KOBARAN API MEMECAH TANGISKU

0 0 0
                                        

KOBARAN API MEMECAH TANGISKU

Malam itu, sebuah keluarga sedang menikmati kebahagiaan sederhana di rumah mereka.

Ayah, ibu, dan kelima anak mereka duduk bersama di meja makan sambil menonton televisi. Makanan tersaji lengkap. Tawa terdengar dari ruang makan, bercampur dengan suara televisi yang sesekali lebih keras daripada percakapan mereka.

Tidak ada yang kekurangan.

Rumah yang nyaman, kendaraan yang cukup, makanan yang selalu tersedia, serta kehidupan yang berkecukupan telah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, di tengah kehangatan itu, sesuatu yang kecil terjadi.

Lampu di dapur berkedip-kedip.

Tak jauh dari sana, seekor tikus terlihat menggigiti sebuah kabel.

Tidak ada yang menyadarinya.

Tidak ada yang mengira bahwa sesuatu sekecil itu akan mengubah segalanya.

Di antara kelima anak tersebut, Vera, si bungsu, tampak tidak menikmati tontonan yang sedang mereka lihat.

"Aku nggak suka filmnya," gumamnya.

Ia kemudian beranjak dari meja makan dan pergi meninggalkan keluarganya.

Diana, anak sulung, memperhatikannya.

"Vera kenapa?"

Tidak ada jawaban.

Diana kemudian berdiri dan menyusul adiknya.

Ketika melewati ruang makan, ia sempat melihat adik-adiknya yang lain masih tertawa bersama ayah dan ibu mereka.

Semuanya tampak baik-baik saja.

Seolah tidak akan pernah ada sesuatu yang buruk terjadi.

Diana akhirnya menemukan Vera di kamar.

"Vera."

Adiknya hanya diam.

Diana duduk di sampingnya.

"Kamu kenapa?"

"Aku cuma nggak suka filmnya."

Diana tersenyum kecil.

"Ya sudah. Kakak bacain buku, ya?"

Vera mengangguk.

Diana mengambil sebuah buku cerita anak-anak dari rak.

Ia mulai membacanya.

Cerita itu berkisah tentang seorang anak yang kehilangan hampir seluruh keluarganya setelah rumah mereka terbakar.

Diana terus membaca hingga sampai pada bagian ketika sang kakak meninggal di depan adiknya.

Diana berhenti.

"Hmm..."

Ia menutup sebagian bukunya.

"Kayaknya buku ini terlalu berat buat anak kecil."

Vera tidak menjawab.

Diana menatapnya.

Ternyata Vera sudah tertidur.

Wajah kecilnya tampak tenang.

Namun, di pipinya terdapat setetes air mata.

Diana terdiam.

Ia mengusap air mata itu dengan lembut.

"Kenapa sampai nangis, sih..."

Diana kemudian berbaring di samping adiknya.

Sebelum memejamkan mata, terdengar suara dari sudut kamar.

Kobaran Api Memecah TangiskuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang