1 - SURAT KONTRAK PEMBAWA PETAKA

72.6K 4K 156
                                    

***

Shanly mengusap wajahnya dengan frustasi. Di hadapannya, Ellena tampak tersenyum penuh kemenangan sambil memamerkan surat perjanjian yang sudah mereka buat sejak sebulan lalu. Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang tamu apartemen Shanly, dan seperti biasa Ellena bersikap santai dengan tiduran di atas sofa seolah dialah tuan rumahnya. Tapi bukan sikap Ellena yang membuat Shanly frustasi, melainkan isi surat itu.

Surat perjanjian itu berisi, Jika Shanly berhasil menurunkan berat badan maka dia akan mendapatkan macbook baru dari Ellena, tetapi jika dia gagal maka Ellena berhak mengajukan permintaan apa pun yang tidak boleh dibantah - Selama permintaan itu manusiawi dan tak melanggar hukum.

Dan alasan senyum Ellena merekah seperti tadi karena Shanly gagal.

Ya, Shanly gagal. Dia hanya sanggup menurunkan dua kilogram dalam sebulan, dan itu artinya dia harus memenuhi janjinya. Berkali-kali Shanly mencoba bernegosiasi untuk melakukan apa pun asal tidak disuruh menepati janjinya pada Ellena, tapi Ellena tidak pandang bulu. Baginya janji adalah janji, dan tidak ada lagi hal lain yang dia inginkan selain Shanly menepati janji untuk melakukan apa yang dia minta.

Dan alasan Shanly terlihat frustasi dan ngotot tidak mau memenuhi permintaan Ellena, adalah....

Ellena memintanya untuk menyatakan cinta pada kakak tampan yang ada di Mall.

"Kamu gila ya! Apanya yang manusiawi, Len? Menyatakan cinta pada orang asing di public place, kamu sebut itu manusiawi?" Protes Shanly tidak terima.

"Lho,ini kan tidak melanggar hukum? Menurutku inimasih tergolong manusiawi, Shan." Ellena membela diri dengan santainya.

"Manusiawi kepalamu?" Shanly menyentil dahi Ellena, membuat sang pemilik dahimengaduhkesakitan. "Ini meruntuhkan harga diriku tahu!" Shanly berkacak pinggang, menatap Ellena dengan mata melotot.

"Tapi janji tetaplah janji, Shan. Jangan lupa kalau kamu sendiri yang menyetujuidan dengan sadar menandatangani kesepakatan konyol kita diatas materai. Hohoho!"

Shanly merenggut kesal. Sama sekali tidak pernah terbesit olehnya bahwa Ellena akan meminta permintaan seperti ini.

"Bukankah bagus? Kamu akan menyatakan cinta pada pria tampan. Kamu bisa sekalian cuci mata."

"Apanya yang bagus? Mau ditaruh dimana mukaku?"

Ellena menatap Shanly dengan wajah kasihan yang dibuat-buat. "Kalau kamu sudah bosan dengan letak mukamu yang ada diatas, kamu boleh operasi plastik dan memindahkan mukamu kebokong." Ellena berkata seenak dengkulnya.

Sebuah bantal sofa langsung mendarat diwajah Ellen dengan mulusnya. Bukannya protes, Ellen justru tertawa karena dilempar bantal oleh Shanly.

"Dasar sahabat sakit jiwa!" Makinya.

"Kamu tahu sahabatmu ini sakit jiwa, tapi kamu masih mau berteman denganku?"

"Kamu menyebalkan!" Decaknya kesal.

"Hahaha! Aku hanya memberi solusi sekaligus alasan yang bagus agar kamu bisa mendekati pria tampan. Tugasmu mudah sekali, kamu hanya perlu mendekati pria pertama tertampan yang kita temui di Mall, menyatakan cinta, lalu kabur sebelum dia menolak mentah-mentah dan mengataimu 'orang gila'. Mudah bukan?"

Shanly tidak tahu apa yang ada dipikiran sahabatnya sampai terpikirkan ide ajaib seperti barusan. Yang jelas, dia tidak sudi merendahkan harga dirinya. Seumur hidupnya selalu saja kamum pria yang menyatakan cinta, bukan justru kebalikannya.

"Tidak mau! Pokoknya aku tidak mau!" Jerit Shanly lalu berlari masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Ellena sendirian diruang tamu.

***

NOT A DRAMA QUEEN [不是戏剧女王]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang