"Apapun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada disana, menunggumu mengakui keberadaannya." — Winna Efendi, Remember When.
• • •
"REYYYYY!!" Aku berlari mengejar seseorang yang jauh berada di depanku, Rey. Dia menoleh sebentar ke arahku, lalu kembali berjalan dengan kecepatan yang ditambah.
"REY! Tungguin dong!" Aku menambah kecepatan lari ku menyusul Rey.
"Pagi, Rey!" sapaku sambil menggenggam lengannya.
Dia melepas headset-nya dan mendengus kesal kearahku, "Hm," jawabnya singkat sembari kembali memasang headsetnya.
"Cuek banget, sih. Nanti kegantenganmu hilang, lho," Aku menggodanya. Dia melotot ke arahku.
"Jangan ganggu. Gue mau belajar buat ulangan nanti," jawabnya kesal.
"Jahatnya," Aku memanyunkan bibirku, "Aku ke kelas dulu. Jangan kangen, ya! Istirahat nanti aku pasti ke kelasmu." aku tersenyum lebar lalu beranjak pergi meninggalkan Rey sebelum dia mengomeliku lebih lanjut.
• • •
"Pagi!" sapaku pada semua teman sekelasku.
"Pagi, La. Lo kelihatan bahagia hari ini." balas Reyna, teman sekelasku. Sekaligus sahabat terbaikku.
"Nggak perlu ditanyain lagi. Pasti dia ketemu Reyhan tadi pagi, apa gue salah?" sahut Derina, menggodaku.
Aku tersenyum lebar, "Seratus buat kamu, Derina!"
"Huh, gitu aja bahagia," gerutu Cilla. Sejak dari awal dia ini tidak menyukai rasa sukaku pada Rey. Dan aku tidak tahu apa alasannya. Mungkin dia menyukai Rey? Tapi tetap saja dia juga sahabat terbaikku.
"Yah, namanya juga cinta, Cil." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, tertawa kecil.
"Gue tau lo suka dia, tapi jangan berlebihan. Karena kalau lo ditolak dia, bisa-bisa lo patah hati, terus bunuh diri," jawabnya ketus.
"Duh, Cilla. Lo suka Reyhan, ya? Seharusnya lo dukung Seyla dong. Dia kan cinta mati sama Rey, haha," sahut Derina, membelaku.
"Terserah kalian, lah," Cilla membalikkan badannya, membuka asal buku pelajaran.
"Dia kenapa, sih?" tanya Reyna setengah berbisik.
"Lagi PMS, kali," Aku menebak dengan asal.
"Eh, by the way, lo semua udah ngerjain PR dari Bu Lia?" Reyna bertanya pada kami semua.
Aku mengernyitkan alis, "PR? PR yang mana?"
Belum sempat Reyna menjawab, Bu Lia masuk ke kelas dengan wajah galaknya. Bu Lia adalah salah satu guru paling killer disekolah ini.
Bu Lia menggebrak meja, "Kumpulkan PR yang ibu beri kemarin! Yang belum mengerjakan silahkan maju kedepan!"
Aku berdiri dengan kaki gemetaran, takut kalau saat aku menghampirinya, Bu Lia akan mengeluarkan pisau tajamnya.
"Seyla Aprilia. Kenapa kamu nggak mengerjakan PR dari ibu?!" tanya Bu Lia dengan suara tinggi.
"A-a-anu, saya lupa, Bu!" jawabku dengan suara gemetar.
YOU ARE READING
F L O W
Romance[SELESAI] Dalam hidup Seyla Aprilia, dia hanya ingin satu hal: Kembali ke masa saat semuanya baik-baik saja. cover by : @kamubiru Copyright ©2016 - All Rights Reserved, by Meeyrsaa.
