Setiap pagi Luke akan mengirimkan pesan selamat pagi dan yang kubalas dengan selamat pagi juga.
Tapi, hari ini berbeda.
Luke: aku merindukanmu.
Me: aku tidak.
Luke: kau yakin?
Me: tidak terlalu.
Luke: mau pergi keluar?
Me: mungkin.
Luke: aku akan berada di depan rumahmu 10 menit lagi.
Jujur saja. Aku mulai merasa sangat nyaman di dekat Luke. Bukan karena aku mencintainya. Belum. Hanya nyaman saja berada di dekatnya.
Benar, 10 menit setelah Luke terakhir mengirim pesan ia sudah di depan rumah.
"Mom, aku akan pergi bersama Luke. Jangan menghawatirkanku." Kataku.
"Jagalah dirimu." Ia memberi uang cadangan untukku membeli makanan atau sesuatu.
Aku berlari ke depan rumah dan menemukan mobil Luke yang terparkir di depan rumahku. Aku cepat-cepat masuk ke dalam mobil Luke.
"Hi, Tuan Hemmings"
"Hi, Nona Walker"
Kami tertawa.
"Jadi kemana tujuan kita hari ini?" Tanya Luke sambil menjalankan mobilnya pelan.
"Yang pasti tidak ke mall lagi, Membosankan kau tau?"
"Ya, aku tau."
"Rumah danau? Tidak. Hmm.." Aku berpikir keras untuk ini.
Luke mengambil handphonenya dan memainkannya. Tak lama sesudah itu ia melihat ke arahku.
"Aku tau tempat bagus."
"A--"
"shh, jangan komentar" Desis Luke.
Di perjalanan kami membicarakan banyak hal, dari novel terbaru hingga binatang peliharaan milik tetangga Luke. Tidak nyambung, tapi itu kenyataannya.
Luke tiba-tiba memberhentikan mobil di tepi jalan pinggir hutan. Tidak ada orang di sini. Mungkin hanya ada beberapa mobil melewati jalanan ini.
"Aku punya sesuatu untukmu." Luke mengeluarkan box kecil dari kantong celananya lalu menyodorkannya kepadaku.
"Apa ini?" Tanyaku seraya membuka box yang ternyata berisikan gelang. "Untuk apa ini? Maksudku aku tidak sedang berula--"
"Tidak ada" Sela Luke. "Kau tidak suka?"
"Aku suka, terima kasih."
Aku mencoba gelang itu, pas di tanganku. Hanya saja Luke mengapa tiba-tiba sebaik ini hingga memberiku gelang. Sial.
Beberapa menit kemudian, kita sampai di sebuah taman besar. Aku bisa melihat orang-orang yang sedang menikmati keindahan taman ini.
Aku keluar mobil karena tak sabar untuk menghirup udara segar taman.
"Aku suka di sini, Luke" Aku tersenyum lalu melihat ke arah langit yang biru. "Bagaimana kau tau tempat ini?
"Lihat google lah, aku tidak sekudet kau." Luke tertawa terbahak-bahak.
"Terserah." Aku memajukan bibir bawahku.
"Aku hanya bercanda, Jangan marah Paige." Luke mengelus rambut coklatku.
Kami terdiam, hanya suara angin dan jeritan tawa anak kecil di telingaku.
"Paige."
"Ya, ada apa?" Aku melihat mata Luke yang sedang terfokus ke aspal.
"Aku merasa nyaman ada di sekitarmu."
"Apa maksu-"
"Aku tidak merasakan amarah ataupun dendam jika berada bersamamu."
Aku terdiam. Aku bisa merasakan Luke menatapku yang sedang melihat birunya langit.
Luke's POV
Dia hanya terdiam tak bisa memberi jawaban, aku sudah tau itu.
"Luke." Dia memanggil. "Aku tidak tau bagaimana perasaanku, yang kutau hanya aku tidak bisa berhenti memikirkanmu." Aku tertegun mendengar jawabannya. "Luke, lihat aku."
Aku menoleh ke arahnya dan menatap matanya dalam-dalam. Paige menaikan alisnya menunggu aku bicara.
"Paige, aku juga tidak bisa berhenti memikirkanmu." Aku tertawa kecil.
Paige tersenyum lebar, "Ayo." Dia berdiri dan menarik tanganku.
"Kemana?"
Langkah Paige semakin lama semakin besar dan cepat. Ia tertawa-tawa sambil menggandengku mengelilingi taman ini.
***
"Luke." Terdengar suara dad dari ruang kerjanya. Aku mengabaikannya. Tapi suara itu terdengar lagi disertai batuk. "Luke"
Gubrak.
Aku melihat ke dalam ruangan kerja Dad dan menemukan Dad tergeletak di lantai dengan keadaan tidak sadar. Aku panik dan membawanya ke rumah sakit.
"Mr.Hemmings."
"Ya?" Aku menaruh handphoneku ke dalam saku celana.
"Dia sudah sadar." Suster itu mengangguk dan aku langsung masuk ke dalam kamar tempat Dad di rawat.
"Dad? Bagaimana keadaanmu?" Aku menarik kursi yang berada agak jauh dari kasur Dad.
"Lebih baik."
"Dad, maafkan a-"
"Aku memaafkanmu."
"Aku tidak bermaksud untuk tidak mendengarkanmu, hanya saja.. uhh.. aku tidak tau." Terangku.
"Ada suara yang membisikanku untuk tidak mendengarkanmu, itu terjadi setiap hari." Aku menundukkan kepalaku menyesal.
Dad mengelus rambutku dan tersenyum. "Dad juga mengalami itu saat remaja. Kau hanya harus melawannya, Luke."
'Aku tidak bisa.' Batinku.
Tapi aku sadar jika suara itu datang dari diriku sendiri, aku bisa mengontrolnya.
hai. maafkan updatenya lama:(
YOU ARE READING
Tourmenté (Bahasa Indonesia 5sos Fanfic)
FanfictionWalaupun begitu menyakitkan, Aku harus tetap bisa menutupi rasa sakit di hatiku. "Aku senang jika kau senang Luke." Batinku sambil tersenyum. Apakah mungkin semua ini berubah menjadi bahagia?
