Aku berbeda dengan mereka. Mereka yang selalu meneriakimu seperti orang gila. Mereka yang selalu mencari perhatianmu hingga mereka siap melakukan apa saja. Aku tak bisa menyalahkan, bukankah itu namanya juga berusaha? Setiap orang punya usaha sendiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mereka berusa mendapatkan perhatian darimu dengan segala tingkahnya yang membuatku ingin muntah.
Aku tak tahu apa istimewanya dirimu. Kamu itu sama saja dengan laki laki lain. Tubuh tegap dan tinggi, kulit agak tan, wajah ras asia, dan mata itu.. Jangan Tanya, aku benci mata itu. Mata abu-abu yang akan membuatmu kehilangan kewarasan. Pesan dariku, jangan pernah menatap mata abu-abu itu selama 3 detik! Terkecuali kalau buta.. ups! Nah, apa yang istimewa darimu?
Aku memutar bola mataku malas. Kenapa kau sering berulah dan menyita jam pelajaran di kelas, hah? Aku tak peduli denganmu, aku masih ingin belajar. Kenapa kau begitu egois, mengorbankan teman sekelas yang juga ingin belaj—Ah.. sepertinya, tidak! Hanya aku yang ingin. Terserah. Aku menendang kursiku kasar, memelototi mereka yang tak mungkin memandangku balik, menghentak hentakkan sepatu yang terlihat tak berguna. Aku hanya melampiaskan emosiku. Aku tahu, kamu popular, tapi tak harus mengerjai guru hingga harus bolak balik kamar mandi seharian. Kau tahu, rasanya sangat tak enak. Kalau itu aku, aku memilih tidur di kamar mandi dari pada harus bolak balik. Astaga.. Jangan sampai terjadi padaku!
"Gwen.. Dari mana saja?" Fanny salah satu penggemarmu yang kusebut sebut di atas tadi.
"Aku. Perpus. Kenapa." Ketus, yah.. Memang. Kenapa? Tak suka? Bodo amat!
"Semua kena sembur marahan Mrs. Acha! Apalagi saat tak ada dirimu di kelas" Guru itu memang sangat sayang kepadaku. Tak heran jika mereka menganggapku anak kesayangan Mrs. Acha.
"Oh. Baguslah." Sudut mataku mengarah kepadamu, yang ku tangkap hanya seringai bodoh darimu, tapi yang jelas bukan untukkulah. Tatapanmu mengarah kepada dia, Grace. Hahaha.. aku tertawa kepada diriku sendiri. Bodoh jika aku tertarik dengannya, bukan? Aku hanya akan ditolak mentah dan berujung sakit hati. Kalau sudah sakit hati, aku akan menagis seharian di kamar tanpa melakukan apapun. Lupakan!! Berharap teramat tinggi, hanya akan membuatmu jatuh teramat sakit.
Aku tak pernah berbicara denganmu, kamu bahkan tak mengerti namaku. Aku ingat tiga hari lalu, saat Mrs. Acha menyuruhmu mengerjakan essai dipapan tulis dan kamu tak bisa menjawabnya. Mrs. Acha menyuruhmu memanggilku untuk meneruskan kerjaanmu yang bahkan belum kau kerjakan sama sekali. Ingat apa yang kau ucapkan? Harusnya kau mengingatnya dengan jelas.
"Mrs. Acha.. Yang bernama Gwen sepertinya tak ada di kelas ini!" Semua teman sekelas menertawaiku. Aku menyunggingkan senyum pahit saat kau tak mengenaliku. Kecewa? Tersinggung? Sangaaaat!
Ahh.. Tiba-tiba aku teringat saat pertama bertemu denganmu. Menggelikan hingga aku ingin tertawa. Saat pulang sekolah, hujan lebat mengguyur. Bodohnya aku, aku memberikan payung satu satunya yang ku bawa untukmu. Tanpa sepatah kata, hanya meraih tanganmu dan memberi payung itu. Aku pergi dan berlari, bersembunyi dalam derasnya hujan. Boleh aku bertanya? Apa payung itu masih kau simpan? Aku melirikmu sekilas, dan kau masih tertawa dengan lelucon bodoh dari temanmu itu. Bahagia, hanya itu yang ku tangkap dari raut wajahmu.
"Ada seseorang selalu membantuku saat sulit! Anehnya, terjadi setiap saat! Aku lupa membawa baju olah raga beberapa hari lalu, tiba-tiba ada yang menaruhnya di tasku, dan itu masih baru." Aku tak sengaja mendengar ceritamu. Maaf! Salah sendiri berbicara terlalu keras. Kau memang punya banyak fans, tapi tak perlu menyombongkan diri.
"Aku lupa membawa kanvas saat tugas kesenian 3 bulan lalu, tiba- tiba ada yang memasukkan ke lokerku. Semuanya... Mulai dari hal kecil sampai besar. Bahkan saat aku kehilangan dompet dan handphone enam bulan lalu, keesokan harinya barang itu sudah ada dibawah kolong meja ku ini. Aneh bukan?" Seharusnya kau berterima kasih, bukan mengatai aneh. Kau mempunyai secret admirer, bodoh! Kepalaku menunduk, membuka novel yang baru kubeli kemarin. Sudut mataku ku arahkan kepadamu lagi, hanya mewaspadai sesuatu.
"Ini lebih parah! Dia tahu apa yang aku inginkan dalam fikirkan! Aku memikirkan menginginkan sesuatu, kebesokannya sesuatu itu sudah ada di depan mata!" Berlebihan sekali.. Itu namanya secred admirermu sangat peka, bodoh! Hargai dia, sulit mendapatkan apapaun yang kau mau. Barangnya mahal dan limited edition. Gila!
"Dan ini gila! Saat aku dikolam renang, ada yang mendorongku. Kakiku terkilir dan orang itu menyelamatkanku lagi. Dia membawaku ke pinggir dan menarikku ke atas. Saat aku membuka mata, dia sudah raib! Tapi aku mengetahui sesuatu.. Dia perempuan!" Ohh.. Sial! Beruntungnya dirimu! Seharusnya, biarkan dia mati saja!
"Setelah hari itu, bahkan sampai sekarang, dia selalu mengirim obat-obatan dan beberapa makanan faforitku. Tak jarang, dia juga mengirim buku-buku tambahan belajar yang harganya mahal! Saat hujan, selalu ada payung atau jas hujan. Apapaun yang kubutuhkan, selalu dipenuhi. Kapanpun aku kesulitan, dia selalu membantuku. Dia selalu tepat waktu. Mungkin dia keturunan cenayang!" Apa katamu? Cenayang? Cenayang lebih suka mengejar roh-roh jahat daripada mengejarmu. Kau yang gila! Bukan, secret admirer itu yang gila! Sebegitu gilanya dia, hingga ingin membuatmu bahagia? Apa istimewanya dirimu, bodoh? Jika itu aku, aku akan mengirim kotoran kepadamu setiap hari.
"Satu.. yang mengherankan.. Dia tak pernah mengirim surat, bunga ataupun coklat! Bahkan dia tak meninggalkan jejak apapun! Seakan dia benar – benar tulus dan tak ingin aku mengetahuinya" Cukup! Kau banyak berbicara hari ini, aku sangat ingin menyumpal mulutmu dengan novel tebal yang ku baca ini. Secred admirer tak mungkin menunjukkan identitasnya, karena dia benar-benar tulus. Bunga? Emang kau kuburan, harus ditaburi bunga? Dan coklat? Lama lama kau akan kena diabetes karena terlalu banyak makan coklat. Ah.. sudahlah! Aku menyesal kembali ke kelas dan mendengar clotehanmu yang tak berujung. Harusnya aku tetap di perpustakaan.
O0o0o0o0o0o0o0O
"Aku benci melihatmu hanya makan mie instan setiap pagi! Aku tahu kau sangat menyukai sushi dan susu coklat, jadi aku membawakannya!" Perempuan itu menaruh jaket dan makanan yang dia bawa di atas bangku Rafa, laki laki terpopuler di sekolahnya. Dia mengendap endap berharap sang pemilik bangku tak mengetahuinya seperti hari-hari kemarin. Tujuannya hanya ingin membuat Rafa bahagia. Sederhana, bukan? Walaupun akan ada cinta tak terbalas, bukan masalah lagi bagi perempuan itu. Melihat orang yang dia sukai bahagia, sudah membayar apa yang dia lakukan selama ini.
"Rafa.. Semoga kau mendapat pasangan yang mencintaimu dengan tulus! Pasti dia menjadi perempuan beruntung karena telah mendapatkan cintamu!" Ucapnya tulus.
GREEEP~ Sebuah pelukan dari belakang, menyentak tubuh perempuan itu hingga menegang.
"Sebaik apapun kau sembunyi, jejakmu akan tercium juga. Siapa lo?" Rafa membalikkan tubuh itu dan.. Kaget. "GWEN? Lo.." Tanpa babibu, Gwen menyentak tangan Rafa yang menggenggamnya. Berlari sekencang mungkin menghindar Rafa. Sial! Dia ketahuan.
Keesokan hari...
"Anak-anak.. Mulai hari ini, Gwen Bella pindah sekolah ke Surabaya!" Singkat, padat dan jelas. Pemberitahuan dari Mrs. Acha sukses membuat siswanya menegang kaget dan bingung.
Salah satunya..
Rafa.
Gue bahagia banget saat tahu secred admirer gue itu lo, Gwen! Lo pengen lihat gue bahagia, kan? Bahagia gue itu saat lo naruh perhatian kecil itu sama gue. Dan.. sekarang lo pergi? Apa gue sanggup ngejar lo? Bahkan gue belum sempet ngucapin, "Sebenernya, lo udah berhasil sejak lo minjemin payung itu! Dan.. Gue kira, gue udah mulai suka sama lo, Gwen~"
End------
ESTÁS LEYENDO
Secred Admirer, katanya??
Historia CortaIni cerpen pertama pertama yang saya luncurkan ke watty. Semoga tidak membosankan.
