Chapter 2 : The Letter

502 68 16
                                        

Chapter 2

Hi readers. Wew, it's a bless having you guys here. Thank you for appreciating my story. And it would be super lovely if u guys click the vote button later.

Aku masih mengingat dengan jelas saat Fuuko mengetuk pintu depan apartemenku.Raut wajahnya menyiratkan ketakutan yang mendalam, dengan tergesa-gesa ia masuk ke apartemen dengan sepatu super kotor. Aku tahu Fuuko tahu peraturan di apartemen ini, semua orang harus melepaskan alas kakinya sebelum menginjak ruang tamu. Itu adalah sesuatu yang selalu kutemui di Jepang dan menerapkannya disini merupakan sesuatu yang sangat berguna. Fuuko biasanya dengan sopan melepas sepatu uggs nya. Hari ini tidak dan semua makin membingungkan ketika ia menyerahkan bayinya kepadaku,

"Kau harus menjaganya," ujarnya dengan gagap. Tatapan matanya kepadaku mengatakan bahwa ia sedang ketakutan dan dihantui oleh sesuatu. Sesuatu yang berbahaya. Dan saat itupun aku menyimpulkan bahwa dia depresi. Setelah menyerahkan bayinya kepadaku, ia pergi.

Begitu saja.

Dengan bayi ditanganku, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Dia tidak menyerahkan popok atau susu atau apalah yang berhubungan dengan dunia ke-bayi-an. Aku juga bukan tipe orang yang pandai mengurus bayi, for god sake i'm a man and majoring in electrical engineering!

Dan kau tahu apa ? Keesokan harinya, ditemukan sisa darah yang sangat banyak di apartemennya. Darah nya. Darah Fuuko. Kakakku hilang dengan darah nya di lantai. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku akan memberitahu orang tua kami. Ayahku punya penyakit jantung, aku tidak akan memberitahunya sampai kasus ini benar-benar selesai. Aku tidak mau menemukan dua anggota keluargaku 'hilang' dalam jangka waktu 1 minggu.

Sebelum kita masuk kesana, mari kita mulai dari awal.

Fuuko bukanlah tipe orang yang suka cari masalah. Dia tidak pergi ke pub setiap hari untuk minum. Dia juga bukan gadis yang suka berganti-ganti pasangan. Well, untuk hal itu memang harus ada sesuatu yang perlu dicurigai. Setahun lalu, Fuuko datang ke apartemenku dengan berderai air mata dan mengatakan bahwa dia hamil. Pacarnya-entah siapa, dia tidak pernah menyinggung kehidupan percintaan nya padaku. Yang aku tahu, Hanazono Haru, bayi yang kugendong sekarang, tidak Jepang sama sekali. Kecuali bagian rambutnya, rambut hitam lurus itu merupakan identitas kami. Selebihnya, kau bisa menebaknya sendiri. Ia seorang Kaukasia. Mata biru besar dan struktur wajah itu bukan milik Jepang. Oh, apakah aku melenceng dari topik pembicaraan ? Baik, tunggu sampai mana tadi kita-oh! Jadi, setelah melahirkan Haru, orang tuaku agak marah dan sejauh yang kutahu Fuuko tidak ikut pulang denganku Juli lalu. Fuuko merupakan seorang mahasiswa jurusan seni Ludwig Maximillian University yang lulus musim semi tahun ini. Tepat setelah ia melahirkan. Dia telah bekerja sebagai kurator barang-barang seni sejak saat itu. Dan sekembali dari Jepang Agustus lalu, aku belum melihat Fuuko. Tidak melihatnya sampai malam itu, malam ketika dia menyerahkan bayi kecilnya kepada adik laki-laki yang kebingungan.

Aku menggendong Haru dengan posisi aneh, aku tahu bayi 6 bulan ini tidak nyaman denganku. Ia menangis dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Apakah dia haus? Mungkin dia haus. Aku berencana pergi ke minimarket, yang letaknya cukup jauh. Di cuaca seperti ini. Dengan bayi. You have no idea what am i suffering from. Sambil berjalan, aku memikirkan Fuuko. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Aku sangat dekat. Sangat teramat dekat dengan Fuuko. Jarak usia kami tidak terlalu jauh sehingga menjadikannya teman sangat mudah sekali. Satu hal yang kami tak pernah bahas adalah kehidupan percintaan. Saat dia kuliah dulu, Fuuko sering bercerita tentang seni-seni yang akan dia apresiasi saat menjadi kurator. Tetapi, setelah lulus dan menjadi-apa yang kalian katakan sekarang sebagai cum laude, dan mendapatkan tawaran pekerjaan besar, kami jarang bertemu. Aku hanya melihat Haru sekali saat Fuuko melahirkan. Aku tahu Fuuko sibuk dan aku tahu dia menyewa nanny untuk Haru. Jujur saja, sebelum kejadian sera-menyerahkan bayi, aku kira hidupnya baik-baik saja.

ChaseDonde viven las historias. Descúbrelo ahora