Prologue

405 38 21
                                        

Berantakan mungkin dapat mendeskripsikan keadaan Louis sekarang. Tetapi entah mengapa, Louis lebih memilih kata hancur daripada berantakan. Karena dia tahu, hidupnya tidak bisa diperbaiki. Semuanya sudah hancur, benar-benar hancur. Louis berharap dia bisa memutar kembali waktu, mengembalikan semua pada tempatnya. Terkadang Louis bingung terharap dirinya sendiri. Dia selalu menaati peraturan orang tuanya dan dia selalu mengerjakan pekerjaan rumah tepat waktu. Semuanya benar-benar tertata pada tempatnya. Tetapi mengapa kini semuanya keluar jalur? Kehidupannya hancur dalam hitungan detik. Dia menjadi anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya. Hidupnya sudah hancur dan kini dia hanya menunggu keajaiban dari Tuhan. Walaupun dia tahu, keajaiban itu terjadi pada satu banding seribu miliar orang di dunia.

Louis berharap hidupnya berjalan dengan baik. Dia akan menjalani beberapa masalah seperti anak remaja lainnya. Dia akan mendapatkan seorang kekasih, dia akan mengikuti pesta-pesta yang diadakan oleh anak terkenal di sekolahnya dan dia akan dihukum oleh orang tuanya karena telah melanggar peraturan. Tetapi terkadang Louis berharap hidupnya akan menjadi sedikit menantang seperti salah satu novel yang dia baca saat dia dan temannya Liam berada di perpustakaan. Dimana dia memiliki teman perempuan dan dia meninggalkan beberapa petunjuk kepada Louis dan nanti Louis bersama sahabatnya─entah siapa itu, dia bahkan tidak sempat memikirkannya─akan mencari teman perempuannya dan pada akhirnya mereka akan hidup bahagia bersama. Tetapi bagaimanapun juga dia tetap membatasi khayalannya, kalau yang ada di buku tetaplah di buku dan itu tidak bisa terjadi di kehidupan nyata. Walaupun pada akhirnya secara tidak langsung, kisah percintaan Louis akan berakhir sama persis seperti beberapa novel fiksi yang dia baca.

Louis mengusap air matanya yang sedari tadi tidak ingin berhenti. Bahkan tangan dan bibirnya tidak dapat berhenti gemetar. Kejadian itu terekam dengan jelas di otak lelaki yang genap berumur tujuh belas tahun pada malam Natal kemarin. Louis berharap dia bisa menghapus kejadian itu dari otaknya dan kembali menjalani kehidupannya seperti semula. Tangan Louis menggenggam erat kemudi mobil, hingga ia dapat melihat dengan jelas urat nadi yang menjalar di pergelangan tangannya. Louis menggigit bibir bagian bawahnya dan dengan ragu-ragu dia menaikkan kecepatan mobilnya. Rasa sakit yang berada di pipi kirinya masih terasa dengan jelas. Louis menahan rasa perih saat tangannya menyentuh pipinya yang memerah. Dia tidak pernah mengira bahwa ayahnya yang baik dan penyayang itu bisa berubah tiga ratus enam puluh derajat. Dia tidak pernah mengira bahwa ayahnya yang dia sayangi itu akan dengan tega menampar anaknya sendiri. Bahkan dia tidak pernah mengira hidupnya akan hancur dalam hitungan detik.

Semuanya terjadi begitu cepat, atau mungkin terlalu cepat bagi Louis. Hidup yang telah dia jalani selama tujuh belas tahun ini hancur begitu saja karena satu kesalahan. Terkadang Louis merasa bahwa kehidupan bersikap tidak adil, terutama pada dirinya. Kehidupan memberikannya sebuah kehancuran besar padanya dalam satu detik. Dia yakin, bahwa dia adalah satu-satunya orang yang mengalami ini. Bahkan mungkin tidak ada satupun orang di dunia yang mengalami kejadian seperti yang Louis alami. Udara di dalam dadanya seketika menipis saat kejadian itu kembali terputar. Rasanya dia ingin pergi dan meninggalkan semua masalah ini. Tetapi dia tidak mungkin meninggalkan masa lalunya. Dia tidak mungkin meninggalkan orang tuanya yang telah membesarkannya, walaupun pada akhirnya mereka membenci Louis. Dia tidak mungkin meninggalkan saudara-saudaranya, Georgia, Charlotte, Felicite, Daisy, Phoebe dan─Harry.

Harry. Nama itu membuat tangan Louis gemetar saat nama itu terngiang di benaknya. Semua kenangannya bersama lelaki bertubuh jangkung itu langsung bermunculan otaknya. Louis merindukan lelaki itu hingga dia tidak menyadari bahwa pipinya telah basah oleh air matanya sendiri. Dia membayangkan dirinya bersama Harry. Dia berharap hidupnya akan bahagia bersama Harry. Setidaknya, biarkan dia dan Harry memiliki akhir yang bahagia, walaupun hanya sebentar. Dadanya terasa sesak karena Louis terus menerus menahan tangisannya. Dia bahkan bisa merasakan rasa darah di lidahnya karena dia terus menerus menggigit bibir bagian bawahnya. Setelah beberapa saat menahan nafas, Louis akhirnya mengeluarkan suara. Lirih, hanya suara kesedihannya, suara rintik hujan dan suara angin malam yang berhembus menabrak kaca mobilnya. Suaranya terdengar putus asa, entah kenapa dia benar-benar merindukan lelaki itu. Rasanya seperti dia akan meninggalkan Harry untuk waktu yang cukup lama.

Louis menaikkan kecepatan mobilnya, jantungnya berpacu dengan cepat. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini, dia tidak ingin terkena resiko dengan berakhir kematian. Tapi bagaimanapun juga, hidupnya sudah hancur. Dia tidak bisa mengembalikan keadaan hidupnya seperti semula. Jikalau dia hidup, Louis hanya akan menambah beban kedua orang tuanya dengan memiliki anak gay. Kedua tangannya menggenggam erat kemudi mobilnya. Rintik hujan bahkan bertambah deras, menyamakan setiap air mata yang jatuh dari mata birunya. Dia berharap menambah laju mobilnya, tidak akan membawa resiko besar. Lampu jalanan meredup, membuat Louis sulit mengemudi. Jalanan menjadi sedikit licin, bahkan mobil Louis sudah beberapa kali tergelincir. Untung saja, mobilnya belum benar-benar tergelicir dan jatuh dari tebing. Setidaknya belum.

Louis baru saja menyadari bahwa dia sedang mengemudi di jalan licin, dan dekat tebing, atau lebih tepatnya, jalanan ini hanya dibatasi dengan pagar kayu yang sudah lapuk dan diluar pagar itu adalah tebing, dan dibawah tebing itu adalah laut. Kalaupun dia mengalami kecelakaan dan jatuh ke laut, tidak akan ada satu orangpun yang tahu, bahkan tidak ada satu orangpun yang peduli. Louis terus mengemudi, dia mulai merasakan jalan ini seperti tidak berujung. Dia terus mengemudi pada jalanan lurus. Perasaan ini membuat dia ragu, bagaimana jika tiba-tiba terdapat belokan tajam dan ternyata Louis tidak dapat mengendalikan mobilnya karena jalanan yang licin, lalu dia menabrak pagar dan jatuh ke laut. Dia menggelengkan kepalanya, menjauhkan pikiran negatif dari kepalanya dan terus mengemudi.

Nama Harry terus tergiang dikepalanya hingga tiba-tiba dia dibangunkan oleh suara panggilan masuk dari ponselnya. Dengan cepat Louis mengambil ponselnya dan melihat nama Harry terpampang di layar ponselnya. Perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Saat dia ingin menerima telepon dari kekasihnya tersebut, tiba-tiba mobilnya menabrak sebuah batu, membuat mobilnya sedikit tergelincir. Dengan cepat Louis menstabilkan mobilnya, membuat ponselnya terjatuh ke lantai mobil. Setelah Louis memastikan bahwa mobilnya baik-baik saja. Dia mulai dengan perlahan mengulurkan tangan kanannya ke lantai, berusaha meraih ponselnya dan segera mengangkat telepon dari Harry. Louis terus mencari ponselnya, dia tidak bisa meninggalkan pandangannya dari jalanan. Setelah beberapa menit mencari akhirnya Louis menyerah dan dengan cepat mengalihkan pandangannya dari jalanan, dia mencari ponselnya dan akhirnya dia menemukan ponselnya dibawah kursinya. Louis tersenyum kecil dan segera meraihnya. Tepat saat Louis menggenggam ponselnya, mobilnya menabrak pagar kayu dan jatuh dari tebing.

Bukan, bukan begini akhirnya. Seharusnya dia dan Harry akan memiliki akhir yang bahagia, bukan akhir sedih seperti ini. Seharusnya dia dan Harry akan selalu bersama, seperti dalam novel, bukan seperti ini. Louis menginginkan akhir bahagia bersama Harry. Bukan dia yang jatuh dari tebing dan mati kehabisan nafas. Suara air yang menabrak mobil Louis membuat jantungnya berdebar. Semuanya terjadi dengan cepat. Bahkan Louis tidak dapat mengucapkan selamat tinggal kepada Harry. Bahkan dia tidak sempat mengucapkan seberapa cintanya dia kepada Harry. Kini, semuanya hanya kenangan. Iris hijaunya tidak dapat dia kagumi lagi. Louis masih mengingat bagaimana lelaki itu tersenyum, bagaimana lekukan di sekitar pipinya menghiasi wajah Harry saat tertawa, bagaimana lelucon klasik miliknya bisa membuat Louis tertawa, bagaimana tangannya yang besar benar-benar cocok saat bertemu dengan tangan mungil miliknya atau mungkin bagaimana tubuh jangkungnya memeluk tubuh kecil Louis. Air mata jatuh dari matanya, Louis memejamkan kedua matanya. Air mulai masuk melalui celah-celah kecil yang ada di jendela dan mulai menggenangi sebagian tubuhnya. Kini dia akan mengubur semua kenangannya bersama Harry. Membawanya pergi dengan laut.

The Things He Never SaidHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora