SEVENTEENTH : THE NIGHT

578 37 0
                                        

Hari berganti malam dari senja. Angin dingin masih berhembus kencang dan berlalu-lalang memasuki jendela kamar flatku ini. Aku membiarkannya. Membiarkan angin musim gugur terus melewati tubuh ini.

Bosan.

Tak ada yang dapat aku lakukan disini. Lyon adalah kota yang baru sekali aku singgahi. Dan mungkin ini yang menjadi terakhir kalinya aku kesini.

Pintu flat terketuk. Aku yang sedang menyesap air teh hangat harus meninggalkannya dan berjalan menuju pintu. Berjalan dengan tenang. Dan ternyata si tamu masih sabar untuk menunggu.

Aku membuka pintu,ternyata Kinan yang sedang berdiri di depan pintu flat. Dia tersenyum manis. Tapi hatiku berbeda. Hatiku tidak secerah dulu ketika aku melihat senyumnya. Hatiku tidak sesenang dulu ketika senyumannya terlukis.

"Mau nemenin gue jalan-jalan?"kata Kinan. Aku mengangguk. "Tunggu sebentar"kataku. Aku segera berbalik mengambil jaket team softballku dan keluar,menemani Kinan jalan-jalan.

Sepanjang jalan,hanya keramaian lalu lintas kota Lyon yang terdengar disertai hembusan angin yang meniupkan dedaunan. Kami berjalan di trotoar. Mengikuti arah langkah kaki kami.

"Lo tau... penyakit gue semakin parah. Macem-macem terapi udah gue lakuin sampe rambut gue hampir gundul. Tapi yang bikin gue semangat untuk sembuh itu adalah elo dan Avril"kata Kinan ditengah perjalanan.

"Kenapa gue?"kataku.

"Karena lo,lo adalah sahabat gue yang... mungkin gabisa diungkapin dengan kata-kata. Dan Avril... sebenernya dia adalah orang yang paling berkorban dalam hidup gue"kata Kinan.

Aku termenung sejenak. Memikirkan dan memilah perkataan Kinan secara rinci. Tak ada yang janggal. Hanya saja hati ini ragu akan semua yang di ucapkan oleh Kinan. Bukannya aku tak percaya,tapi hatiku masih ragu.

Aku terdiam dan Kinan pun menghentikan langkahnya.

"Asalkan lo tau,Bay. Gue juga sebenernya sayang sama lo,bahkan gue cinta sama lo. Sejak saat pertama kali kita ketemu,gue udah yakin kalo lo adalah cowok yang baik buat gue. Tapi bukan gue cewek yang pantes buat dapetin lo"kata Kinan.

Ki-kinan... Ki-kinan... dia juga sayang dan cinta sama gue? Kenapa tadi dia nolak gue?

"Lo pasti bingung kenapa gue nolak lo,gue ini pernyakitan Bay. Kalo lo pacaran sama gue,lo pasti kesusahan ngurus gue. Gue gamau lo kayak gitu,lo harus fokus sama tujuan pertama lo ke Paris. Gue mau lo hepi sama cewek selain gue. Gue tau,gue egois. Tapi sumpah,egoisnya gue saat ini adalah untuk kebaikan lo kedepannya. Gue gamau kal--"

Belum selesai omongan Kinan,aku segera memeluknya. Mendekapnya erat seakan aku tidak mau dia pergi lagi dari hidupku ini. Entah mengapa,es di hati ini segera hancur dan menimbulkan luka yang lebar,lagi.

"Gue sayang sama lo,gue cinta sama lo apa adanya. Gue rela nerima lo meskipun lo kena kanker. Gue rela nemenin lo saat lo terapi. Gue rela ngelakuin itu semua,Nan. Gue rela"kataku.

Dia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum miring.

"Tapi gue gabisa,gue mau liat lo sedih untuk kesekian kalinya. Gue itu beban buat lo,Bay. Hidup lo akan selalu fokus sama gue dan gue gamau ngeliat itu"kata Kinan yang segera melepaskan pelukannya.

"Kinan... please. Gue mohon,kita jalanin aja dulu"kataku. "Keputusan gue udah bulat,enggak"katanya lantang. "Asalkan lo tau,gue lebih suka kalo lo pacaran sama Avril ketimbang gue"lanjut Kinan.

Avril?! Gadis itu?!

"Kenapa harus Avril?"kataku. "Karena dia yang rela ngorbanin elo demi gue. Dia suka sama lo pas ngeliat lo di sekolah pertama kali. Dia sayang sama lo ketika lo peduli sama gue. Dia cinta sama lo,dan gue gatau itu sejak kapan. Dia selalu nangis ketika lo nyebut nama gue. Dia sakit hati"kata Kinan.

BienvenueWhere stories live. Discover now