Chapter 01

186 8 0
                                        

Malam itu gerimis melanda, di jalanan sepi yang membelah hutan belantara yang membentang luas, terlihat sebuah mobil truk muatan yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.

Dibalik kemudi, seorang pria berusia 45 tahun tengah fokus menyetir dengan hanya ditemani oleh suara deru mesin mobil yang meraung kencang.

Meski suasana diluar mobil sedang gerimis, tetapi pria itu merasa sangat gerah, tubuhnya yang kekar dengan otot-otot yang menonjol terbentuk secara alami akibat melakukan pekerjaan berat sejak masa muda sudah basah oleh keringat.

Dengan kulit kecoklatan, kumis tipis dan janggut halus yang di cukur rapi, membuat pria dengan bentuk tubuh sempurna itu terlihat sangat jantan dan menggoda.

Namanya Wisnu, seorang duda tiga anak yang di gugat cerai oleh istrinya belasan tahun lalu karena tak sanggup lagi hidup dibawah garis kemiskinan, membuat Wisnu tak berdaya dan hanya bisa pasrah menerima nasibnya.

Secara penampilan, Wisnu bisa dibilang cukup ganteng, jika tidak mustahil bagi Wisnu yang bukan siapa-siapa bisa menikahi istrinya yang pada saat itu merupakan kembang desa yang sangat terkenal di daerahnya.

Tapi setelah terjun kedalam kehidupan bermasyarakat dan dihantam oleh kenyataan yang sangat kejam, Wisnu dan istrinya telah sepenuhnya menyadari jika penampilan tidak terlalu penting.

Dalam dunia kapitalis yang membutuhkan biaya hidup tinggi, uang adalah yang utama, karena itu juga istrinya secara kejam menggugat cerai Wisnu, meninggalkan ketiga anaknya dan menikah lagi dengan saudagar kaya dari pulau seberang.

Sejak saat itu, Wisnu tak lagi pernah melihat mantan istrinya, namun meski begitu Wisnu tetap bekerja keras memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk menghidupi ketiga anaknya.

Setelah berjuang keras selama bertahun-tahun dengan hanya mengandalkan pekerjaan serabutan, Wisnu akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan konstruksi sebagai supir truk muatan.

Namun akibat pekerjaannya itu yang mengharuskannya berpergian antar daerah dan kota, waktu yang Wisnu habiskan untuk ketiga anaknya berkurang secara signifikan, untungnya ketiga anaknya memahami pekerjaan Wisnu dan tidak mempersulitnya.

Anak pertama Wisnu bernama Galuh, usianya kini 23 tahun, sejak lulus SMA, Galuh memilih ikut bekerja bersama Wisnu sebagai kenek.

Setelah beberapa tahun, Galuh akhirnya di terima di tempat kerja Wisnu dan mulai bekerja sebagai supir, mengantarkan muatan ke berbagai daerah sama sepertinya.

Sementara itu, anak kedua Wisnu bernama Agung yang tiga tahun lebih muda dari Galuh, usianya kini 20 tahun.

Sama halnya dengan Galuh, setelah lulus sekolah, Agung mengikuti jejak bapak dan kakaknya, bekerja sebagai kenek meski Wisnu sempat melarang tetapi karena Agung bersikeras, Wisnu hanya bisa mengizinkannya.

Sedangkan anak ketiganya bernama Ari yang beberapa bulan lalu baru saja lulus SMA, usianya sudah menginjak 18 tahun.

Berbeda dengan Galuh dan Agung yang secara fisik mengikuti Wisnu dengan kulit kecoklatan, tubuh kekar berotot dan wajah ganteng, Ari lebih mirip dengan ibunya, berkulit putih bersih, tubuh langsing, bulu mata lentik, hidung kecil mancung dan sepasang mata yang berbinar indah.

Ari benar-benar terlihat seperti ibunya saat masih muda, membuat Wisnu merasakan gejolak emosi rumit setiap kali melihatnya.

Bohong jika Wisnu mengatkan tidak mengingat kembali mantan istrinya saat melihat wajah Ari, tapi karena itu juga Wisnu sangat menyayangi anak bungsunya itu dengan memberikan perhatian lebih.

Tidak peduli sesibuk apapun Wisnu, dia akan menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu dengan Ari, membuat anak bungsunya itu tidak kekurangan kasih sayang, terlebih Galuh dan Agung juga sangat memanjakan Ari, apapun yang diinginkan adik bungsunya itu, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengabulkannya.

Terjebak Birahi Nafsu 🔞 Stories to obsess over. Discover now