1; Cahaya

359 14 8
                                        

The Black Side Of Me;
1. Cahaya

"Nur." Pria itu menyerukan namanya selagi berjalan cepat menghampirinya.

Gadis bersurai panjang itu tak mengubris panggilan Areno. Ia hanya menggerakkan netranya menelusuri seluruh isi taman. Areno menghembuskan napas pelan, lalu duduk di sebelahnya.

"Minumlah." Ujarnya lalu memberikan susu hangat.

Ia menggenggam susu itu, lalu membukanya, meneguknya cepat. Terlihat dari surai hitamnya yang terlihat acak-acakan, ia pasti benar-benar kacau. Areno menaruh tangannya di pundak kecil gadis itu, yang sekarang entah kenapa terlihat sangat rapuh, seolah akan hancur jikalau Areno menyentuhnya dengan kasar.

"Reno." Ia menggumamkan nama lelaki itu. "Terimakasih." Lanjutnya kemudian, terdengar lirih.

Areno tersenyum kecil, lalu merapihkan surainya yang berantakan. "Nur, nur, nur." Bisik pria itu saat sedang merapihkan rambutnya.

Netranya membesar saat Areno membisikkan namanya dengan penuh penekanan.

Cahaya, cahaya, cahaya.

Nur mendongak, menatap sepasang mata yang berada di depannya. Dalam satu kedipan mata, air matanya tumpah. "Aku benar-benar jahat telah menempatkan mu seperti ini." Ia bergumam lagi. "Reno, pergilah. Kau tidak perlu menderita lebih lama lagi."

"Sssh, Nur. Ini kemauan ku. Biarkanlah aku begini."

Air matanya tidak berhenti mengalir, membuat Reno harus menghapus tetes demi tetes yang jatuh mengikuti lekuk pipinya.

"Aku mencintaimu." Bisik Areno, terdengar lembut. "Itulah alasan mengapa aku tidak pernah berhenti mendoakan keselamatanmu."

Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar keras.

"Nurul!" Suara berat yang lain. Bukan milik Areno. Berseru nama lengkap si gadis.

Areno tersenyum pahit, sekali lagi menghapus air mata Nur yang masih tersisa di pipinya. "Pergilah, Nur. Kekasihmu sudah datang menjemput."

- 2015

Flash-fictionWhere stories live. Discover now