24 November

64 6 3
                                        

Hari ini hari yang istimewa. Setidaknya, ini salah satu hari yang kutunggu-tunggu. 24 November. Kulihat orang-orang sudah berkumpul di aula sekolah. Ya, tahun ini aku merayakan ulang tahunku di sekolah. Tapi orang bilang, ini bukan sekolah. Ini taman kanak-kanak, katanya.

"Bandi, ayo tiup lilinnya, Nak," Mama sudah berjongkok di hadapanku dan menyodorkan kue ulang tahun lengkap dengan lilin angka lima di atasnya. Aku segera meniup lilin itu. Orang-orang bertepuk tangan dan suasana menjadi riuh. Pandanganku kembali tersita oleh tumpukan kado di salah satu sudut ruangan. Aku taksabar ingin membuka kado-kado itu. Aku berharap banyak mendapatkan mainan.

"Bandi," aku segera menoleh ke arah suara yang memanggilku. "Ini kado untukmu. Maaf aku datang telat," lanjutnya lagi. Ia menyodorkan kotak berwarna ungu kepadaku. Langsung kuterima kado darinya.

"Terima kasih, Mari,"

"Sama-sama. Ayo, dibuka kado dari aku,"

"Nanti saja, di rumah. Kado yang lainnya juga belum kubuka,"

"Pasti kamu suka kado dariku. Ayo, dibuka sekarang," kutatap wajah Mari. Dia tersenyum. Aku sudah terbiasa dengan senyuman anehnya itu. Aku membuka kado darinya. Dan isinya adalah sebuah boneka. Seperti boneka bayi kelihatannya. Boneka ini masih terbungkus rapi di kardusnya yang berwarna jingga. Di atas kardus terdapat bacaan 'Boneka Kubis'. Nama yang aneh. Mungkin nama dari boneka ini. Pipinya gembul, rambutnya panjang berwarna pirang. Sedikit terlihat menyeramkan, menurutku.

 Sedikit terlihat menyeramkan, menurutku

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Boneka?" tanyaku pada Mari,

"Iya,"

"Aku tidak mau. Memangnya aku perempuan?"

"Boneka ini beda. Dia bisa mengunyah,"

"Mengunyah?" tanyaku mengulang perkataan Mari,

"Kau coba saja," aku menuruti perkataannya. Kukeluarkan boneka ini sekalian dengan lilin mainan berbentuk potongan kentang yang sudah tersedia di dalam kardusnya. Kumasukkan lilin mainan ke dalam mulut Boneka Kubis. Dan benar. Dia mengunyah. Pipinya terlihat menggemaskan saat sedang mengunyah. Lilin mainan tadi seperti tersedot. Tidak tahu ke mana perginya. Perut?

"Menyenangkan, bukan? Aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu besok, Bandi," aku hanya mengangguk menanggapi Mari, lalu melambaikan tangan ke arah Mari yang sudah digandeng ayahnya.

"Bandi, kau memainkan boneka perempuan?" sekarang giliran Bungki menyapaku. Anak yang badannya paling besar di kelasku. Bungki juga tergolong anak yang nakal.

"Boneka ini berbeda, Bungki,"

"Beda? Apanya? Kalau main boneka namanya anak perempuan!" lalu ia tertawa sembari menunjuk-nunjuk diriku. Takhanya itu, ia juga mengajak teman-temannya untuk menertawakanku. Tidak akan kubiarkan dia merusak hari istimewaku. Takpeduli bila ia setiap hari menggangguku. Tapi tidak untuk hari ini. Aku mendekati Bungki. Telunjuknya masih tertuduh ke arahku. Kuangkat Boneka Kubis dan kuarahkan ke telunjuk Bungki. Kini tawa Bungki sudah tak terdengar.

24 NovemberStories to obsess over. Discover now