Ada hal-hal dalam hidup yang tidak benar-benar berakhir ketika kita mengucapkan selamat tinggal.
Beberapa hal justru baru terasa setelah semuanya selesai.
Ketika percakapan terakhir sudah lama berlalu.
Ketika nama seseorang tidak lagi muncul di layar ponsel.
Ketika kita sudah berhenti mengetik pesan yang sebenarnya ingin dikirim.
Ketika hari-hari mulai berjalan seperti biasa lagi, dan perlahan kita menyadari bahwa seseorang yang dulu selalu ada di dalam rutinitas kita kini hanya tinggal sebuah nama di dalam ingatan.
Aku pernah berpikir bahwa bagian tersulit dari kehilangan seseorang adalah saat mereka pergi.
Ternyata aku salah.
Bagian tersulitnya adalah hari-hari setelah mereka pergi.
Hari pertama mungkin terasa aneh.
Hari kedua masih terasa kosong.
Minggu-minggu berikutnya kita masih sesekali ingin bercerita, lalu baru teringat bahwa orang yang biasanya menjadi tempat cerita itu sudah tidak ada di sana.
Bukan karena dia meninggal.
Bukan karena dia benar-benar menghilang dari dunia.
Dia masih hidup.
Masih menjalani hari-harinya.
Masih tertawa, bekerja, berbicara dengan orang lain, membuat kenangan baru, dan mungkin memiliki kehidupan yang sama sekali tidak lagi berhubungan denganku.
Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa berbeda.
Dulu, selama enam tahun, keberadaannya terasa begitu biasa.
Aku tidak pernah berpikir terlalu jauh tentang berapa lama kami akan berteman.
Kami tidak pernah duduk bersama lalu membuat janji bahwa kami akan tetap ada sampai bertahun-tahun ke depan.
Kami hanya menjalani hari.
Hari menjadi minggu.
Minggu menjadi bulan.
Bulan menjadi tahun.
Dan tanpa sadar...
enam tahun sudah berlalu.
Enam tahun sejak sebuah pertemuan sederhana di tahun 2020 mempertemukanku dengan seseorang yang awalnya bahkan tidak kukenal.
Enam tahun berisi percakapan.
Tawa.
Cerita-cerita kecil.
Hari-hari baik.
Hari-hari buruk.
Jarak.
Perubahan.
Dan begitu banyak hal yang mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi memiliki tempatnya sendiri di dalam ingatanku.
Aku pernah mengira enam tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang menjadi bagian tetap dari hidup kita.
Mungkin karena selama itu kami selalu berhasil menemukan jalan untuk kembali berbicara.
Sesibuk apa pun.
Sejauh apa pun.
Seberubah apa pun keadaan.
Selalu ada masa ketika kami kembali menjadi dua orang yang saling mengenal seperti dulu.
Karena itu, ketika semuanya mulai berubah, aku tidak langsung mengerti.
ESTÁS LEYENDO
AFTER SIX YEARS
No FicciónSix years can change a person. Setelah kehilangan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupku selama enam tahun, aku pikir hal tersulit adalah mengucapkan selamat tinggal. Ternyata, bukan. Yang lebih sulit adalah belajar menjalani hari-hari set...
