1 - KESAN YANG SALAH

4 1 0
                                        

Lalina Manara, gadis itu punya kebiasaan buruk seperti terlalu lama termenung mengamati keadaan sekitar dan karakteristik orang lain.

Bukan karena tertarik, Lalina hanya ingin tahu.

Dia tahu bedanya orang yang beneran introvert atau orang yang berusaha keras menjadi ekstrovert. Lalina tahu orang yang jujur atau berbohong hanya dari cara orang tersebut melakukan kontak mata dengannya. Gadis itu juga sangat paham dengan tipu muslihat orang yang pura-pura baik saat ada maunya.

Menurut Lalina, semua orang punya polanya masing-masing. Yang menjadi pertanyaannya adalah "Apakah orang tersebut cukup sadar dengan pola yang ditinggalkan?"

Dan Lalina sangat menyukai menyusun atau membongkar pola, sampai tidak menyadari bahwa dirinya sudah dipanggil berkali-kali oleh dosennya. "Lalina Manara?!"

Sontak panggilan tersebut membuat dirinya kaget dan terlonjak. Lalina langsung menatap ke arah dosennya yang sudah terlihat kesal.

"Maaf Pak. Ada apa memanggil saya?"

Dosen yang berdiri di tengah kelas itu hanya menyodorkan selembar kertas. Dan Lalina pun bangkit dari duduknya, melangkah maju ke depan, menerima kertas itu, kemudian kembali ke kursinya yang dekat tempat duduk dosen.

Lalina membaca isi kertas tersebut. Ternyata pak dosen memberikan tugas kepada seluruh mahasiswa terkait Penelitian Hubungan Interpersonal, dan tugas tersebut adalah tugas kelompok yang akan menentukan sebagian besar nilai akhir semester.

Dia lanjut membaca, kemudian perhatian nya jatuh di sebuah kalimat "Setiap mahasiswa wajib memiliki satu patner penelitian."

Helaan nafas berat keluar dari mulut Lalina. Dia bukannya tidak suka dengan tugas penelitian, hanya saja kurang suka untuk mengerjakan tugas secara berkelompok. Apalagi dia tidak tahu harus berkelompok dengan siapa.

Lalina mengangkat tangannya ke atas, dan pak dosen langsung mempersilahkan nya bertanya. "Soal kelompok, apakah harus pilih sendiri atau bapak pilihkan?"

Beberapa mahasiswa yang terlanjur bisik-bisik mencari dan menentukan rekan kelompok, perhatian nya langsung tertuju ke depan.

"Untuk kelompok sudah saya tentukan dan saya tidak menerima pertukaran pasangan." ucap dosen tersebut yang langsung mengundang erangan dan protes.

Sedangkan Lalina kembali membaca buku psikologi yang sempat dia tinggalkan karena melamunkan hal gak jelas. Sambil telinganya mendengar nama-nama mahasiswa yang dipanggil menjadi patner.

Sampai akhirnya namanya dipanggil oleh dosen. "Lalina Manara."

"Iya pak." ucapnya sambil mengangkat tangan.

"Patner kamu. .. Jeon Kairo."

Lalina langsung mengerutkan kening karena merasa tidak familiar dengan nama itu. Bahkan sebenarnya gadis itu juga gak terlalu mempedulikan nama-nama mahasiswa di kelasnya. Yang dia hapal cuma wajah, rambut, gestur tubuh, dan ekspresi nya. Tidak lebih.

Maka saat mendengar suara orang dari belakang, Lalina menoleh dan mendapati seorang pria yang mengangkat tangannya dengan malas. Dan Lalina kembali mengerutkan keningnya.

Lalina ingat pria itu, orang yang sama dengan orang yang tempo hari diusir keluar oleh bu dosen karena ketahuan main PUBG mobile di kelas dan tidak memperhatikan presentasi. "Ternyata dia itu Jeon Kairo..." gumam Lalina.

Dan lucunya Lalina baru tersadar bahwa dia ternyata sekelompok dengan Jeon Kairo. Lalina langsung memijat pelipisnya dan merasa pesimis akan tugas kelompoknya. Gadis itu menganggap Kairo sebagai patner yang kurang kompeten. Bahkan saat Lalina menoleh kembali ke belakang, dia menemukan Jeon Kairo yang lagi dan lagi memainkan game di ponselnya.

Kairo juga seakan tidak peduli ketika dirinya terus ditatap oleh Lalina, bahkan pria itu membalas tatapannya dengan tatapan santai. Hal itu membuat Lalina kesal.

Lalina kembali mengangkat tangan untuk memastikan lagi. "Pak... ini beneran gak bisa diganti lagi patnernya?"

Tetapi malah dibalas dosennya seperti ini. "Kamu kira tugas yang saya berikan itu main-main?" Lalina menggeleng. Dirinya dan banyak mahasiswa lain yang ingin bertukar patner hanya bisa menghela nafas pasrah.

Dan setelah dosen selesai memanggil kan nama-nama mahasiswa beserta rekan kelompoknya, dosen tersebut menyilakan mereka untuk bergabung ke kelompok dan mulai mengerjakan tugasnya.

Banyak juga mahasiswa yang mengeluh, namun mau tak mau langsung berdiri dan duduk berdekatan dengan patnernya. Sementara Lalina tetap terdiam di tempatnya.

Dosennya yang sudah kembali duduk di meja depan Lalina, hanya menatap gadis itu seolah-olah menyuruhnya untuk segera bergabung dengan kelompok.

Mau tak mau Lalina beranjak dari duduknya kemudian melangkah ke barusan paling belakang. Sepanjang langkah nya, Lalina hanya melihat Jeon Kairo yang sedari tadi masih asik main game. Dan saat gadis itu sampai di sebelah Kairo, dia melihat laptopnya yang bukannya membuka materi perkuliahan namun malah mendownload game.

Lalina melipat kedua tangannya di dada dan tetap berdiri disamping Kairo, menunggu Kairo selesai main game dan berfokus pada tugas.

Menit demi menit berlalu, tetapi Kairo masih saja asik memainkan gamenya. Dan lama kelamaan Lalina jadi kesal sendiri.

"Kamu mau ngerjain tugas kelompok atau terus main game?" tanya Lalina, menahan emosi.

"Ah... wait. Satu ronde lagi baru kelar." ucap Kairo tanpa mengalihkan pandangan dari game.

Dan Lalina hanya bisa berdecak kesal. Mau tak mau gadis itu akhirnya mendudukkan diri di sebelah Kairo dan menunggu pria itu menyelesaikan game nya.

5 menit

10 menit

15 menit

20 menit

Lalina melihat jam tangannya. Ternyata sudah mau istirahat kelas pertama di hari ini. Dirinya kembali melirik Kairo yang masih asik bermain game. Akhirnya hilang sudah kesabaran Lalina.

"Eh Woi! HP gue!" ucap Kairo yang kaget ketika ponselnya tiba-tiba ditarik oleh Lalina.

Lalina hanya memasang wajah datar sembari menjauhkan ponsel Kairo dari pria itu. "Kamu bilang hanya satu ronde permainan lagi. Dan coba lihat sudah jam berapa ini?"

"Gue gak tau jam berapa. Jam nya ada di HP." ucap Kairo sambil cengengesan.

"Boleh aku lempar HP ini?" Tiba-tiba Lalina tersenyum manis dan memasang ancang-ancang untuk melempar ponsel Kairo.

Kairo berusaha meraih ponselnya kembali, tetapi Lalina terus menjauhkannya dari jangkauan pria itu. Tarik-menarik tersebut membuat tubuh Lalina kehilangan keseimbangan. Kursi besi dengan tatakan meja yang menyatu di sampingnya pun ikut oleng sebelum akhirnya terjungkal ke belakang.

"Ah-!"

Tubuh Lalina jatuh lebih dulu, membuat punggungnya menghantam lantai.

Brak!

Suara kursi yang membentur lantai membuat beberapa mahasiswa langsung menoleh. Lalina terdiam selama beberapa detik. Kemudian dia menatap ponsel Kairo yang masih di genggaman tangannya.

"Ini. Ambil ponsel kamu." ucap Lalina dingin.

Kairo mengambil ponselnya kembali. Namun saat pria itu ingin membantu Lalina yang terjatuh, gadis itu sudah terlebih dahulu bangun dan mendudukkan diri. Tetapi Kairo bisa melihat gadis tersebut yang tampaknya kesakitan dari cara Lalina memijat punggung nya dan bibirnya yang meringis.

Dan tampaknya Kairo jadi merasa bersalah.

"Maaf..."

SALAH INTERPRETASI Stories to obsess over. Discover now