(our)Shooting Star.

2.4K 175 29
                                        

Haruskah dia--tidak, haruskah mereka menaruh harapan pada bintang jatuh saat diri mereka sendiri tidak mampu mewujudkannya?

--Ya, tinggal kita tunggu keajaibannya saja.
.
.
.
(our)Shooting Star.
Pairing: kouhai!Eren Jaeger x senpai!Levi Ackerman
Fandom: Attack on Titan
Rating: K+ (semi T)
Genre: Romance

Warning: Gaje, alur kecepetan, typo(s), terlebih lagi Shounen ai, boy x boy. Diingatkan sekali lagi; cowok x cowok. Bagi yang gak suka atau yang homophobia, mending gausah baca demi keselamatan(?). Makasih. /hoi
.
.
.
"Senpai, mau menonton bintang bersama kami?"

Levi menoleh ke sumber suara, dan menemukan seorang adik kelasnya tengah menatapnya gugup. Diulang; SEORANG adik kelasnya. Mata Levi menerawang ke sekeliling bocah itu, mencari sosok lain selain orang yang dua tahun lebih muda darinya ini.

"Senpai?"

Levi tersadar. Pandangannya kembali teralihkan ke wajah laki-laki bernama lengkap Eren Jaeger itu. "Kami, kau bilang? Tapi kau 'kan cuma sendiri, bocah."

Eren menghela nafas. Kesal, memang. Bagaimana tidak kesal? Ia sudah menyiapkan diri (nyali, terutama) sedemikian rupa untuk mengajak seniornya itu pergi bersama, malah mendapat jawaban seperti itu. Namun biar bagaimanapun, ia memaklumi sosok Levi yang memang terbilang cukup sering mengoreksi perkataan orang lain. Menuntut, bisa dibilang.

"Baiklah, terserah senpai mau bilang apa, intinya; aku dan teman-temanku berencana untuk pergi melihat bintang bersama-sama, namun memang kenyataannya aku sendirian sekarang karena mereka sedang di kelas," Eren tersenyum gugup. "Jadi, kuulang... maukah senpai ikut kami?"

Levi terdiam, lalu berbalik. "Tidak."

Singkat. Padat. Jelas. Kejam. Lagi, Eren menghela nafas. Dan lagi, ia hanya bisa memaklumi Levi. Sifat dan kata-kata dari sosok yang terbilang jauh lebih pendek darinya itu memang terkenal kejam dan seenaknya. Tanpa perasaan, bisa dibilang. Ditambah lagi, wajahnya yang datar tanpa ekspresi semakin membuat sosoknya disegani. Namun, malah semua itu yang berhasil membuat Eren jatuh cinta pada sosok itu. Memang, sudah sejak lama Eren menyimpan perasaan romantis pada senpainya yang satu itu. Hanya saja, banyak hal yang membuat dirinya tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya itu--salah satunya; fakta yang menyatakan bahwa mereka sama-sama laki-laki.

Sungguh, kalau dulu ia bisa memilih, ia lebih memilih menjadi perempuan--atau kalau bisa, Levi yang jadi perempuan--karena biar bagaimanapun, dia tetap ingin mempertahankan statusnya sebagai laki-laki.

Kembali pada kenyataan, Eren mengejar sosok itu yang mulai berjalan menjauh. "Tapi, senpai," Levi menghentikan langkahnya dan menatap Eren dengan tatapan bertanya. "Kami masih tiga orang, jadi pasti akan sangat sepi kalau kau tidak ikut,"

"Lalu kenapa tidak mengajak yang lain?"

Ingin rasanya Eren berteriak sekencang-kencangnya sekarang. Sebenarnya apa yang diinginkan sosok dihadapannya ini, sih?

"I-itu--"

"Kenapa harus aku?"

Eren menarik nafasnya. Ia teringat perkataan Hanji--teman sekelas Levi--, bahwa cara untuk membuat Levi bungkam--dengan kemungkinan berhasil terbesar; 35%--adalah berbicara jujur. Karena ini Levi, maka "jujur" yang dimaksud adalah jujur sejujur-jujurnya, tanpa menyembunyikan hal sekecil apapun.

Dan Eren memang akan melakukan hal itu.

"Karena aku... ingin mengenal senpai lebih jauh..," Eren tersenyum lembut--membuat Levi meneguk ludah. "...tidak ada salahnya, kan?"

Levi menatap mata Eren dalam-dalam--berusaha mencari setitikpun kebohongan dari perkataan Eren barusan. Namun ia tahu--mata Eren yang membuktikannya; bahwa si empunya mata sudah jujur.

(our)Shooting Star. [Eren x Levi (Ereri)]Stories to obsess over. Discover now