SUARA perempuan itu terdengar lantang, lugas, dan tersirat jejak kemarahan, membuat Kanyaka Prameswari terbangun dari tidur siangnya.
Tidakkah mereka mengerti Kanyaka atau Anya baru bisa tidur jam setengah dua semalam lantaran harus mengerjakan tugas ospek yang begitu banyak?
Membuat dua essay, membuat buku yang berisi biodata teman-teman sejurusan yang harus didesain sekreatif mungkin, menghafal visi, misi, hymne, dan mars kampus, dan tugas-tugas aneh lainnya yang harus dikumpul dalam waktu dekat ini?!
Anya memperbaiki posisi tidurnya yang mengandalkan tas hitam miliknya yang terisi penuh sebagai tempat bertumpu kepalanya. Gadis itu mencoba untuk tidur lagi. Selagi tidak ada komdis atau komisi disiplin yang menegur, tidak ada salahnya mencuri beberapa menit lagi untuk beristirahat bukan?
Anya sudah kembali menutup matanya, menunggu rasa kantuk itu datang kembali, sebelum sesuatu membuatnya kembali terjaga.
".... jadi Kakak mau bilang kalau itu salah mereka tidak bisa lanjut kuliah? Padahal Kakak tau itu bukan pilihan hidup mereka,"
Suara seorang perempuan yang tadi membangunkan Anya kembali terdengar. Nada suaranya masih sama, begitu ketus dan tidak bersahabat. Butuh beberapa detik bagi Anya untuk menyadari kalau itu adalah suara sahabatnya, Sarah, yang duduk tepat di sebelahnya.
Sontak Anya mengangkat kepalanya, rasa kantuk yang ia rasakan tadi sirna entah kemana, Anya merasa begitu segar bak baru saja mencuci muka.
Dilihatnya ke samping untuk menemukan sahabatnya yang tengah berdiri, dengan sebuah mikrofon ditangan. Tatapan tajam Sarah tertuju ke depan, ke arah sofa yang diduduki oleh tiga orang, dua laki-laki dan seorang perempuan.
Anya akhirnya ingat kalau saat ini—menurut jadwal yang ia baca pagi tadi—mereka sedang dikumpulkan di aula utama, duduk mengampar berbanjar bak pengemis sesuai dengan kelompok masing-masing, untuk mendengar seminar motivasi dari DPM atau Dewan Perwakilan Mahasiswa.
Dengan mudah, Anya bisa menebak kalau laki-laki dan perempuan yang duduk bersebelahan di sofa panjang dan memakai pdh berwarna navy itu adalah perwakilan dari DPM, sementara laki-laki lain yang duduk di sofa single di sebelahnya adalah sang moderator.
Anya membolak-balikkan pandangannya dari laki-laki perwakilan DPM tersebut-yang Anya tebak adalah lawan Sarah berdebat karena sama-sama memegang mikrofon-lalu kembali ke Sarah.
Gila, gila, gila. Sarah sudah gila.
Ia tidak sedang berdebat dengan perwakilan DPM di hadapan seluruh maba dan sejumlah senior 'kan?! Di salah satu seminar ospek, saat Sarah sendiri masih seorang mahasiswa baru?
"Saya tidak setuju Kak! Saya kenal seseorang yang menjaga sebuah toko perhiasan terkenal, dan gajinya lebih tinggi dari sepupu saya yang adalah seorang akuntan. Sepupu saya memiliki ijazah dan gelar sarjana, dari universitas ternama pula, lantas itu bagaimana? Bahkan Mark Zuckerberg menjadi orang kaya raya setelah ia keluar dari Harvard!" suara Sarah terdengar lagi, masih sekecut sebelumnya, menanggapi jawaban senior DPM tadi.
Berniat menyelamatkan sahabatnya dari masa-masa kuliah suram yang penuh celaan, Anya menarik-narik tangan Sarah, berharap gadis itu akan berhenti menantang seorang senior di hadapan seluruh teman-teman seangkatannya.
Anya menoleh sedikit dilihatnya si laki-laki DPM itu tersenyum tipis sebelum menjawap pertanyaan Sarah. "Tidak semua hal bisa diukur dengan uang. Network, lalu bagaimana dapat bekerja sama dengan orang dari berbagai macam latar belakang, pembangunan pola pikir, adalah beberapa hal yang bisa kita raih dari berkuliah, yang mungkin penjaga toko yang kamu kenal tersebut tidak akan dapatkan. Lagipula, ada yang namanya jenjang karir, yang tidak akan dimiliki seorang penjaga toko, sementara sepupu kamu, sepuluh tahun dari sekarang jika ia giat dan serius dengan pekerjaannya, saya yakin gajinya bisa mencapai tiga kali lipat dari si penjaga toko emas tadi, bahkan mungkin lebih." Si senior DPM berhenti untuk mengambil napas. "Dan untuk Marc Zuckerberg, kalau bukan karena Marc berkuliah dan berniat memudahkan komunikasi antara mahasiswa yang tinggal di asrama, mungkin ide untuk membuat facebook tidak akan pernah muncul. Jadi saya kira kita semua setuju kalau kuliah menciptakan peluang, dari pengalaman dan networking itu sendiri,"
YOU ARE READING
Apersepsi
Romanceingredients: 27% drama, 25% love, 25% friendship, 10% comedy, 7% faith, 6% sincerity. © 2019 platyswrite cover credit: illustration by Kathrin Honesta
