Hangatnya sinar matahari telah menembus celah-celah jendela. Embun dan udara sejuk pagi menyelimuti padatnya hiruk pikuk kota. Disudut kompleks perumahan elit, terparkir mobil mewah berwarna hitam. Sesekali seseorang yang berada didalam mobil terlihat mengamati jam tangannya.
Cukup lama menahan sabar, ia menekan klakson mobil hingga dua kali, namun tetap seseorang yang ditunggunya tak kunjung keluar. Ketika rasa kesal mulai menyerangnya, ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan hendak masuk kedalam rumah bertingkat dua. Baru beberapa langkah, sosok yang ditunggunya keluar sembari tersenyum.
"Maaf, lama." ucapnya setelah berdiri berhadapan.
"Udah biasa." sahutnya setelah tersenyum lalu masuk kedalam mobil.
Di jam yang masih pagi, suasana kota jakarta sudah padat akan kendaraan roda empat maupun dua. Terjebak dalam kemacetan, sepertinya sudah sangat biasa bagi banyak orang yang berutinitas dikawasan jakarta.
Memakan waktu hampir dua jam, mobil mewah berwarna hitam itu memasuki pelataran kampus. Setelah keduanya keluar, mereka berjalan menapaki koridor kampus sembari bergandengan mesra.
"Pagi Retha, Satria ?" sapa salah satu mahasiswi.
"Makin mesra aja yah mereka ?" timpal mahasiswa yang lain.
"Mereka memang pasangan yang serasi." sergah mahasiswi lain yang tak mau kalah berkomentar.
Ya... Satria dan Retha memang dua orang yang cukup populer diseantero kampus. Bagaimana tidak, Satria sendiri menduduki jabatan ketua BEM di fakultas teknik dan Retha adalah salah satu mahasiswi primadona yang menjadi banyak incaran mahasiswa. Mereka berdua dikenal pasangan paling harmonis dan serasi karna keduanya memiliki sifat ramah dan baik hati.
Dalam kantin, Satria dan Retha duduk sembari menikmati minuman masing-masing. Satria yang tiada henti menatap wajah kekasihnya, membuat Retha merasa tak nyaman dan salah tingkah. Melihat kekasihnya merona malu, Satria tersenyum lalu meraih jemari lentik Retha. Tanpa suara. Mereka hanya terdiam dan menciptakan suasana romantis walau tanpa mengeluarkan kata-kata mesra.
Melihat dan merasakan segala ungkapan perasaan Satria sungguh membuat Retha bahagia. Hanya saja raut wajahnya menggambarkan ada sesuatu yang ia sembunyikan dalam hatinya. Sepertinya Retha belum sepenuhnya menerima Satria, walau hubungan mereka sudah berjalan cukup lama.
*~*
Keraguan itu semakin menggelayuti hati Retha. Walaupun seseorang yang bersarang dihatinya telah lama pergi tanpa pamit, tetapi sepertinya luka hati itu belum mampu menghapus perasaan Retha. Bahkan ditengah canda dan tawa riang teman-teman disampingnya, Retha tak mampu mengusir kegundahan perasaannya. Hanya sesekali Retha ikut tersenyum lalu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri dan tanpa sadar mengela nafas.
"Kenapa, Tha ? ada masalah sama Satria ?" tanya Shilla dan membuat suasana menjadi hening.
"Iya, dari tadi loe diam terus. Ada apa sih ?" timpal Lira.
"Sepertinya gue udah nggak bisa lagi sama Satria. Perasaan gue nggak berubah dan sekarang gue mulai takut." sahutnya dengan suara lirih "Semakin hari, sikap dan perhatian Satria semakin membuat gue merasa bersalah." jelas Retha.
"Karna Degie kan ?" tanya Icha.
Setelah pertanyaan itu terlontar, Retha tak mampu memandang ketiga wajah temannya. Ia hanya menundukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Loe harus ingat, Tha ! loe sendiri gak pernah tau kan bagaimana perasaan Degie terhadap loe ? terlebih dia pergi gitu aja tanpa pamit." tukas Icha mengingatkan.
"Icha benar, Tha. Untuk apa loe mengharapkan seseorang yang nggak pernah jelas bagaimana perasaannya sama loe." ujar Lira menasehati "Buat gue, Degie gak lebih dari laki-laki yang hanya ingin mempermainkan wanita !" tambahnya memasang raut kesal.
"Perasaan loe nggak berubah, itu karna loe nggak membuka hati buat Satria." ucap Shilla ikut berkomentar "Lagian udah hampir setahun dia pergi tanpa kabar." Tambahnya.
Retha mengangkat kepalanya dan kini tampak kedua matanya telah berkaca-kaca. Ia memandang satu per satu wajah temannya lalu menyimpulkan sebuah senyuman kecut. Sebelum airmatanya jatuh, Retha bergegas berdiri dan segera ingin keluar dari cafe. Namun belum sempat ia melangkah, sosok Satria terlihat membawa kue tart dari arah dapur dan berjalan menghampirinya.
"Happy birthday, sayang. make a wish." ucap Satria sembari tersenyum. Sejenak Retha hanya menatap wajah Satria lekat-lekat sembari meneteskan airmata lalu perlahan menutup matanya.
Setelah lilin padam dan meletakkan kue di atas meja, Satria menarik tubuh Retha dalam dekapannya. Sangat erat, seakan Satria tidak mau melepaskannya. Retha semakin terisak dan tak mampu berkata apa-apa. Ditengah kegalauan hatinya, kenyataan yang sesungguhnya indah semakin menghimpit perasaannya.
Ketiga temannya itu memandang Retha dengan raut wajah sedih. Mereka tahu arti dari isakan tangis Retha. Terlebih Icha, karna ia mengenal Retha bukan sehari atau dua hari melainkan sejak SMA.
"Aku berharap hubungan kita akan seterusnya indah seperti ini." kata Satria sembari membelai rambut Retha "Aku sangat mencintai kamu." Akunya setelah melepaskan pelukan lalu mengecup kening Retha.
*~*
"Aku... aku..."
"Kamu pasti sangat terharu." sela Satria sembari tersenyum.
Mendengar itu, Retha langsung memeluk tubuh Satria dengan perasaan yang bercampur aduk. Ditemani lantunan lagu cinta, Retha semakin dihimpit rasa bersalah serta kegalauan hati yang belum menemukan ujungnya.
~~~~~
KAMU SEDANG MEMBACA
Samudra Hati
RomanceMencintai, dicintai dan saling memiliki adalah impian setiap manusia, begitu pula dengan Retha. Mencintai laki-laki sejak SMA, membuat Retha rela menanti dan membuka harapan besar demi menunggu ungkapan hati dari Degie.. Kepergian Degie yang tiba-t...
