0. Prolog

1.4K 115 4
                                        

Benarlah apa yang mereka bisikkan dalam perumpamaan lama: kita tidak akan pernah benar-benar mensyukuri sesuatu yang kita punya hingga hal itu pergi dan meninggalkan ketiadaan yang terasa. Namun, bagaimana caraku mengukur kehilangan, jika aku sendiri tak pernah benar-benar memilikinya?

Kedua orang tuaku kini hanyalah serpihan siluet yang menari di ambang batas mimpi. Dahulu, mereka adalah lukisan utuh; namun seiring detak waktu yang angkuh, garis wajah mereka meluruh, warna-warnanya memudar, hingga hanya menyisakan kerinduan yang tak berbentuk lagi. Aku merindukan mereka seperti tanah kering merindukan hujan yang bahkan sudah tak diingat aromanya.

Hari ini, di bawah lampu rumah sakit yang dingin, aku kembali menyerahkan diri pada takdir. Entah sudah berapa ribu kali lensa-lensa kaca mencoba membantu mataku. Klinik megah, sampai tabib dengan ramuan tradisional, hingga dokter spesialis mata dengan gelar berderet—semuanya menyerah. Pandanganku adalah sebuah kanvas yang tumpah; dunia bagiku hanyalah gumpalan warna yang saling bertabrakan tanpa tepi. Aku tidak buta, namun terkurung dalam kabut abadi yang menolak membiarkan aku mengenali senyum seseorang atau sekadar lipatan pakaian mereka.

Namun, di tengah redupnya duniaku, takdir memberiku sebuah kompensasi yang mengerikan.

Saat duniaku menjadi senyap secara visual, ia justru menjadi bising oleh suatu rahasia. Aku tidak butuh mata untuk melihat keburukan atau kebaikan. Aku hanya butuh sentuhan. Satu persentuhan kulit dengan orang lain, maka gerbang pikiran mereka akan jebol dan mengalir masuk ke sukmaku seperti air bah.

Kini, di depanku, bukan lagi aroma obat tetes mata yang tercium, melainkan aroma kecemasan dari seorang wanita bernama Linda. Ia bukan dokter mata. Ia adalah seorang psikiater—penyembuh jiwa yang mencoba membedah kegelapan di balik kelopak mataku.

Saat jemarinya yang dingin meraih tanganku, dunia fisikku tetaplah blur yang tak bermakna. Namun di dalam kepalaku, suaranya bergema begitu jernih, memotong sunyi dengan ketajaman belati: "Ya, ini jelas PTSD. Ini bukan sakit di mata, melainkan di jiwa," ucapnya dalam hati. Terdengar olehku.

SKINSHIPWhere stories live. Discover now