"Aluna, bangun. Kamu bilang hari ini mau datang lebih pagi."
Suara Ratri terdengar dari balik pintu kamar, disusul ketukan pelan yang membuat Aluna mengerang sambil menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi sebagian wajahnya. Semalam ia baru benar-benar memejamkan mata hampir pukul dua setelah menyelesaikan pesanan untuk pagi ini, jadi rasanya baru sebentar ia berada di tempat tidur ketika suara ibunya sudah memanggil.
"Iya, Bu..." jawabnya dengan suara serak yang nyaris tidak terdengar.
"Katanya iya dari lima menit lalu."
Aluna membuka sebelah mata dan melirik jam di atas meja kecil dekat tempat tidurnya. Begitu melihat jarumnya sudah melewati waktu yang ia rencanakan, perempuan itu langsung bangkit dengan rambut berantakan.
"Astaga!"
Ia hampir tersandung sandal sendiri ketika turun dari tempat tidur.
Dari luar kamar terdengar suara tawa kecil Raka. "Makanya jangan begadang terus, Kak."
"Raka, kalau kamu masih sempat ngetawain Kakak, berarti kamu belum siap-siap sekolah."
"Tinggal pakai sepatu."
"Ya sudah, sana pakai sepatu sambil diam."
"Galak."
Aluna membuka pintu kamar dengan tatapan kesal, tetapi Raka yang sudah berdiri di depan kamar hanya menyengir sebelum berlari menuju ruang depan. Tingkah adiknya selalu seperti itu. Menyebalkan, tetapi entah kenapa rumah terasa terlalu sepi jika tidak ada suara Raka yang mengganggunya sejak pagi.
Ia kemudian berjalan menuju ruang tengah sambil merapikan rambut seadanya. Ratri sudah duduk di sana dengan secangkir teh hangat di tangannya, sementara beberapa obat tersusun di atas meja.
"Duduk dulu," ujar sang ibu ketika melihat Aluna hendak langsung mengambil tas.
"Nanti aja, Bu. Aku telat."
"Kamu selalu bilang telat setiap kali Ibu suruh makan."
Aluna berhenti, kemudian menatap ibunya yang sedang memperhatikannya dengan tatapan yang sudah sangat ia kenal.
Bukan marah.
Lebih kepada khawatir.
Akhirnya ia menarik kursi dan duduk di sebelah Ratri. Tangannya meraih sepotong roti yang sudah disiapkan sejak tadi.
"Gini kan?" tanyanya sambil menggigit roti tersebut.
Ratri tersenyum tipis. "Gitu."
Aluna mengunyah buru-buru sebelum kembali melihat obat di atas meja. "Ibu sudah minum obat?"
"Sudah."
"Bener?"
"Aluna."
"Iya, iya. Percaya."
Ia terkekeh kecil, lalu berdiri setelah menghabiskan setengah roti di tangannya. Ratri hanya bisa menggeleng melihat anak perempuannya yang sejak pagi sudah terlihat terburu-buru.
"Kamu jangan terlalu capek hari ini."
Aluna memasukkan dompet ke dalam tas, kemudian menoleh.
"Kalau capek sedikit nggak apa-apa, Bu. Yang penting bakery-nya jalan."
"Bukan cuma bakery yang harus jalan. Kamu juga harus dijaga."
Kalimat itu membuat Aluna terdiam sesaat. Ia tahu maksud ibunya, tetapi memilih menyembunyikan rasa haru yang tiba-tiba muncul dengan sebuah senyum kecil.
CZYTASZ
More Than a Cinnamon Roll
RomansAwalnya hanya cinnamon roll, secangkir kopi, dan pertemuan sederhana. Aluna tak pernah menyangka, sebuah bakery kecil yang ia bangun demi keluarganya akan menjadi tempat datangnya seseorang yang perlahan mengusik ketenangan hidupnya. Di antara aroma...
