0

8 3 0
                                        


"Abis pulang sekolah kita jalan-jalan ya, sayang." Ucap seorang gadis bernama Kira Elvara sambil tersenyum. Kira punya wajah yang cantik, rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai dan beberapa helai rambut jatuh di sekitar wajahnya. Senyumnya terlihat manis dan tatapannya lembut, membuatnya mudah menarik perhatian orang di sekitarnya.

"Boleh aja, aku juga free abis pulang sekolah." Jawab Arthur Denan yang duduk di sebelahnya.

Arthur merangkul pundak Kira lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Kira tersenyum kecil dan menyandarkan kepalanya di bahu Arthur. Untuk beberapa saat ia hanya diam menikmati perlakuan pacarnya itu.

Arthur sendiri bukan tipe cowok yang bisa dibilang tampan Wajahnya biasa saja dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Tapi karena pembawaannya cukup percaya diri, ia tetap terlihat menarik di mata beberapa orang.

Suasana kelas masih cukup ramai. Ada yang mengobrol, ada yang sibuk bermain ponsel dan beberapa siswa lainnya mulai memasukkan buku ke dalam tas karena jam pelajaran sebentar lagi selesai.

Dret...

Dret...

Ponsel Kira yang berada di atas meja tiba-tiba berdering. Kira mengambilnya lalu melihat layar ponsel yang menampilkan nama mamanya.

"Halo, Ma. Kenapa?" Tanya Kira setelah mengangkat telepon.

"Halo, Dek. Nanti kalau udah pulang sekolah langsung pulang ke rumah ya." Ucap Tiara dari seberang telepon.

"Gak bisa, Ma. Aku nanti mau keluar sama Arthur."

"Gak ada. Kamu langsung pulang. Gak ada bantahan." Ucap Tiara tegas tidak menerima bantahan

Kira menghela napas pelan. Ia sudah tahu kalau mamanya sudah menggunakan nada seperti itu berarti tidak ada gunanya membantah.

"Yaudah lah Ma. Iya nanti aku langsung pulang."

Kira menoleh ke arah Arthur yang ternyata sedang melihat seorang gadis di bangku seberang. Tatapannya bahkan belum beralih sejak tadi.

"Awas kamu gak pulang ya Kira. Mama gak main-main kalau kamu bohong."

"Iya Ma. Yaudah ya. Dadah."

Kira langsung mematikan teleponnya. Ia kembali melihat Arthur yang masih saja memperhatikan gadis lain.

Kira yang mulai kesal langsung menyikut pelan perut Arthur.

"Aduh, sakit, bangsat!" Arthur meringis sambil memegang perutnya lalu membalas menyikut Kira.

Sikutannya justru lebih keras dari yang Kira berikan. Gadis itu langsung memegang perutnya dan sedikit membungkuk menahan rasa sakit.

"Mama nyuruh aku langsung pulang. Kita gak bisa jalan. Maaf ya." Ucap Kira pelan.

Arthur malah mendengus kesal. "Ye, gimana sih? Lo yang ngajak, lo juga yang gak bisa."

Arthur menoyor kepala Kira lalu berdiri dari kursinya. "Gue keluar dulu."

Tanpa menunggu jawaban Kira, Arthur langsung pergi meninggalkan kelas.

Kira hanya bisa diam melihat kepergian Arthur. Tangannya masih menekan perut yang terasa sakit. Ia menunduk dan berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di matanya.

Sikap Arthur akhir-akhir ini memang semakin berubah. Awalnya ia hanya sering berkata kasar ketika sedang marah, tapi sekarang tidak jarang perkataannya mulai merendahkan Kira. Kalau sedang emosi, Arthur juga bisa bersikap kasar secara fisik.

Anehnya Kira masih bertahan.

Bukan cuma karena perasaan, mungkin karena ia terlalu bodoh untuk perasaan nya sendiri

Selain itu, setiap mereka pergi bersama hampir semua pengeluaran juga Kira yang membayar. Mulai dari makanan sampai barang yang Arthur inginkan. Kira sebenarnya sadar kalau hubungan mereka sudah tidak sehat, tapi setiap kali ingin pergi ia selalu menemukan alasan untuk tetap bertahan.

Sepanjang jam sekolah Arthur tidak pernah kembali ke kelas. Bahkan sampai bel pulang berbunyi pun cowok itu tidak terlihat.

Kira akhirnya membereskan buku-bukunya lalu keluar dari sekolah. Di depan gerbang sudah ada mobil yang biasa digunakan untuk menjemputnya.

Sepanjang perjalanan Kira hanya diam sambil melihat keluar jendela. Pikirannya masih memikirkan kejadian tadi, sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumahnya.

Saat turun, langkah Kira tiba-tiba berhenti. Sebuah mobil mewah terparkir di depan garasi rumahnya Kira mengernyitkan dahi. "Ini mobil siapa? Baru lihat."

Ia tidak mau terlalu banyak berpikir dan langsung masuk ke dalam rumah. Namun baru beberapa langkah, Kira sudah mendengar suara percakapan dari ruang tamu.

Kira berjalan mendekat dan melihat kedua orang tuanya sedang berbicara dengan seorang pria yang tidak dikenalnya.

"Mama, aku pulang."

"Sini, Nak." Tiara langsung memanggil Kira sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.

Kira berjalan mendekat lalu duduk di samping mamanya. Ia masih menggunakan seragam sekolah lengkap dan belum sempat mengganti pakaian.

Matanya kemudian tertuju kepada pria yang sejak tadi berbicara dengan kedua orang tuanya.

Pria itu terlihat cukup berbeda dari orang-orang yang biasa Kira temui. Usianya terlihat sudah matang, mungkin sekitar awal tiga puluhan. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, rambut hitam yang tertata rapi dan tatapan mata yang tenang seperti jurang yang dalam. Ia mengenakan kemeja berwarna gelap yang membuat penampilannya terlihat sederhana tapi tetap berwibawa.

Tidak banyak ekspresi di wajahnya. Bahkan ketika melihat Kira, pria itu hanya diam memperhatikannya dengan tatapan yang sulit ditebak.

"ini anak gadisku satu-satunya." Ucap Kevin dengan nada serius. Pria itu mengangguk kecil Kira mulai merasa tidak nyaman ketika tatapan pria tersebut memperhatikannya dari atas sampai bawah.

Ia mengernyitkan dahi lalu menatap pria itu secara langsung.

"Kenapa?" Tanya Kira. "Ada yang salah sama saya?" Lanjut nya

Suasana ruang tamu langsung terasa tegang Tiara melirik Kira seolah memberi isyarat agar anaknya tidak terlalu blak blakan. Sementara Kevin hanya diam memperhatikan.

Pria itu tetap tenang. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu menatap Kira dengan ekspresi datar.

"Tidak ada." Suara pria itu rendah dan terdengar dewasa

Dan dari cara kedua pria itu saling memandang, Kira mulai merasa kalau ada sesuatu yang tidak ia ketahui.

Next

Selamat membaca karya pertama ku yang alay ini dan jangan ngatain ai ya, karena pembawaan bahasa nya sedikit baku karena aku tidak bisa baca atau nulis novel yang pembawaan bahasanya terlalu santai dan ngawur soal nya geli sendiri

El karaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang