Prologue

54 3 2
                                        

Dibutuhkan segera, cassier yang sudah mempunyai pengalaman kerja selama satu tahun, minimal lulusan Strata 1—' Coret!

"Yang benar saja! Untuk menjadi tukang hitung uang saja diharuskan untuk lulus dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana, apa susahnya menghitung uang belajaan, sih?"

Baekhyun membuang koran itu dengan gemas. Percuma mengabiskan waktu dengan sederetan lowongan pekerjaan yang tidak bisa pas dengan seleranya, hal itu malah membuat mood-nya semakin jatuh ketitik dasar. Untuk menjadi seseorang dengan pekerjaan yang bergaji rendah saja harus memenuhi segala teteng bengek persyaratan yang bahkan terlalu muluk jika dibanding dengan pundi-pundi dollar yang akan dia raih. Hft, ia tahu kalo ini memang resikonya hidup di era zaman sekarang, yangmana untuk mendapatkan sesuap nasi saja dia harus merengek kepada nasib, terkecuali kalau dia adalah keturunan ningrat yang harta warisanya tidak akan habis bahkan saat dia sudah mempunyai sembilan keturunan. Dan malang nian nasib hayati, Baekhyun hanya anak biasa, lahir dari rahim ibunya dengan keadaan melarat. Menangis saat pertama kali mencoba dipisahkan dari sang ibu. Menelusup ke dada ibunya guna mencari sumber kehidupan yang bisa membuat bibirnya terbungkam. Tolol-nya Baekhyun jika ia menganggap pada saat itu dia seolah mendengar; "lekaslah mati nak, kau tidak akan sanggup hidup di dunia ini."

Dan pada akhirnya ibunya sendiri yang mati.

Pada saat itu dia masih berumur 3 tahun, tidak tahu-menahu mengenai apa itu perasaan dengan definisi terjelas. Yang ia ketahui tentangnya hanyalah rasa sakit di dada saat permenya direbut paksa oleh Mingyu, sahabat sepopoknya. Dan perasaan aneh yang meletup-letup seperti soda gembira saat dia mendapatkan dua stick Pepero dari Jonghyun saat ia secara tak sadar menatapnya dengan polos saat anak itu mencoba mengunyah batangan coklat itu dengan gerahamnya.

Tapi ia samasekali tidak bisa menjabarakan bagaimana sesaknya ia saat iris kecilnya melihat ibunya terbaring lemah di ranjang dengan nafas nafas kembang-kempis seperti akan mati saat itu juga. Endogma. Paru-paru ibunya kemasukan cairan, Baekhyun tidak mengerti apa itu, makna terjelas yang bisa dia tangkap dengan otaknya adalah saat tetangga-tetangganya mencoba untuk membujuk neneknya agar mau dipinjamin beberapa gepok uang, tapi yang Baekhyun sesalkan dari keputusan neneknya adalah dia yang menolak tawaran baik itu dengan argumen; Sudah tidak ada harapan lagi, Tyames sudah ada di depan pintu untuk menjemputnya.

Dan memang benar begitu, abu ibunya begitu lembut. Ia tidak mengerti, padahal neneknya bilang kalau dia itu terlahir dari untaian dosa yang ibunya perbuat. Tapi Baekhyun melihat ibunya meninggal dengan keadaan berseri, terlepas penuh dari kesan mengerikanya saat ia sekarat. Ia begitu cantik. Hft memang kalau sudah berhubungan dengan keesaan Tuhan dan segala rahasianya, tidak ada satupun manusia yang bisa menerka dengan jelas kemana ia akan berhuni saat sudah mati nanti.

Baekhyun hanya tinggal berdua dengan neneknya setelah itu, mereka pindah ke Incheon, hitung-hitung berusaha untuk meperbaiki nasib. Setidaknya memang nasib yang lebih baik dari sebelumnya perlahan mulai memberkahi rumah minimalis hunian mereka. Baekhyun bisa lulus SMA tanpa kendala yang berarti saja sudah cukup. Tapi Baekhyun sadar diri, lulus di jenjang Sekolah Menengah Atas tidak memperbolehkanya berharap terlalu banyak untuk merubah nasib. Hidup di dunia ini tidak semudah saat kau mencoba untuk memungut kerikil yang menghalangi jalanmu, jadi Baekhyun pasrah saja saat langkah kecilnya membawanya untuk menapaki jalan trotoar dan mencari ruko atau rumah makan yang sekiranya terdapat tulisan 'help wanted' di kaca atau pintu masuknya. Dan tidak perlu menghabiskan terlalu banyak enerji untuk menemukan itu selama kau tinggal di distrik yang mayoritas penduduknya lebih mementingkan gengsi dan menjunjung taraf tertinggi dalam mencari pekerjaan.

'I Got ya! Semoga ini berhasil, Dewa." Baekhyun menarik nafas, mengisi paru-parunya dengan molekul oksigen yang mengayomi organ lainya untuk bekerja dengan baik. Setidaknya itu akan membantu membuatnya terlihat lebih santai, karena demi Santa! Menarik nafas saja terasa seperti pekerjaan berat saat ini, seperti menjadi kuli bangunan! Baekhyun menatap restoran itu dengan ragu, menimang-nimang apakah dia akan diterima dengan hormat atau justru sebaliknya? Ditendang keluar dengan bokong perih yang mencium aspal. Ugh kan! Mindernya udah maju duluan, huft.

Baekhyun masih terdiam di sisi kiri jalan. Toko itu tepat berada di sisi kanan dan memungkinkan Baekhyun untuk melihat aktifitas di dalamnya.

Denting lonceng bagai nyanyian surga yang dapat membasahi gurun sahara, Baekhyun tidak berkedip saat hazel kecilnya menangkap jelmaan malaikat keluar dari resto itu, sosoknya begitu bersih, putih dan seperti kanvas yang siap ia nodai kapan saja. Rambut berkilaunya bagaikan untaian benang emas yang berkilat saat terpapar sinar matahari. Ugh, postur tubuhnya tinggi, seperti manekin berjalan, tatapan matanya bagai kepingan salju ya mengoyak dada Baekhyun dan mengukir perasaan aneh di hatinya.

E-eh tapi tunggu?! Sejak kapan orang itu selesai dengan sampah-sampahnya? Baekhyun mengumpat di dalam hati saat ia tertangkap basah tengah menilai fisik seseorang dengan matanya yang jelalatan seperti ulat bulu. Ugh, tiba-tiba kebelet pipis saat orang itu malah menghampirinya dengan gerakan slow motion. SIAL! BERHENTILAH TERPESONA!

"Sedang apa kau disini? Mengemis? Maaf kami tidak ada uang receh,"

Nacep. Ngena banget ampe Baekhyun lupa siapa namanya dan untuk apa dia datang kemari.

"Kau mendengarku? Kalau tidak ada kepentingan sebaiknya kau pergi, Tuan. Pelanggan kami takut melihatmu,"

KAMPRET! DIKIRA AKU SETAN APA?!

"Aku bukan makhluk halus," Baekhyun bersungut-sungut menghadapi lelaki itu, luntur sudah semua rasa kagumnya. Bagaikan debu yang tertiup angin muson.

"Lantas apa? Makhluk kerdil? Tuyul maksudmu, Ah.. sudah-sudah kalau tidak ada kepentingan sebaiknya kau pergi saja, aku juga yakin kalau kau tidak ingin makan disi—"

"Aku 'kan mau melamar pekerjaan," Baekhyun memotong ucapan lelaki itu karena jika diteruskan ia khawatir dia akan naik darah dan pulang dengan keadaan sudah menjadi mayat setelah didiagnosa mengidap hipertensi akut.

Lelaki itu menimang, memperhatikan Baekhyun dari atas sampai bawah, tidak melewatkan sejengkal pun tubuh Baekhyun untuk diamati. Baekhyun jadi risih sendiri, "Apa lihat-lihat?!" Menyilangkan tangan di dada seperti perawan, lelaki itu tersenyum.

"Boleh juga kau. Kemari, kuperkenalkan kau kepada Bos-ku,"

Baekhyun memekik senang, semudah itukah?

END PROLOG WEK:V VOMENT?:'')

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 23, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Get Ur AttentWhere stories live. Discover now