1: Its Nice day

146 6 1
                                        

Hari pertama di SMA...

Aku mempersiapkan diri, hati, dan penampilanku dari rumah semenjak H-1. Kenapa? Biar bisa bisa move on dari sang mantan bernama Faza (mantan orang lain juga:'v).

Kebetulan kita beda sekolah :), aku semakin membulatkatkan tekadku untuk move on darinya. Namun, sialnya malah mantannya si Faza yang satu sekolah denganku -_-.

Pembagian kelas disusun secara acak oleh pihak sekolah dan setiap siswa harus mencari kelasnya masing-masing.

Setelah selesai upacara, semua siswa baru langsung berhamburan mencari kelasnya masing-masing.

Sedangkan aku? Masih menunggu di pinggir lapangan upacara sambil nyari organ (orang ganteng, karena cogan/cowok ganteng belum tentu orang:v), target buat dijadiin calon gebetan dan bisa melancarkan misi moveonku.

"Hei, Aska! Ngelamun aja lo! Nyari kelas yuk!" sapa dan ajak seseorang yang tak lain adalah Dellia tem se-smpku dulu.

"Yuk!"

"Ke kelas atas dulu yuk! Mumpung agak kosong tuh!" ajaknya sambil menunjuk kelas atas yang memang terlalu dikerumuni oleh manusia.

"Yuk! Aku pengen deh di kelas atas," ucapku tiba-tiba, untung aja Dellia gak bilang: emang siapa yang nanya?

"Kenapa? Cape tau! Harus bolak balik naek turun tangga tiap hari!"

"Enak aja gitu, bisa ngeexpose para organ yang berlalu lalang,"

"Hah? Organ? Organ yang suka ada di acara dangdutan itu?"

"Enak aja! Tau ah, susah ngomong sama orang yang gak ngerti move on?"

"Apaan lo bahas-bahas move on? Kayak yang pernah pacaran aja lo!"

Tanpa menghiraukan ucapan Dellia aku melarikan diri dari pertanyaan mematikan itu menuju papan pengumuman di depan kelas 10-1.

"Gue ada gak?" tanya Dellia yang sudah nongol di sampingku.

"Tuh absen 15!"

"Yah... Padahal lo yang pengin kelas atas, kok malah gue sih?" ucapnya sambil meratapi nasibnya.
"Jangan gitu, harusnya kamu bersyukur di kelas ini kamu bisa ngeexpose para organ," ucapku sambil menepuk bahunya dengan hati teriris mengingat akulah yang ingin di kelas atas :"v.

Tapi harapanku tak akan pupus seketika, masih ada dua kelas lagi di atas sini (yeeee!!! :D).

Aku segera meninggalkan Dellia yang meratapi nasibnya dan mencari dimana nasib kelasku.

10-2

Disana aku gak masuk, hanya satu lagi harapanku di 10-3 yang sangat kuimpikan sejak smp entah kenapa.

Aku menatap kertas pengumuman di depan kelas 10-3 dengan tatapan lesu, hati teriris dan jiwa yang hampa karena ternyata namaku tak ada disana :"(. Pupus sudah kelas impianku ini.

Aku berjalan menuruni tangga dengan lesunya, mengingat tak ada harapan lagi untuk bisa mengexpose para organ karena tiga kelas yang tersisa letaknya terpencil di belakang kelas 10 ips, sementara aku penginnya jurusan ipa.

Hah sudahlah! Mungkin aku bisa sekelas dengan para organ di kelas terpencil ini :).

10-4 & 10-5

Gak ada -_-, kali ini jantungku berdetak makin cepat karena jika aku tak masuk kelas ipa terakhir ini, aku bakalan masuk kelas ips. Aku bergidik ngeri membayangkannya karena si Ekonomi ada di jurusan tersebut.

10-6

'Ya Tuhan kumohon namaku ada di kelas ini....' do'aku dalam hati.

Seakan invite bbm, nampaknya do'aku langsung di acc karena namaku ada di absen 4 di kelas tersebut. Penginnya sih joged-joged sambil teriak-teriak tapi, aku masih punya malu keles -_-.

Sekarang pikiranku sudah bukan kelas atas lagi, tapi kelas ipa :D.

Aku langsung masuk kelas tersebut yang sudah dipenuhi para siswa. Namun, entah kenapa aku merasakan beberapa hawa negatif di kelas ipa terakhir ini.

Sudahlah, semua kursi sudah penuh hanya tersisa sebuah meja dan dua kursi di barisan belakang. Aku segera menyerbunya karena takut keburu diambil orang.

"Dapat!" ucapku bersamaan dengan seseorang yang ternyata mengincar meja ini juga. Untuk saja dia teman smpku, jadi aku ajak aja dia sebangku.

"Liana kelas ini juga ternyata?" tanyaku mengawali percakapan.

"Iya, kukira bakal masuk ips, serem dah ada Geografi disana," ucapnya sambil bergidik ngeri.

"Sama, yang parah itu Ekonomi-nya,"

"Udah lah! Yang penting kita udah masuk kelas ipa^_^,"

"Iya ya," aku melirik kesana kemari melihat teman-teman sekelasku yang baru.

"An, perasaan ini kelas isinya teman smp kita semua ya?" tanyaku setelah mendapati banyak orang yang tak asing lagi di mataku.

"Eh kampret -_-, tau gini aku gak perlu daftar sma deh, mentang-mentang smp kita deket sini" ucap Liana sambil memutar bola matanya. Aku mengangguk dan kembali menatap sekitar mencari takut-takut ada orang paling berbahaya di kelas ini, gak ada. Siapa lagi kalau bukan mantannya si Faza.

Aku bernafas lega karena tak menampaki orang tersebut dan namanya ada di kelas ini.

"Aska, kamu mau pindah kelas gak?" tanya Liana tiba-tiba.

"Gak ah, aku dah betah disini, emang bisa pindah kelas gitu?"

"Bisa tapi paling pindanya ke kelas ips,hehe..."

"Ih, enggak deh makasih, aku udah enek sama si Eko," ucapku sambil bergidik ngeri.

"Eko? Siapa Eko? Gebetan kamu?"

"Omg! Males amat punya gebetan Ekonomi!" ucapku sewot.

"Segitu bencinya kamu ke si Ekonomi?"

"Nggak juga sih, hanya aku punya pengalaman buruk dengan guru yang mengajar pelajaran tsb waktu smp, hehe.." aku nyengir gaje.

"Pengalaman buruk?"

"Nilai ulanganku gak pernah dikasih lebih dari 79 tau," jawabku dengan antusias.

"Emang napa? Kok bisa?"

"Orang akunya juga gak ngerti, tambah si gurunya itu emang sulit dimengerti kalo ngejelasin,"

"Alesan lu mah -_-"

Bel berbunyi dan seorang ibu guru bertubuh tinggi dan ramping masuk dan duduk di kursi guru di depan kelas. Ternyata itu wali kelas kami namanya Bu Lisda, guru matematika. Untunglah bukan guru Ekonomi. (Ya bukan lah! Orang ini kelas ipa juga -_-).

Setelah mengabsen dan memberi jadwal pelajaran, ia keluar dan mempersilahkan kami untuk pulang.

Akhirnya aku pulang ke rumah dengan hati yang setengah bahagia karena masuk kelas ipa, setengah yang lainnya sedih karena tidak di kelas atas. Namun, kebahagiaanku bertambah karena gak sekelas dengan mantannya si Faza :).

-----

Note:)

Hai:)
Mohon vote dan comentnya ya! :D

See you ;)

Go Move On!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang