Hello, it's me

1.1K 108 3
                                        

Setiap pagi ia terbangun. Kemudian melakukan aktifitas monotonnya. Mandi, sarapan, mengerjakan naskah, bermain ponsel, menonton televisi, makan, lalu tidur.

Hal itu selalu terjadi setiap harinya. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali pergi keluar rumah. Mungkin dua minggu yang lalu saat ia harus menyerahkan naskah pada editornya.

Kini ia sedang duduk di hadapan laptopnya di ruang tamu. Melamun sambil memikirkan kata yang cocok untuk diketik. Sekitar 20 menit ia berdiam diri. Tetapi tak satupun melintas di otaknya. Sampai dering ponsel menyadarkannya.

Ia berjalan ke arah kamarnya. Menggerutu pelan sebelum mengangkat telepon.

"Halo, Namikaze Naruto di sini."

"Ya, aku tahu. Naruto di sana."

Naruto menghela napas, "Sasuke..." terdengar suara kekehan di seberang sana.

"Kau masih mengingatku rupanya."

Wanita berumur 25 tahun itu menjilat bibirnya, sebelum bersandar pada tembok di sampingnya, "Tentu saja. Tak mungkin aku melupakan orang yang dulu sering menggangguku."

Jeda terjadi pada percakapan mereka, "Ish.. kau malah ingat itu."

Untuk sesaat mereka menikmati keheningan. Naruto seakan terbuai dengan angin sepoi yang masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka. Membuatnya bernostalgia.

8 tahun lalu, tepat di tengah hujan, pada hari Rabu. Naruto ingat jelas, pertemuan pertamanya dengan Uchiha Sasuke.

Saat itu, matahari tertutupi awan. Tetesan air hujan mulai membasahi bumi. Orang-orang di sekelilingnya berlarian mencari tempat berteduh. Sedangkan ia masih di sana. Tetap berdiri, memperlihatkan pertahanannya yang kuat. Orang lain mungkin menganggapnya sinting. Tetapi ia tak peduli.

"Apa aku mengganggumu?"

Suara Sasuke seolah membangunkannya dari mimpi. Naruto menampilkan senyum kaku walaupun ia tahu pria itu tidak akan melihatnya.

"Ya," ia terdiam beberapa saat, "maksudku tidak. Aku hanya sedang mengetik naskah." Tangannya terjulur untuk mengusap perutnya yang sedikit linu.

"Biar kutebak. Pasti kau masih belum menemukan ide."

Naruto merasakan wajahnya memanas. Pria yang sedang berbincang dengannya ini selalu tahu apa yang terjadi padanya. Ia menggerutu ketika tawa Sasuke terdengar jelas di telinganya.

"Hei," tawa Sasuke makin keras, "Sasuke, berhenti tertawa!" ujar Naruto penuh penekanan. Sasuke masih tertawa, walaupun suaranya kecil. Naruto kembali menghela napas.

"Naru," panggil Sasuke, "apa kau masih sama seperti dulu? Maksudku, apa kau masih memakai kacamata? Apa tubuhmu bertambah tinggi? Apa rambutmu berubah menjadi warna pelangi?"

Kini giliran Naruto yang tertawa. Entah kenapa, Sasuke selalu berhasil membuatnya tersenyum lebar.

"Sasuke," wanita itu berusaha mengatur napasnya, "dasar sinting. Kupikir rambutmu yang berubah menjadi bentuk gajah."

Mereka kembali tertawa sambil sesekali melontarkan kalimat mengejek. Rasanya seperti baru kemarin mereka bertemu dengan menggunakan seragam SMA dan saling mengejek.

"Apa kau masih mencintainya?"

Pertanyaan itu membungkam Naruto. Tak ada satupun kata keluar dari mulutnya. Sasuke masih menunggu.

"Kurasa," wanita itu menjawab perlahan, "um, sepertinya aku sudah melupakannya sejak beberapa tahun belakangan ini."

Naruto sangat tidak menyukai pertanyaan itu. Mengingatkannya pada sakit hati yang pernah dirasanya. Walaupun ia tidak menyangkal, pria yang pernah menempati hatinya itu membuatnya mengenal Sasuke.

NostalgiaWhere stories live. Discover now