Sekali Ini Saja

609 19 0
                                        


Sebait kisah tentang perasaan yang bersarang lama namun tetap harus kalah dengan ideologi dan prinsip. Karena yang setia sekalipun tetao kalah dengan yang seagama.

...

Aku hanya berani memandangnya dari sini. Dari tempat yang tak akan terjangkau. Dari tempat yang tak bisa ia lihat. Mempercayakan semuanya pada Tuhan dan takdirnya.

"Fy!! Bengong aja" Via menepuk pelan bahuku seraya merangkulku. Mengikuti arah mataku memandang dan ia pasti sudah tau siapa yang kupandang sejak tadi. Via kelewat hapal dengan apa yang aku kerjakan dijam jam istirahat seperti ini.

Mataku kembali melihat kearah lapangan. Aku tersenyum kecil ketika dia, orang yang kupandang sejak tadi berhasil memasukkan bolanya kegawang. ada tawa yang tercetak dan demi apapun aku begitu menyukai tawanya. Tak terasa sudut bibirku ikut terangkat. Ikut bergembira dengan kemenangannya.

"Udah lagi fy.. masih aja! Move on, move on!!"

Suara via, sahabatku, seolah hanya angin lewat untukku. aku tahu ucapannya tak sepenuhnya menyudutkanku, ia hanya ingin aku benar-benar meninggalkan sosok itu. Tak menjadi bayang-bayangnya, tak lagi menjadi pengagum rahasianya. Tapi apa daya, hati yang digerakkan Allah ini memilihnya, memilih laki-laki yang mempunyai tempat yang berbeda ketika bersujud. laki-lakk yang punya cara yang berbeda dalam memuja Tuhan.

Via meninggalkanku ketika tak mendapat reaksi apapun dariku. Aku hanya memandang punggungnya yang dihiasi rambut indahnya yang tergerai. hanya satu pintaku vi saat ini

"jangan pernah berhenti mengingatkanku untuk berhenti mencintai kak Rio"

Aku kembali memandang lapangan utama sekolahku. Tempat dimana team futsal kak Rio tadi berlatih. Kudengar-dengar tournament memang sebentar lagi. Tidak heran di jam istirahat seperti ini pun dimanfaatkan mereka untuk berlatih.

Kak Rio, sosoknya ramah dan baik hati. Siapapun kagum dengannya. Dia bukan orang terkeren disekolah. Dia pun bukan orang paling ganteng disekolah. Tapi yang aku tahu ia adalah orang paling baik yang pernah kutemui. Aku mengenalnya sudah lama. Bertahun-tahun lalu. hari dimana aku mulai menatapnya dengan cara yang berbeda.

***


Seorang gadis kecil berbusana muslim yang terlihat sudah kotor tengah menangis sesenggukan. Tangannya terus melap air matanya yang terus jatuh. Kaki kecilnya tanpa alas. Ia berjalan terus entah kemana.

"Hiks hiks"

"Kamu kenapa??" Gadis kecil itu terlonjak kaget ketika tiba-tiba ada anak laki-laki muncul didepannya. Tak kuasa karena terlalu kaget ia pun menangis lebih kencang. Anak laki-laki itu sedikit terkejut dan langsung memeluk gadis itu. Membuat tangis gadis kecil itu seketika terhenti. Anak laki-laki berkaos merah itu melepas pelukannya dan tersenyum kearah gadis itu.

"Mamaku selalu melakukan itu kalo aku nangis. Dan itu buat aku senang"

***

Suatu hari di sela-sela padatnya kegiatan kelas tiga yang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional Ify tanpa sengaja melihat sosok itu tengah duduk lesu di depan kelasnya. Wajahnya terlihat kacau, Ify cukup prihatin melihatnya. Hampir semua kakak kelasnya yang akan mengikuti UN berwajah seperti Rio. Seberat itu mengikuti ujian naaional dan setidak adil yang terlihat ujian nasional itu. Seolah perjuangan disekolah selama tiga tahun akan ditentukan dalam satu hari. Impian perguruan tinggi yabg sudah lama ada diangan juga ditentukan dihari yang sama penentuan kelulusan.

Senandung CintaWhere stories live. Discover now