dia menekan tombol lift ke atas. Dia melirik jam tangannya dan mengumpat.

Damn jam 12.17 pagi. Ya Allah plis, Aku mau tidur tenang malam ini. Plis plis plis...

Ran memejamkan matanya dan membukanya perlahan begitu pintu lift terbuka di depannya. Kosong. Ran menghela napas lega dan melangkah masuk. Buru-buru dia menekan angka 6 di tombol yang berderet di dinding lift. Pintu lift pun tertutup.

"Goddamit!!!!" Ran berteriak kaget. Karena sesosok makhluk dengan tubuh setengah gepeng masuk begitu pintu lift sudah hampir tertutup setengah. Wajah makhluk itu gepeng dan hancur setengah. Ran mendesah kesal dan memalingkan wajah dari makhluk itu. Mencoba mengabaikannya. Makhluk itu pun hanya bersandar di dinding lift seberangnya dan memelototinya. Ran sudah biasa dibeginikan oleh makhluk halus, tapi tetap saja dia masih merasa takut dan kesal.

Lift berhenti dan berdenting di lantai enam. Ran menekan tombol terbuka tapi pintu lift tidak bergeming. Ran mencoba lagi, tapi pintu lift masih tertutup rapat. Ran menarik napas kesal dan menoleh pada makhluk gepeng sebelah disebelahnya.

Every Love Story is A Ghost StoryStories to obsess over. Discover now