Na, aku udah tahu Seyra ada dimana. Akhirnya setelah empat tahun berusaha mencari usaha kita gak sia sia, Na. Rencananya besok pagi pagi aku mau langsung pergi ke Jakarta buat nemuin Seyra, Na.
Hujan deras yang turun mengiringi langkah Kirana masuk ke gedung rumah sakit.
Pakaian Kirana basah kuyup. Bibir gadis itu pucat. Kakinya yang dipaksa untuk melangkah bergetar tak karuan.
"Kirana," Sarah yang menyadari kehadiran Kirana segera bangkit dari duduknya dan memeluk sahabat anaknya itu erat erat. "Kamu basah kuyup, Na," ujar Sarah sambil mengusap kepala Kirana.
Kirana terlalu kalut setelah ditelepon Sarah, hanya sempat mengganti celana tidurnya dengan celana jeans, mengenakan jaket yang paling pertama dilihatnya, serta memasang helm. Ia sama sekali tak punya waktu untuk mengambil jas hujan yang masih setengah basah di atas jemuran. Awalnya hanya gerimis rintik rintik yang mengiringi perjalanan Kirana menuju salah satu rumah sakit di daerah Soekarno Hatta, tapi saat Kirana sudah melewati setengah perjalanan, hujan deras turun. Ketika itu, Kirana ingin sekali berhenti di halte yang kebetulan ia lewati, berteduh menunggu hujan sedikit mereda, sayangnya waktu membuat Kirana tak punya waktu untuk menepi. Dengan baju yang seluruhnya basah kuyup, Kirana terus menembus hujan serta genangan air yang cukup tinggi. Hanya satu yang benak Kirana pikirkan. Ia harus segera tiba di rumah sakit apapun yang terjadi.
"Tan, Azhar gimana?" tanya Kirana dengan suara yang terdengar parau. Sarah tak langsung menjawab pertanyaan Kirana. Ibu Azhar itu justru memanggil seorang perawat untuk meminta pakaian ganti rumah sakit dan handuk. Tak lama setelah itu, Sarah kembali dan menyuruh Kirana untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
"Tan, Azhar baik baik aja kan? Gak kenapa napa kan?" sekarang Kirana sudah selesai mengganti pakaiannya. Hal pertama yang ia tanyakan setelah itu lagi lagi tentang Azhar dan lagi lagi Sarah malah terdiam. Namun kali ini Kirana menyadari bahwa ada yang salah dengan Sarah. Ekspresi wajah Sarah berubah muram. "Tan?" Kirana menatap Sarah lekat lekat.
"18.52, Na. Sekarang Azhar lagi diautopsi oleh pihak rumah sakit,"
"Tan, tadi tante bilang Azhar kecelakaan tan. Tante sama sekali gak bilang kalau Azhar udah meninggal, Tan. Kupikir," Kirana merasakan matanya panas. Menyadari bahwa waktu kematian Azhar hanya berbeda 15 menit dari waktu terakhir kali Kirana menerima pesan dari Azhar.
"Na, yang ikhlas yah, supaya jalan Azhar lapang," Kirana terisak kencang ketika mendengar perkataan Sarah. "Tante tahu ini semua terlalu mendadak. Sampai saat inipun tante belum percaya kalau Azhar untuk ninggalin Tante. Tapi semua ini kenyataannya, Na," Sarah memeluk Kirana sambil mengelus terus punggung sahabat anak semata wayangnya itu.
"Tan, padahal Azhar baru aja kirim pesan ke Kirana kalau akhirnya Azhar tahu keberadaan Seyra, Tan. Padahal Azhar udah rencana mau ke Jakarta nemuin Seyra besok pagi, Tan. Tapi kenapa harus kayak gini, tan," suara Kirana tak terlalu jelas akibat bercampur dengan isak tangis. "Kenapa Azhar harus pergi tanpa sempat menyelesaikan kesalahpahaman 'itu', Tan," Sarah hanya bisa menghela napas sambil tetap meminta Kirana untuk mengikhlaskan kematian Azhar.
Autopsi selesai berjam jam kemudian. Setelah jasad Azhar selesai dimandikan dan dikafani, jasad tersebut segera dibawa pulang ke rumah duka. Para tetangga Azhar datang berbondong bondong ke rumah Sarah, ikut shalat jenazah serta duduk sejenak untuk melanjutkan ayat suci al quran. Kirana sendiri selama semalaman tak beranjak dari sisi Azhar. Gadis itu terus menerus menatap wajah Azhar yang penuh luka sambil membaca ayat kursi tanpa henti.
"Na, shalat subuh dulu yuk," setelah menunaikan shalat subuh, Kirana yang berbalut mukena, akhirnya bisa tertidur sejenak di atas sajadah.
Ditemani airmata yang mengalir tanpa henti
YOU ARE READING
Us (Tentang Kami yang Melukai dan Terlukai)
ChickLitHalo, regret di postingan sebelumnya dihapus karena konsep yang bener bener jauh dari kata matang dan akhirnya membuat saya kehilangan mood serta inspirasi untuk melanjutkannya. Hari ini tiba tiba aja waktu pas bengong dapet inspirasi soal cerita in...
