If I Meet you.

83 7 3
                                        

Pukul 03.00 dini hari.

Aku masih terfokus menatap laptop dihadapanku, dikamarku yang gelap. Hanya cahaya dari monitor laptop yang menyala sebagai satu satunya pancaran cahaya.

Beberapa kali aku menggaruk kepalaku yang gatal dengan ikatan rambut yang sudah sangat berantakan. Aku juga sudah beberapa kali menaikkan kacamata minus yang sering merosot turun dari pangkal hidungku.

Aku menggigit bibirku yang sudah terkelupas karena biasanya tanpa sadar aku menggigit bibirku terlalu kuat.

Tak henti hentinya aku menggumam dari apa yang kubaca di laptop. Aku sudah melakukan hal ini dari saat sore tadi, melewatkan makan malamku bahkan mengabaikan panggilan eomma.

Seperti ini setiap hari sejak 6 tahun lalu. Hanya untuk mencari tau tentang mereka. Ah tidak tepatnya seseorang dari mereka.

EXO

Apa kalian tau mereka? Boy band asal korea.

Yang sudah banyak terkenal hampir seantero dunia. Yang juga penggemar mereka tak kalah banyaknya. Penggemar yang sering mencari info info boyband itu.

Tapi kasusku berbeda.

Orang bilang aku adalah fanatik mereka. Orang bilang aku termasuk "sesang" yang terlalu terobsesi pada mereka.

Nyatanya mereka salah.

Aku hanya ingin mencari tau sesuatu. Mencari tau tentang hal yang belum terselesaikan yang menyangkut masa laluku.

Aku mencatat di notebook ku saat aku menemukan informasi yang kudapatkan. Lalu menutup laptopku. Ah aku sangat lelah.

Aku menghela nafas berat, lalu membaringkan tubuhku di kasur sembari menutup mataku yang sudah terasa sakit.

Lingkaran hitam di sekeliling mataku turut menghiasi wajahku yang sudah letih lesu ini.
Perlahan kantuk menguasaiku hingga aku terlelap.

Aku tersiksa.

Pada hal yang sebenarnya sederhana. Aku hanya ingin ia menatapku dari tempatnya di atas panggung dan menemukan jawaban yang meyakinkanku.

Aku hanya ingin itu. Sekali saja Cukup dari kejauhan. Karena jikalau aku bertemu dengan'nya' dari dekat, aku tau aku tak akan sanggup untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Dan hanya membuat luka lama terkelupas dan berdarah kembali.

Jika orang berkata aku hanya menghabiskan waktuku. Aku melakukan hal sia sia. Aku adalah sampah yang hanya membebani eomma dan appa.

Ya itu benar.

Tapi aku hanya butuh dia menatapku sekali. Sekali saja. Agar aku mendapatkan jawaban atas penantian sia siaku dulu yang masih terus berlanjut.

Aku mau dia menatapku dari tempatnya di panggung yang selalu di banjiri cahaya lampu sampai silau mata melihatnya. Dan mungkin silaunya cahaya itu sendiri telah menyilaukan matanya dalam melihatku sebagai kekelaman.

Dan sampai ia pun tak sadari kerapuhanku ini. Sampai sampai hanya aku yang terluka.

Aku... hatiku... berdarah.

Karena pria itu.

Karena janjinya yang kupegang yang akhirnya menjadi duri yang menusuk dan melukaiku. Aku berlebihan? Memang, aku sadari hal itu.

Tapi, sebelum hidupku berakhir kelam dan sepi. Hanya sampai ia menatapku dan aku menemukan jawabanku, aku ingin berjuang. Mempertahankan satu satunya hal yang bisa ku pertahankan. Bahkan hidupku sekalipun tak lagi kurasa berguna.

If I Meet YouHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora