"Hai, aku Mia yang berumur 9 tahun."
Kata-kata itu membuatku menoleh cepat ke sumber suara. Aku terpatung.
Di depanku berdiri ilusi yang sangat mirip denganku. Padahal tiga bulan yang lalu aku baru saja berulang tahun yang ke-10. Ia mengenakan kebaya putih yang kupakai di Hari Kartini tahun lalu. Rambutku yang waktu itu baru kupotong pendek dan tidak bisa disanggul, diakali Mama dengan bando.
Anak itu keluar dari cermin.
Bolehkah kali ini aku menyebutnya hantu? Seolah tahu apa yang kupikirkan, ia menyentuhku perlahan, membuktikan bahwa ia bukan sekadar bayangan. Aku tidak mundur. Aku hanya terpaku.
"Mia, jangan bengong saja, seperti baru pertama kali melihatku," katanya dengan suara yang persis seperti suaraku.
Saat itu yang ada di pikiranku hanya satu: aku punya kembaran yang selama ini belum pernah kutemui. Aku bahkan sampai lupa fakta bahwa ia baru saja keluar dari cermin.
Wajahku yang tadinya cengo berubah riang. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendiri. Aku mulai menyukai duniaku. Kupikir aku tidak sendirian lagi, aku punya kembaran seperti temanku di kelas.
Sampai Mama mulai menyadari keanehan dalam diriku.
Yang paling lucu, Mama membawaku ke orang pintar. Anehnya, Mama mengira aku bisa melihat hantu.
Aku mulai merasa aneh di bangku kelas 6, saat umurku 12 tahun. Mama merayakan ulang tahunku lagi. Setelah ulang tahunku yang ke-10, kupikir itu akan menjadi yang terakhir. Aku mulai menyadari, kembaranku tidak terlihat oleh siapa pun. Ia bisa hilang dan datang kapan saja, dari mana saja.
Aku mulai tidak mengerti lagi. Setelah merasa hidupku lebih berwarna selama dua tahun terakhir, aku mulai berpikir: aku bukan manusia? Aku bisa melihat hantu? Atau ini hanya mimpi dan aku lupa terbangun?
Sampai bayangan itu berbicara padaku,
"Mia, saat kau bertambah umur, kau akan merasa seperti keluar dari tubuhmu. Karena itu yang aku rasakan. Dulu aku juga tidak percaya, tapi kau akan percaya saat kau mengalaminya."
"Kau bisa pergi!" Aku melihatnya tersentak, dadaku masih naik-turun setelah berteriak. Tanda aku masih marah.
"Kau tidak merasa sendiri selama ini, Mia. Tak kusangka Mia yang berumur 12 tahun bisa sejahat ini. Aku beruntung menjadi Mia yang berumur 11 tahun."
Di sela mataku yang masih berembun —
"Mia!"
Aku tersentak. Aku sadar sudah terlalu lama melamun tentang masa itu.
"Sukanya melamun," katanya. Dia adalah Mia yang berumur 14 tahun. Artinya, aku sekarang adalah Mia yang berumur 15 tahun. Lima tahun terakhir aku lewati bersama "kembaranku". Begitu aku memutuskan untuk menamainya.
Aku menjalani hari seperti anak normal. Menjadi remaja yang aktif berteman, sudah jarang menyendiri, dan memutuskan untuk tidak berbuat gila lagi. Ya, aku tidak akan berbicara pada Mia jika sedang di tempat umum. Aku memperbolehkannya muncul kapan saja, tapi aku sudah kebal. Kebal untuk tidak meladeninya.
"Setelah ini kau sekolah di mana?" tanyanya.
"Sekolah SMA impianku, lalu ambil IPS," jawabku sambil menenteng buku yang tidak muat kumasukkan ke tas.
"Kenapa tidak IPA?" tanyanya lagi, mencegatku yang hendak membuka pintu.
Aku mengembuskan napas pelan. "Nggak semua orang pengen IPA dan nggak semua anak IPS itu kurang pintar."
Reaksinya membela diri, "Aku nggak mikir gitu."
"Ya, aku tau. Dan aku minta maaf karena tidak mengabulkan keinginanmu untuk masuk IPA."
Pintu berderit. Aku terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu, bersedekap.
"Ngomong sendiri lagi," katanya sambil mengayunkan kaki. Aku tahu bahkan tanpa melihat ke bawah.
"Nggak," jawabku terbata.
"Ini sama temen, lagi teleponan," aku berpura-pura menunjukkan ponselku yang memang kupakai untuk mendengarkan musik menuju tempat belajar, dengan senyum yang kupaksakan.
"Berangkat ya, Ma." Cepat-cepat kuambil tangannya untuk kucium dan berpamitan.
"Kamu tuh sebenarnya ngomong sama siapa sih?" Aku memakai headset dan mengeraskan musikku tanpa menoleh pada Mama di belakang yang masih mengejarku.
"Mia, Mia..." suaranya samar-samar masih memanggilku.
Suaranya lantang, seperti volume yang kukeraskan di ponselku, tapi malah terdengar seperti suara Mama.
Selamat datang di kisahku. Aku Mia Nandari.
bersambung
Instragram: @ypl28_ @Iratsel28
ESTÁS LEYENDO
M And Me
AcciónMia pikir dia punya kembaran. Sejak umur 9 tahun, ada satu Mia lain yang keluar dari cermin kamarnya. Hanya Mia yang bisa melihat. Mamanya bilang itu imajinasi, orang pintar bilang itu bakat melihat hantu. Tapi Mia tahu, dia hanya kesepian. Ini kisa...
