Chapter 10 : Spaces

137 12 5
                                        

Chap sebelumnya...

Dan kami pun larut dalam pikiran masing-masing, membuat ruangan ini hening seketika. Satu pertanyaan melintas di benakku dan tanpa bisa ditahan, pertanyaan itu keluar begitu saja. "Kau ini apa?"

-Author's P.O.V-

"Aku pulang." Niall membuka pintu penthousenya dengan wajah lesu, membuatnya dibanjiri tatapan pertanyaan dari Harry yang memang tidak kuliah hari itu

"Kau kenapa?" Tanya Harry antusias

Niall mengusap wajahnya, tampak frustasi. "Memalukan." Kata Niall sambil merebahkan dirinya di sofa ruang tamu dan memejamkan mata

"Ada yang salah?" Tanya Harry lagi

Niall menggeleng sambil tetap memejamkan matanya. Pikiran Niall masih melayang kemana-mana, tidak bisa kembali ke raganya yang sedang berbaring di sofa. Setelah keheningan yang lama dan membosankan itu berlalu, Niall bangkit hendak ke kamarnya dan beristirahat yang super banyak. Sesampai Niall di kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya di sana, teringat dengan sesuatu, ia langsung mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada Andrew dan kembali menelungkupkan wajahnya ke bantal di kasurnya

Hari yang melelahkan, pikir Niall. Niall sudah tenggelam dalam dunia mimpinya, memimpikan ingatan-ingatannya selama menjadi manusia

Harry mengganti-ganti acara di tv mencari yang menarik, sebelum seseorang mengetuk pintu penthouse mereka dengan tidak sabar

"Siapa?" Teriak Harry sambil tetap memfokuskan matanya ke tv

'Orang' di sisi lain pintu itu tetap mengetuk pintu yang sekarang sudah menjadi gedoran. Dengan jengkel Harry berjalan menuju cctv yang mengarah ke luar penthouse, Harry hanya bisa merutuki cctv itu karena tidak bisa fokus. Terpaksa, Harry pun menghampiri pintu sampai sesuatu yang keras menghantam pintu, membuat pintu itu terlempar dari engselnya dan mengenai Harry, Harry meringis kesakitan saat kayu di pintu itu menusuk kulitnya yang dingin. Pandangannya buram karena kepalanya sempat membentur meja di dekat pintu, sesosok bayangan berjalan menghampirinya, menarik kerah bajunya untuk memaksanya berdiri

"Dimana Protector itu?" Tanya bayangan itu pelan dan mengancam. Sadar ada seseorang yang mengincarnya, Harry hanya menggeleng lemah

"Dimana Protector itu?!" Bentak bayangan itu, membuat Harry menutup matanya, ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia belum pernah berlatih berduel langsung tanpa adanya tindakan gegabah

Sosok itu memberikan Harry sesuatu, membuatnya mati rasa, tidak dapat merasakan maupun menggerakkan anggota tubuhnya. Sosok itu menurunkan Harry di ruang tengah dengan kasar, membuat Harry hanya tergeletak di sana tanpa bisa bergerak. Berdoa dalam hati agar Niall tidak senasib dengannya, berdoa semoga keberuntungan memihaknya

Mendengar kegaduhan yang terjadi di bawah, Niall membuka matanya dengan berat dan mengintip ke luar kamar hendak meneriaki Harry. Niall kembali menutup pintu kamarnya panik melihat keadaan sahabatnya itu, Niall tidak bisa berpikir jernih untuk melakukan apa-apa, yang terlintas di benaknya hanya memberitahu Andrew tentang ini. Tangan Niall bergetar mengetik nomor Andrew

"Halo?" Terdengar suara dari ujung sana

"SOS." Kata Niall panik saat mendengar suara langkah kaki menuju kamarnya. Niall segera mengunci pintu dan mendorong lemarinya untuk mencegah orang asing itu masuk

"Niall, apa yang terjadi?" Tanya Andrew

"SOS, SOS." Kata Niall lagi saat mendengar sesuatu berusaha membuka pintu kamarnya. Niall mematikan sambungannya dan langsung mengacak-acak nakas di samping tempat tidurnya, mencari sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkannya, batin Niall melompat-lompat kegirangan saat mendapatkan handgun Diana di sana, tapi kembali merutuki nasibnya saat melihat bahwa tidak ada amunisi yang tersisa di sana. Niall teringat, ia sempat mengeluarkan semua amunisinya dan menaruhnya di suatu tempat. Perpustakaan, pikir Niall

Another World : Vampire?Where stories live. Discover now