Aluna pernah berpikir bahwa kehilangan seseorang adalah hal yang paling menyakitkan dalam mencintai
Ternyata Aluna salah.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika menyadari bahwa selama lima tahun mungkin ia tidak pernah benar-benar dicintai
Terdengar suara getaran halus di sampingnya, satu nama muncul di layar
Raka.
Aluna menatap layar ponselnya cukup lama
Dulu, satu pesan saja dari Raka sudah cukup membuatnya tersenyum, namun sekarang namanya saja gagal membuat jantungnya berdebar
Lucu ya.
Lima tahun mengejar dan terus bergelut dengan perasaannya, lalu hanya butuh waktu beberapa minggu untuk tidak merasakan apa-apa lagi
Aluna membuka pesannya lalu menaikkan sebelah alisnya
"Kamu marah sama aku?"
Aluna tertawa pelan. "Marah?" Ucapnya pelan.
Setelah semua yang terjadi seharusnya Aluna membencinya. Tapi ternyata tidak, ia hanya lelah dan memilih untuk benar-benar melupakan laki-laki itu tanpa rasa benci
Aluna tidak marah. Hanya saja... ia kosong
Aluna mematikan layar ponselnya, ia tidak berniat membalas pesan tersebut. Tidak semua hal membutuhkan jawaban sama seperti Raka yang meninggalkan dirinya tanpa ucapan bahkan alasan apa pun
Bagi Aluna sekarang, Raka tidak lebih hanyalah seseoarang yang selama ini hanya datang ketika butuh sesuatu padanya
"Lun"
Aluna mendongak. Aksa berdiri di depannya, membawa dua gelas minuman, lalu meletakkan salah satunya di atas meja "Ini"
Aluna menatap gelas itu sebentar lalu kembali menatap laki-laki di depannya "Kamu beliin untuk aku?"
Aksa mengangguk pelan sembari menarik kursi dan duduk di depan Aluna
"Kenapa?" Tanya Aluna lagi
Aksa menghembuskan nafasnya pelan, sangat pelan "Karena aku mau, Aluna" ucapnya lembut sembari menatap mata sayu gadis di depannya
Aluna diam. Jawaban sederhana Aksa sukses membuat dadanya terasa sesak. Aluna menggeser gelas itu sedikit, ia tidak terbiasa menerima sesuatu dari orang lain tanpa ada maksud dan rangka tertentu
"Aku bayar aja ya?" Ucapnya pelan
Aksa mengangguk "1 milyar"
Aluna menghembuskan nafasnya "Aku ga enak" ucapnya lagi
Aksa menaikkan alis kanannya menatap gadis di depannya dengan kesal "Kamu ga harus selalu membayar pemberian orang lain hanya karna seseorang berbuat baik sama kamu"
Aluna kembali terdiam. Ia menunduk
Ada bagian lain dari dirinya yang ingin menangis mendengarnya, dulu ia sangat percaya bahwa dengan menjadi berguna adalah satu-satunya cara agar ia layak dipertahankan.
Aksa kembali menghembuskan nafasnya pelan melihat Aluna yang diam menunduk, hanya karena secangkir kopi saja mampu membuat gadis di depannya itu terdiam cukup lama.
"Yaudah 2 milyar"
Aluna menatap ke depan. Aksa tersenyum kecil "Aku anggap kamu gabisa bayar"
Aluna kembali diam, ia tersenyum kecil tidak tau harus menjawab apa. Sisa energinya juga sudah terkuras habis oleh Raka
Dan untuk pertama kalinya juga seseorang datang sendiri padanya tanpa meminta apapun, tanpa meminta dipercaya, tanpa meminta untuk menunggu, tanpa meminta Aluna membuktikan apapun. Ia hanya datang dan duduk di hadapannya
Memberi Waktu
Dan mungkin..
Itulah bagian yang paling menakutkan dari semuanya, dan mulai bertanya-tanya 'Bagaimana kalau kali ini aku jatuh cinta lagi?' Bukan kepada orang yang salah, melainkan kepada orang yang benar. Dan bagaimana kalau ternyata aku tetap tidak merasakannya?'
'Mungkin bukan dia yang tak mampu membuatku jatuh cinta, hanya saja aku sudah terlalu takut untuk jatuh lagi' - Aluna Rayandra Nara
'Aku tidak menyembuhkanmu, tetapi aku memberi ruang sampai kamu bisa menyembuhkan dirimu sendiri, Aluna' - Aksa Pradana Alexandra
YOU ARE READING
HAMPIR (On Going)
RomanceSelama lima tahun, Aluna mencintai laki-laki yang sama. Lima tahun mengejar, lima tahun menunggu, lima tahun menjadi orang pertama yang selalu membantu Ia pikir semua pengorbanan itu akan berarti suatu hari nanti Ternyata tidak bagi Raka. Hubungan...
