Prologue

20 2 0
                                        

Memantau halaman situs PPDB daring di layar ponsel pada jam-jam kritis rupanya jauh lebih memicu adrenalin daripada menunggu pengumuman kelulusan ujian nasional.

Bagi Malika Halilintar, modal rata-rata nilai 92 dari SMP swastanya seharusnya sudah lebih dari cukup untuk mengamankan satu kursi di sekolah negeri. Minimal, namanya tidak akan langsung terdepak di hari pertama pendaftaran dibuka. Namun realitanya, sistem seleksi jalur domisili SMA Negeri sama sekali tidak peduli pada lembar piagam atau kerja kerasnya selama tiga tahun terakhir. Di dalam sistem itu, jarak rumah adalah penguasa mutlak.

"Gila... orang-orang ini rumahnya pada menempel di pagar sekolah atau bagaimana?" Halilintar bergumam sinis, menatap nanar layarnya.

Hanya dalam hitungan jam, posisi namanya di jurnal seleksi daring terus merosot ke bawah, tergeser oleh nama-nama asing yang jarak rumahnya hanya hitungan puluhan meter dari sekolah impiannya. Lebih parah lagi, ada desas-desus jalur prestasi tiba-tiba ditutup dengan dalih kuota sudah penuh tanpa ada transparansi yang jelas. Bau busuk permainan orang dalam terasa begitu menyengat, tetapi Halilintar tidak punya daya apa pun untuk protes. Sistem spmb daring telah mengunci takdirnya: dia ditolak.

Enggan mendaftar ke SMA swasta karena masalah biaya dan gengsi, Halilintar akhirnya memutuskan untuk melakukan perjudian nekat di hari terakhir pendaftaran SMK Negeri.

Hanya ada satu pilihan tunggal yang dia masukkan ke dalam sistem: SMK Negeri Nusa Bangsa, Program Keahlian DKV.

Tanpa pilihan kedua. Tanpa rencana cadangan. Benar-benar sebuah pertaruhan one shot. Pikirnya, jika diterima, dia patut bersyukur karena jarak sekolah itu paling dekat dari rumah. Jika tidak, dia terpaksa pasrah dipindahkan ke sekolah swasta. Halilintar bahkan tidak sempat meluangkan waktu untuk riset lebih jauh mengenai sekolah tersebut. Yang penting baginya saat itu adalah sekolah negeri, gratis, dan aman dari zonasi yang menjebaknya.

"Seyakin itu kah buat ambil jurusan DKV?" sang ibu memastikan. Kemudian kembali berucap, "kenapa tidak ambil teknik elektronika saja seperti ayahmu, Malik? Kau yakin lulus nanti mau kerja apa?"

"Jangan sampai kau ambil jurusan ini cuman karena gampang, Malik."

Halilintar terdiam beberapa saat. Matanya masih tertuju pada layar ponsel yang menampilkan status pendaftarannya, sengaja menghindari tatapan sang ibu. Dia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya menoleh.

"Aku yakin, Bu," jawab Halilintar dengan nada sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan badai kepanikan di dalam dadanya. "Zaman sekarang lowongan kerja untuk DKV sudah luas. Lagipula, nilai pendaftaranku aman di sini. Ibu tenang saja."

Mendengar jawaban itu, sang ibu hanya menatapnya datar. "Ibu gamau tahu toh, kalau ini sudah jadi keinginan kamu. Harus kamu jalani. Ga ada istilahnya kamu minta pindah nanti."

Setelah ibunya berlalu, Halilintar masih menatap layar ponselnya. Perasaan nya campur aduk.

"Toh yang penting aku sekolah dulu." Gumamnya, berusaha memantapkan hatinya pada pilihan itu.

Klik. Tombol submit pendaftaran terakhir dia tekan dengan yakin.

Kini ia hanya akan menunggu, sampai waktu tes kejurusan di tentukan.

Apakah ia akan bertahan?

Apakah ia akan bertahan?

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 12 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

1001 Cerita Anak SMKStories to obsess over. Discover now