Sejak kecil, Julian Harvey tahu bahwa ruangan kosong jarang benar-benar kosong.
Ia lahir pada 28 Juli 2000 membawa warisan darah keluarga Harvey: mata yang melihat apa yang tak terlihat, telinga yang mendengar suara mereka yang sudah lama berhenti bernapas. Orang menyebutnya indra keenam. Neneknya, Barbara Harvey-paranormal yang namanya disegani di kampung halaman mereka-menyebutnya tanggung jawab.
Barbara yang mengajarinya berbicara dengan hantu, lalu memerintah beberapa di antaranya. Barbara pula yang memberinya satu pegangan, sambil menjentik dahinya pada malam sebelum ia berangkat kuliah.
*"Hantu boleh menunjukkan arah, Jul, tapi yang berjalan tetap kamu. Kebenaran harus kamu buktikan dengan cara manusia, pakai bukti yang bisa dipegang manusia. Kalau suatu hari kamu cuma bisa menang karena bantuan mereka, lebih baik berhenti jadi pengacara."*
Julian memegang kata-kata itu sepanjang kuliah Ilmu Hukum. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang terlalu tenang untuk ditekan dan terlalu cepat menemukan lubang dalam argumen orang. Sahabatnya berisik-Erick, Nova, Kelvin-ditambah Febby yang sejurusan dengannya, dan Christy dari Ilmu Ekonomi, yang hampir setiap pagi meletakkan es kopi susu kesukaan Julian di meja perpustakaan.
Setiap pagi pula, Christy menerima jawaban yang sama.
*"Makasih, Chris. Kamu memang sahabat paling pengertian sedunia. Nanti kalau aku sukses, kopimu kuganti satu truk."*
Seisi kampus mengira mereka berpacaran. Hanya Julian yang tidak pernah menangkap arti kopi itu.
Saat magang, namanya mulai dibicarakan. Ia menghubungkan jam kejadian dengan rekaman yang terlewat, kesaksian yang bergeser sedikit demi sedikit, dan detail kecil yang diabaikan semua orang. Kasus-kasus pidana yang ia bantu terbongkar satu per satu, dan orang mulai memanggilnya Sang Genius Hukum.
Tak ada yang tahu bahwa sebagian petunjuk itu datang dari saksi yang sudah meninggal. Petunjuk semacam itu tak pernah ia bawa ke pengadilan. Ia hanya memakainya untuk tahu di mana bukti yang nyata harus dicari.
Julian lulus sebagai salah satu yang terbaik. Tawaran dari firma-firma besar berdatangan, dan ia menolak semuanya. Bukan karena merasa lebih hebat. Ia hanya muak melihat perkara ditentukan oleh nama besar, uang, dan kenalan.
Dengan modal pas-pasan, ia membuka kantornya sendiri: **Harvey Law Firm**. Tanpa gedung bertingkat, tanpa puluhan partner, tanpa jaringan.
Hanya Julian, dan sesuatu yang tidak dimiliki firma mana pun.
\* \* \*
Ruang sidang siang itu terasa seperti pertandingan yang hasilnya sudah diatur.
Di meja tergugat, lima pengacara Wiratama & Partners duduk berjajar dengan setelan mahal dan berkas berlabel warna. Mereka mewakili perusahaan pengembang raksasa. Di seberang, Julian duduk bersama seorang janda muda yang terus meremas ujung kerudungnya. Suaminya tewas jatuh dari perancah proyek perusahaan itu, dan versi perusahaan sederhana saja: almarhum bekerja di luar jam kerja dan lalai memakai tali pengaman.
Pengacara senior Wiratama, pria berambut perak dengan pengalaman tiga dekade, berdiri dengan senyum sabar seorang guru.
*"Majelis Hakim yang terhormat, perkara ini sebenarnya sudah terang. Rekaman CCTV menunjukkan almarhum masuk area proyek pukul 22.40, jauh setelah jam kerja berakhir. Saya menghargai semangat rekan saya yang masih muda, tapi semangat tidak bisa menggantikan fakta."*
Julian berdiri tanpa terburu-buru dan merapikan jasnya.
*"Saya sepakat, Yang Mulia. Semangat memang tidak bisa menggantikan fakta. Karena itu izinkan saya menunjukkan beberapa fakta yang sepertinya belum sempat dibaca rekan saya yang lebih berpengalaman."*
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love is Miss K
RomanceJulian Harvey seorang pengacara ambisius setelah lulus dengan modal seadanya serta bantuan dari orang tuanya mendirikan firm hukum sendiri, dalam mengungkap kebenaran tidak ada yang tau kalau Julian Harvey dapat melihat sesuatu yang tidak bisa di li...
