Prolog

190 11 1
                                        

Jarum jam di dinding kamar Lilia Anjani sudah melewati angka sebelas. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan lampu tidur kecil yang memantulkan cahaya kekuningan ke seluruh sudut ruangan. Gadis yang biasa dipanggil Lia itu duduk bersandar di kepala ranjang, masih mengenakan kaus longgar yang ia pakai sejak pulang dari bandara sore tadi.

Di pangkuannya, sebuah buku bersampul ungu terbuka. Lia memutar pena di antara jemarinya, menatap halaman kosong itu cukup lama sebelum akhirnya mulai menulis.

Minggu malam, pukul 23:45.

Kamarku terasa terlalu luas malam ini. Heningnya beda. Aku masih bisa mencium sisa wanginya di bantal. Aroma kayu cedar yang bercampur sedikit jeruk bergamot, hangat dan sedikit pahit, wangi yang selalu tertinggal di seragamku setiap kali kamu memelukku terlalu lama. Atau mungkin aku hanya berhalusinasi karena terlalu merindukanmu.

Baru beberapa jam berlalu sejak aku melepaskan genggaman tanganmu di bandara, tapi rasanya seperti sudah berhari-hari. Aku terus teringat caramu menatapku sebelum melangkah masuk ke pintu keberangkatan. Tatapan tenang itu, yang entah bagaimana selalu berhasil membuatku merasa menjadi perempuan paling berharga di dunia.

Orang-orang di sekolah melihatmu sebagai kapten tim voli yang dingin. Si jangkung berambut sebahu yang jarang bicara dan tidak tersentuh. Tapi di mataku, kamu tetap Feli yang manja. Feli yang selalu memintaku merapikan dasinya karena katanya dengan tanganku lebih rapi. Feli yang tiba-tiba menyembunyikan wajahnya di bahuku setelah latihan, hanya untuk bilang bahwa dia lelah. Dan Feli yang senyumnya selalu terlihat paling manis saat sudut bibirnya tertarik dan kawat giginya ikut terlihat—sesuatu yang selalu kamu tutupi di depan orang lain, tapi tidak pernah kamu sembunyikan dariku.

Aku suka bagaimana tanganmu yang besar melingkupi jemariku. Membuatku merasa aman sekaligus kecil di waktu yang sama. Aku suka caramu yang kadang tidak becus melakukan hal-hal sepele, tapi selalu berusaha keras hanya untuk membuatku tersenyum.

Malam ini aku hanya ingin menuliskan ini untuk diriku sendiri. Bahwa aku mencintaimu, dengan segala ketangguhanmu di lapangan dan segala kerapuhan yang hanya aku yang tahu. Aku mencintaimu, meskipun dulu aku adalah orang yang paling keras menentang keberadaanmu.

Di luar jendela, langit terlihat sangat gelap. Di atas sana, mungkin kamu sedang mencoba memejamkan mata di kursi pesawat.

Terbanglah setinggi yang kamu mau, Fel. Kejar semua mimpimu di London. Aku akan tetap di sini, menjaga semua kenangan kita di dalam buku ini sampai nanti kamu pulang dan kembali mengisi hening di kamarku.

~~~

Lia menutup buku itu perlahan, lalu mendekapnya sebentar sebelum meletakkannya di laci meja. Ia mematikan lampu tidur, membiarkan gelap menelan seluruh ruangan.

Di luar sana, langit malam masih sama gelapnya dengan setahun lalu. Bedanya, saat itu Lia masih menjadi gadis yang berdiri di lapangan sekolah dengan tatapan penuh benci, menganggap Feliana Fadillan sebagai orang yang paling tidak ingin ia temui seumur hidupnya.

Offside (GxG)Stories to obsess over. Discover now