1

20 5 0
                                        

Shafa turun dari mobil andi, dilihatnya sosok pria yang tidak asing. Lama tak berjumpa tak membuatnya lupa sosok charming dari masa lalu itu.
Dia berhenti disamping mobil andi, tak berapa lama andi pun ikut turun dari mobil hendak mengantar shafa sampai pintu rumahnya dan berpamitan dengan orang tua shafa.
Mereka berjalan selangkah dua langkah...

"Ndi, kamu langsung pulang aja. Papa mama aku pasti udah tidur." Kata shafa seketika sambil berbalik menghadap andi.

"Tapi shaf..." Andi tampak ragu-ragu, karena bukan apa apa tapi didepan rumah shafa memang ada sebuah gardu yang dipakai anak anak didaerah itu untuk sekedar nongkrong dan mereka sedang berkumpul disana. Banyak sekali pemuda pemuda disana, bahkan melebihi biasanya. Ditambah lagi sekarang ada sesosok pria didepan pagar rumah shafa, dan tampaknya dia memang sedang menunggu shafa.

"Udah buruan deh!" Perintah shafa.

Dan tanpa menunggu shafa mempelototinya, andi pun mengangguk dan masuk kedalam mobil.
Mobil andi pun melaju.

"Kita nggak pernah ngobrol tapi kenapa aku yakin banget kamu suka sama aku, mbak" kata pria yang menunggu shafa itu yang membuat shafa seketika membalikkan badannya, tanpa peduli banyak orang yang menonton mereka saat ini. Karena biasanya shafa akan langsung masuk rumah begitu melihat diseberang rumahnya sedang ramai begini.
Shafa memperhatikan pria itu 2 detik...
"Kita nggak pernah ngobrol tapi kenapa aku yakin kamu suka sama aku, dir?!" Ucap shafa kemudian, menyebut nama pria dihadapannya.

Dira, adik kelas shafa waktu SMA, yang sudah tidak pernah ditemuinya sejak lulus SMA 2 tahun lalu. Bahkan walau mereka berada di kota yang sama tak pernah sekalipun mereka berpapasan dijalan.
Dulu ada gosip, Dira akan mendekati Shafa. Tapi nyatanya sampai Shafa lulus, bahkan sampai sekarang Dira tak melakukannya padahal mereka mempunyai kontak satu sama lain.

"Haha siapa yang nggak suka sama cewek cantik yang kalem dan baik banget kaya kamu mbak" balas dira disela tawa kecilnya.

Shafa hanya terdiam mendengarnya. Matanya menatap mata dira, ada senyum tipis tersungging dibibirnya.
Suasana begitu sepi, bahkan dengan banyaknya orang diseberang jalan yg hanya mempunyai lebar 5 meter itu. Seakan akan semua orang yang ada disana sedang memperhatikan dan mendengarkan apa yang sedang shafa dan dira bicarakan.
Ya kenyataannya memang begitu, mereka hening memperhatikan dua orang itu. Bukan tanpa alasan atau karna kurang kerjaan, shafa dan adiknya dista memang bisa dibilang cewek yang paling mempesona didaerah itu, tapi tidak ada anak anak didaerah itu yang berani mendekati mereka, jangan kan mendekati, mengajak main pun kadang sungkan karna pergaulan shafa dan dista yang sedikit high dan papa mereka yang terkenal galak walaupun punya hubungan yang baik dengan para pemuda didaerah itu. Itu anggapan mereka, karena pada kenyataannya shafa dan dista adalah anak anak yang low profile dan sangat rendah hati, tapi mungkin karna mereka jarang berangkat diperkumpulan muda mudi makanya orang orang menjudge mereka seperti itu.

Tiba-tiba hp ditangan shafa berbunyi, sepertinya ada line masuk. Shafa hanya melihatnya sekilas kemudian berjalan maju kearah pagar rumahnya. Melewati dira tanpa sepatah katapun, bahkan melirik pun tidak. Pandangannya hanya tertuju kedepan.

"Mbaaaak...."
Belum selesai dira menyelesaikan kalimatnya, shafa langsung berbalik menghadap dira..

"Aku lagi pusing banget dir, jangan buat aku tambah pusing!" Bentak shafa, ekspresinya frustasi.

Dira memandang sedih shafa, kemudian menunduk sebentar...

"Aku berangkat ke Paris malem ini mbak..." Ia berhenti
"2 bulan... Aku pengen ketemu kamu sebelum pergi, entah aku bakal dapet jackpot apa zonk, tapi aku nggak mau pulang-pulang nanti aku tau kamu udah punya pacar." Lanjut dira.

"Hah blak blakan banget anak ini" pikir Shafa

Dan seperti dibilang author sebelumnya, pemuda pemuda yang berkumpul tak jauh dari sana mendengarkan dan mungkin sedikit kaget dengan pernyataan cowok kepada idolanya itu.

Shafa memandang dira dengan bingung. Beberapa detik, tapi ia seperti tidak mendapat jawaban dari kebingungannya itu.

"Paris bukannya tanpa signal DIRA. Kamu masih bisa line aku, liat kesehariaan aku lewat snapchat, aku juga bisa liat kamu di snapchat... Tapi jangan harap aku bakal bales semua chat kamu..." Shafa berhenti sejenak, memikirkan kata kata yang akan diucapkan selanjutnya.
"LDR?? Aku bukan orang yang suka hubungan seperti itu!" Kata Shafa dengan tegas. Tapi kata kata itu bukan hasil pemikirannya beberapa detik yang lalu, tapi sudah ada dibenaknya bahkan saat beberapa menit yang lalu sejak pertama turun dari mobil dan melihat Dira.

Dira terdiam, Shafa berbalik dan membuka pagar rumahnya.

Bersambung...


Vote dan comment yaaa
Terima kasih ^.^

LoveHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora