Anja sadar bahwa waktu tidak akan bisa bergerak mundur, meskipun itu adalah salah satu keinginannya saat ini. Yang bisa Anja lakukan saat ini hanya berdoa agar waktu dapat bergerak lebih lama, sehingga usianya tidak begitu cepat bertambah. Rasanya baru kemaren Anja dan Awa, sepupunya, berlarian hanya mengenakan celana dalam di belakang rumah mereka, bermain di genangan air hujan, membuat istana pasir, berfantasi menjadi sosok putri duyung, mematahkan leher boneka Barbie, dan masih banyak kenangan masa kecil lainnya. Namun malam ini mereka berdua harus berpakaian rapi serta berdandan cantik karena akan kedatangan tamu istimewa: calon suami Awa.
Anja merasa tidak rela. Awa sudah seperti belahan jiwanya, yang ke manapun tidak bisa berpisah. Mereka belajar di sekolah yang sama, kuliah di kampus yang sama, dan bekerja di perusahaan yang sama. Awa memang lebih tua setahun dibandingkan Anja, namun mereka mulai mengecam bangku pendidikan di tahun yang sama. Anja merupakan anak tunggal sedangkan Awa merupakan anak tertua dari tiga bersaudara dan hanya ia perempuan di antara saudaranya. Selama ini mereka saling melengkapi. Anja tidak pernah merasa membutuhkan seorang kakak ataupun adik karena Awa sudah memenuhi segalanya. Awa merasa begitu beruntung memiliki sepupu dengan usia terpaut tidak jauh yang bisa ia ajak main boneka, masak-masak, ataupun ke salon setelah mereka sama-sama beranjak dewasa.
"Anja jangan kelamaan dandannya!" Bunda sudah mulai mengomel dari setengah jam yang lalu. Seluruh keluarga termasuk Awa sudah duduk rapi di ruang tamu namun Anja belum juga keluar dari kamarnya.
"Anja nggak usah ikut, Bunda." Anja berteriak dengan nada memelas.
"Kok gitu? Kamu sekalian dapat pengalaman, bentar lagi juga giliran kamu. Ayo keluar." Ketukan Bunda semakin keras dan cepat, membuat Anja beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.
"Anja nggak mau punya nasib yang sama kaya Awa." Anja merengut, wajahnya bertekuk seribu.
"Seharusnya zaman sekarang ini kalian bersyukur kita masih ikutin tradisi. Kamu sendiri yang bilang sama Bunda kalau susah cari laki-laki baik. Semua pakai topeng. Hidung belang. Nah kalau dijodohkan, keluarga kita udah saling kenal, jelas latar belakangnya, pastinya laki-lakinya udah mapan dan siap jadi kepala rumah tangga." Bunda meraih tangan Anja dan menariknya keluar dari kamar.
"Udah kenal lama aja banyak tipu, Bunda. Apalagi baru kenal? Hidup laki-lakinya kan juga nggak dipingit, bisa ngerasain dunia luar, bisa liat cewek-cewek seksi, nonton ini itu, ke club malam, orangtuanya mana tau, Bundaaaa."
"Kalau dia udah mau nikah, tandanya udah siap ninggalin semua duniawi itu. Kalau udah liat istrinya pakai lingerie, mana ingat lagi sama cewek-cewek seksi di luar sana. Juga nggak perlu lagi nonton ini itu kalau udah bisa praktek langsung sama yang halal, pulang kerja langsung ke rumah karena istrinya udah masak makan malam, nggak butuh lagi club malam."
"Bunda ih!" Anja jadi malu sendiri mendengar ucapan Bundanya.
Saat mereka tiba di ruang tamu, perdebatan dihentikan. Anja bisa melihat dengan jelas wajah gugup Awa, juga matanya yang bengkak akibat menangis semalaman. Ingin sekali rasanya Anja menyelamatkan Awa dari situasi ini, membawanya lari mungkin, atau Anja bisa pura-pura sakit? Atau pura-pura kesurupan? Anja sudah memikirkan berbagai macam cara agar perjodohan Awa gagal, karena Anja tahu itu juga keinginan Awa. Jika perjodohan ini gagal, kemungkinan besar Anja juga bisa menghindari perjodohannya kelak.
"Mereka datang." Paman Her, ayahanda Awa terlihat begitu tenang saat rombongan keluarga calon suami anaknya itu masuk ke dalam rumah.
Anja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Awa. Ia tahu Awa sedang menahan napas, was-was ingin mengetahui seperti apa wujud calon suaminya itu. Raut wajah Awa seketika berubah bak bunga disirami air, begitu mekar merona dihiasi senyuman sumringah ketika salah satu dari tamu yang hadir mengatakan, "Ini Firas, calon suami Awa." Anja berpaling pada sumber suara, kemudian pada sosok yang ditunjuknya.
YOU ARE READING
Arranged
RomanceCerita tentang Anja, yang berjodoh dengan pria yang tidak dijodohkan dengannya, tentang Firas yang memilih jodohnya sendiri, tentang Awa yang selalu gagal dalam hal perjodohan. Bagi keluarga mereka, perjodohan adalah tradisi. Bagi Anja, perjodohan...
