14

22.9K 945 22
                                    

Fatih Pov 

Sebenarnya aku malas untuk kembali keruangan bintang lagi, namun nyatanya meskipun begitu ada sesuatu yang membuatku ingin kembali kesana.

Sesampainya diruangan bintang, ternyata orang tua bintang sudah sampai sejak tadi, kulangkahkan kakiku untuk menghampiri mereka berdua dan menjabat tangan mereka berdua.

"Bagaimana keadaan bintang, Om, tante?" tanyaku. Dan kali ini mataku tertuju pada lelaki yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu diseberang ranjang bintang.

"Dia sudah sadar dan sudah makan ya walaupun hanya sedikit, tapi dia mengatakan ingin beristirahat lagi" aku mengangguk mendengar jawaban tante Fatma.

Kulangkahkan kakiku untuk duduk disamping rayhan dan menjaga jarak darinya, dia masih sesekali melayangkan tatapan sinis kepadaku.

"Om mau berbicara dengan kalian berdua" suara Om Bram mengeinterupsi, "kita keluar sebentar"

"Baik Om" jawabku.

Om Bram mengajak kami untuk keluar dari ruangan karena tidak ingin mengganggu istirahat bintang, tampak tante fatma hanya mengangguk saat om bram berpamitan untuk keluar.

Saat ini kami sudah berada ditaman rumah sakit yang sudah sedikit sepi, om bram mempersilahkan aku dan rayhan untuk duduk di bangku taman dan mulai untuk membuka pembicaraannya.

***

Rayhan Pov

"Om tahu, ini mungkin terkesan tidak adil untukmu ray" om bram menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kamu seharusnya tahu, Bintang dan Fatih sudah menikah, lantas apa lagi yang kamu harapkan?" Tanya om Bram.

"Saya mencintai putri anda, Om. Dan saya akan melakukan apa saja untuknya" jawabku tegas. Sesekali aku melirik ke arah lelaki yang duduk disampingku ini. Fatih.

"Apa kamu sadar, seseorang yang kamu cintai itu sudah menikah dengan pria disampingmu ini?"

Aku terdiam, seperti mendapat sebuah tamparan kenyataan pahit aku mendengarkan itu, seakan oksigen didunia ini sudah menghilang entah kemana sehingga membuat paru-paruku semakin sesak.

"Saya tau om, tapi-"

"Om, mohon padamu nak. Biarkan bintang hidup bersama nak fatih. Karena bagi bintang, permintaan rena adalah sebuah perintah untuknya," aku tersentak kaget om bram berlutut padaku, dan tampak fatih membantu om bram untuk kembali berdiri. "Om tahu benar, Bintang benar-benar sangat tersiksa dengan ini semua. Dia seperti orang yang tak punya jiwa seminggu ini, dia tampak sangat mengkhawatirkan. Om takut jika terjadi apa-apa padanya. Om bisa pastikan, jika dia masih punya pilihan lain, dia tidak akan mungkin mau untuk melakukan hal itu, terlebih dia menikah dengan suami sahabatnya sendiri, tapi lagi-lagi itu karena rena, karena rena menyerahkan anaknya pada bintang, karena menurutnya bintanglah yang bisa menjadi sosok ibu untuk anaknya,"

"Bisakah kamu mengerti posisinya, nak?" Tanya om bram,

Aku masih tak bergeming, otakku kali ini benar-benar tidak bisa ku ajak untuk berfikir. Aku mengusap wajahku kasar. "Lalu, apa yang om minta dariku"

Om bram tampak menatapku, "Biarkan bintang hidup bersama fatih nak, mungkin itu yang terbaik untuknya."

Aku menunduk, rasanya bukan lagi seperti kehilangan oksigen dan kesulitan bernafas. Tapi melainkan seperti jiwa yang ditarik paksa untuk keluar dari raga. Sakit.

"Baiklah, akan aku lakukan itu untuknya." Kulihat fatih tampak terkejut mendengarkan jawabanku.

*

Takdir CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang