1. PROLOG

1 0 0
                                        

Aluna pernah berpikir bahwa kehilangan seseorang adalah hal yang paling menyakitkan dalam mencintai

Ternyata Aluna salah. 

Yang lebih menyakitkan adalah ketika menyadari bahwa selama lima tahun mungkin ia tidak pernah benar-benar dicintai 

Terdengar suara getaran halus di sampingnya, satu nama muncul di layar 

Raka. 

Aluna menatap layar ponselnya cukup lama

Dulu, satu pesan saja dari Raka sudah cukup membuatnya tersenyum, namun sekarang namanya saja gagal membuat jantungnya berdebar

Lucu ya. 

Lima tahun mengejar dan terus bergelut dengan perasaannya, lalu hanya butuh waktu beberapa minggu untuk tidak merasakan apa-apa lagi

Aluna membuka pesannya lalu menaikkan sebelah alisnya

"Kamu marah sama aku?" 

Aluna tertawa pelan. "Marah?" Ucapnya pelan. 

Setelah semua yang terjadi seharusnya Aluna membencinya. Tapi ternyata tidak, ia hanya lelah dan memilih untuk benar-benar melupakan laki-laki itu tanpa rasa benci

Aluna tidak marah. Hanya saja... ia kosong

Aluna mematikan layar ponselnya, ia tidak berniat membalas pesan tersebut. Tidak semua hal membutuhkan jawaban sama seperti Raka yang meninggalkan dirinya tanpa ucapan bahkan alasan apa pun

Bagi Aluna sekarang, Raka tidak lebih hanyalah seseoarang yang selama ini hanya datang ketika butuh sesuatu padanya

"Lun" 

Aluna mendongak. Aksa berdiri di depannya, membawa dua gelas minuman, lalu meletakkan salah satunya di atas meja "Ini" 

Aluna menatap gelas itu sebentar lalu kembali menatap laki-laki di depannya "Kamu beliin untuk aku?" 

Aksa mengangguk pelan sembari menarik kursi dan duduk di depan Aluna

"Kenapa?" Tanya Aluna lagi

Aksa menghembuskan nafasnya pelan, sangat pelan "Karena aku mau, Aluna" ucapnya lembut sembari menatap mata sayu gadis di depannya 

Aluna diam. Jawaban sederhana Aksa sukses membuat dadanya terasa sesak. Aluna menggeser gelas itu sedikit, ia tidak terbiasa menerima sesuatu dari orang lain tanpa ada maksud dan rangka tertentu

"Aku bayar aja ya?" Ucapnya pelan 

Aksa mengangguk "1 milyar" 

Aluna menghembuskan nafasnya "Aku ga enak" ucapnya lagi 

Aksa menaikkan alis kanannya menatap gadis di depannya dengan kesal "Kamu ga harus selalu membayar pemberian orang lain hanya karna seseorang berbuat baik sama kamu"

Aluna kembali terdiam. Ia menunduk

Ada bagian lain dari dirinya yang ingin menangis mendengarnya, dulu ia sangat percaya bahwa dengan menjadi berguna adalah satu-satunya cara agar ia layak dipertahankan. 

Aksa kembali menghembuskan nafasnya pelan melihat Aluna yang diam menunduk, hanya karena secangkir kopi saja mampu membuat gadis di depannya itu terdiam cukup lama. 

"Yaudah 2 milyar" 

Aluna menatap ke depan. Aksa tersenyum kecil "Aku anggap kamu gabisa bayar" 

Aluna kembali diam, ia tersenyum kecil tidak tau harus menjawab apa. Sisa energinya juga sudah terkuras habis oleh Raka

Dan untuk pertama kalinya juga seseorang datang sendiri padanya tanpa meminta apapun, tanpa meminta dipercaya, tanpa meminta untuk menunggu, tanpa meminta Aluna membuktikan apapun. Ia hanya datang dan duduk di hadapannya 

Memberi Waktu

Dan mungkin..

Itulah bagian yang paling menakutkan dari semuanya, dan mulai bertanya-tanya 'Bagaimana kalau kali ini aku jatuh cinta  lagi?' Bukan kepada orang yang salah, melainkan kepada orang yang benar. Dan bagaimana kalau ternyata aku tetap tidak merasakannya?' 

'Mungkin bukan dia yang tak mampu membuatku jatuh cinta, hanya saja aku sudah terlalu takut untuk jatuh lagi' - Aluna Rayandra Nara

'Aku tidak menyembuhkanmu, tetapi aku memberi ruang sampai kamu bisa menyembuhkan dirimu sendiri, Aluna' - Aksa Pradana Alexandra


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 4 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

HAMPIR (On Going)Stories to obsess over. Discover now