1.

195 20 0
                                        

Udara Tokyo di pertengahan November selalu membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi bagi Uzumaki Naruto, rasa dingin itu tidak pernah sebanding dengan suhu meja makan keluarganya. Di bawah lampu kristal rumah utama Namikaze, segalanya tampak sempurna. Sang ayah, Namikaze Minato, sedang tersenyum ramah di layar televisi yang menyiarkan berita pagi. Publik mengenal Minato sebagai pengusaha real estat yang dermawan, filantropis yang tak ragu menggelontorkan miliaran yen untuk panti asuhan dan rumah sakit. Namun, Naruto tahu persis bahwa tangan yang melambai hangat ke arah kamera itu adalah tangan yang sama yang menandatangani perintah eksekusi mati bagi belasan pesaing bisnis mereka minggu lalu.

"Terkadang, mencabut nyawa adalah keharusan mutlak untuk menjaga mereka yang hidup agar tetap aman," kalimat itu pernah diucapkan Minato tanpa intonasi di ruang bawah tanah keluarga mereka, sebuah prinsip yang membuat Naruto bersumpah untuk memalingkan wajah dari kerajaan gelap tersebut.

Naruto memilih hidup layaknya pemuda berusia awal dua puluhan pada umumnya. Ia mengambil jurusan arsitektur di sebuah universitas ternama di Tokyo, menghabiskan waktu luangnya menyusuri jalanan Shibuya, dan sesekali duduk di kafe Second Spring hanya untuk mengerjakan tugas tanpa harus melihat wajah-wajah penjaga berjas hitam. Ia memiliki nilai yang cukup baik, teman-teman yang berisik, dan seorang kekasih bernama Hinata yang lembut. Ia hanya ingin membangun gedung, bukan meruntuhkan nyawa. Namun, darah yang mengalir di nadinya adalah kutukan yang tak bisa ia hindari, sekeras apa pun ia berlari.

Di sisi lain kota, di balik gemerlap distrik kabaret Kabukicho, realitas bergerak dengan ritme yang jauh lebih brutal. Uchiha Sasuke tidak pernah memiliki ilusi tentang kehidupan normal. Sejak usianya belum genap sepuluh tahun, Sasuke telah diajari cara membedakan racun dari aromanya dan cara mematahkan leher seseorang dalam diam. Ia adalah pedang yang ditempa langsung oleh ayahnya, Uchiha Fugaku, untuk menjadi eksekutor sekaligus otak taktis dari Sindikat Uchiha.

Sementara Naruto bersembunyi di balik buku tebal, Sasuke berdiri di tengah ruangan kedap suara, menatap dingin pada seorang pria yang berlutut dengan wajah babak belur. Bisnis sedang kacau. Selama tiga bulan terakhir, kargo senjata yang masuk lewat Pelabuhan Yokohama terus dicegat. Rute perdagangan bawah tanah mereka bocor, rekening-rekening luar negeri diretas, dan ketegangan di antara klan-klan kecil yang berada di bawah naungan Uchiha dan Namikaze mulai memanas. Sasuke menyeka noda darah dari sarung tangan kulitnya, matanya segelap malam tanpa bintang. Ia tidak perlu berteriak untuk mengintimidasi; kehadirannya saja sudah cukup membuat udara di ruangan itu terasa mencekik. Sasuke adalah predator yang lahir dan dibesarkan di dalam kandang, dan ia melakukan tugasnya tanpa sedikit pun keraguan.

Namun, badai sesungguhnya tidak datang dari musuh yang terlihat. Kehancuran itu menghantam mereka di sebuah perempatan sepi di pinggiran Minato Ward.

Mobil sedan anti peluru yang membawa Kushina Uzumaki dan sahabat karibnya, Mikoto Uchiha, dihantam dengan kecepatan penuh oleh sebuah truk kargo yang mematikan lampu sorotnya. Itu bukan kecelakaan lalu lintas biasa; itu adalah deklarasi perang.

Naruto sedang tertawa bersama teman-temannya di kampus ketika ponselnya berdering, membawa kabar yang meruntuhkan seluruh dunia normal yang susah payah ia bangun. Ia berlari membelah hujan Tokyo, paru-parunya terbakar, hingga ia tiba di lorong putih Rumah Sakit Pusat Tokyo yang kini dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata dari dua klan. Di ujung lorong, ia melihat Sasuke berdiri bersandar pada dinding, jas mahalnya kusut dan rahangnya mengeras. Tidak ada sapaan. Hanya keheningan yang sarat akan teror. Di balik pintu kaca ruang ICU, dua wanita yang menjadi pusat semesta mereka sedang berjuang melawan maut, dipenuhi selang dan suara monitor jantung yang berdetak lemah.

Di ruang sayap timur yang tertutup rapat, Namikaze Minato dan Uchiha Fugaku duduk berhadapan. Wajah Minato telah kehilangan seluruh topeng kelembutannya; matanya sedingin es laut utara, memancarkan aura pembunuh yang membuat udara di sekitarnya membeku.

"Kita kehabisan waktu," suara Fugaku memecah keheningan yang menekan. Pemimpin klan Uchiha itu meletakkan sebuah perkamen kuno di atas meja. "Para tetua telah memanggil dukun klan. Prediksinya tidak masuk akal, tetapi dalam situasi di mana musuh bayangan berhasil menyusup hingga ke cincin terdalam pertahanan kita, kita tidak punya kemewahan untuk bersikap skeptis."

Minato melirik perkamen itu tanpa minat, pikirannya tertuju pada istrinya yang sedang sekarat. "Aku tidak peduli dengan ramalan mistis, Fugaku. Aku menginginkan kepala bajingan yang melakukan ini."

"Ramalan ini adalah kuncinya, Minato," potong Fugaku, suaranya memberat. "Dukun itu mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan kehancuran total dari dalam dan menyatukan kekuatan absolut adalah dengan menyatukan pewaris utama kita. Darah dan takdir harus diikat di depan altar suci. Naruto dan Sasuke harus dinikahkan."

Minato terdiam. Ia menatap Fugaku dengan ketidakpercayaan yang nyata. Menikahkan dua pria, pewaris dari dua sindikat paling mematikan di Jepang, adalah sebuah bunuh diri politik dan penghinaan terhadap tradisi. Itu adalah ide paling gila dan konyol yang pernah ia dengar. Namun, ketika bayangan wajah pucat Kushina terlintas di benaknya, pertahanan rasionalitas Minato runtuh. Ia adalah pria yang bersedia membakar separuh Tokyo demi senyum istrinya. Jika ramalan gila ini, penggabungan kekuasaan absolut ini, adalah satu-satunya cara untuk menciptakan perisai tak tertembus di sekitar keluarganya, maka ia akan melakukannya.

"Lakukan," desis Minato, suaranya tajam bak sembilu. "Siapkan upacaranya. Aku akan melakukan apa pun."

Ketika keputusan itu akhirnya dijatuhkan kepada Naruto dan Sasuke di ruang tunggu rumah sakit yang dingin, reaksi pertama Naruto adalah murka. Ia meninju dinding hingga buku-buku jarinya berdarah, mengutuk tradisi gila keluarganya, mengutuk takdir, dan memikirkan wajah Hinata yang akan hancur mendengar berita ini. Ia berteriak di depan wajah ayahnya, menyatakan penolakannya mentah-mentah.

Namun, argumennya terhenti ketika Minato menunjuk ke arah ruang ICU. "Ini bukan tentang pilihanmu, Naruto. Ini tentang ibumu."

Naruto menoleh, menatap dari kejauhan tubuh Kushina yang rapuh. Tenggorokannya tercekat. Segala pemberontakannya, segala impiannya tentang kehidupan normal, hancur berkeping-keping di bawah beban rasa cintanya pada sang ibu. Ia tidak bisa lari. Kali ini, bersembunyi di dunia normal bukanlah pilihan.

Sasuke, di sisi lain ruangan, tidak mengatakan sepatah kata pun. Matanya terus terpaku pada siluet Mikoto di balik kaca. Sejak kecil, ibunya adalah satu-satunya sumber kehangatan di dunia Uchiha yang membeku. Tidak peduli sekeras apa pun Sasuke dilatih untuk tidak memiliki perasaan, Mikoto adalah kelemahan mutlaknya. Ketika Fugaku menyampaikan titah tersebut, Sasuke hanya memejamkan mata sejenak, mengubur dalam-dalam kekecewaannya, dan mengangguk. Ia tidak peduli betapa merepotkannya Naruto, atau seberapa hancurnya sisa hidupnya kelak.

Malam itu, di bawah langit Tokyo yang menangis, dua pemuda dengan takdir yang saling bertolak belakang akhirnya menyerahkan kebebasan mereka. Mereka melangkah masuk ke dalam sangkar emas yang sama, diikat oleh kontrak darah, sumpah palsu, dan kebencian yang mendidih perlahan di balik ikatan pernikahan yang tidak pernah mereka inginkan.

Bound by Fate [NaruSasu]Stories to obsess over. Discover now