"Halo semuanya! Selamat datang di bab awal cerita ini.
Di sini kita akan menyapa generasi baru dari keluarga Adhitama. Cerita ini penuh dengan intrik dunia bawah, aksi, kehidupan sekolah elit, dan sedikit bumbu komedi kekeluargaan yang hangat.
Siapkan diri kalian untuk menyaksikan bagaimana sejarah lama berulang kembali dengan cara yang lebih mendebarkan.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komentar di setiap babnya ya, karena apresiasi kalian adalah semangat utamaku untuk terus menulis.
Selamat membaca!"
Di pusat kota Jakarta Selatan, berdiri sebuah kompleks bangunan megah berarsitektur benteng modern yang dikelilingi oleh barikade baja taktis dan kaca kedap peluru. Sekolah itu tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu bagi anak-anak pejabat tinggi, diplomat asing, atau pebisnis kelas atas, melainkan juga tempat berkumpulnya para penerus takhta jaringan Galaksi yang telah bertransformasi menjadi imperium bisnis raksasa.
Nama sekolah itu adalah Galaksi Elite High School.
Di balik kemewahan fasilitasnya, ada satu hukum tak tertulis yang berlaku bagi seluruh siswa, guru, hingga jajaran direksi Jangan pernah berurusan dengan Altair Adhitama.
Pukul 06.30 WIB.
Sinar fajar menerobos masuk melalui gorden hitam di kamar utama paviliun pribadi Altair di kompleks The Sanctuary, Puncak. Ruangan itu didominasi oleh warna kelabu tua dan baja dingin, mencerminkan kepribadian penghuninya yang minim ekspresi.
Altair Adhitama yang kini berusia enam belas tahun duduk tegak di tepi tempat tidur king size-nya. Postur tubuhnya yang mencapai 185 sentimeter dibalut oleh kemeja putih sekolah yang lengannya digulung rapi hingga memperlihatkan jam tangan taktis edisi khusus-hadiah dari Revan di ulang tahunnya yang kesepuluh. Pria muda itu memiliki rahang yang tegas, rambut hitam pekat yang sedikit bergelombang, serta sepasang manik mata sehitam malam yang memancarkan pendar dingin yang menusuk.
Jika ayahnya, Alaric Adhitama, dikenal sebagai 'Monster' yang menggelegar bagaikan petir saat mengancam musuh, maka Altair adalah Kesunyian yang Mematikan. Ia tidak berteriak, tidak menunjukkan kemarahan secara terang-terangan, namun setiap keputusan yang keluar dari mulutnya dapat menghancurkan karier atau jaringan keluarga seseorang dalam hitungan detik tanpa ada suara peluru yang meletus.
Altair berdiri, mengambil jas almamater elit berwarna hitam malam dengan sulaman benang emas di bagian kerahnya. Tangan kanannya meraba bagian dalam jas, menyentuh gagang belati perak bermotif mawar hitam yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
"Tuan Muda," suara bernada datar memanggil dari luar pintu kamar yang bergeser terbuka.
Revan melangkah masuk. Meskipun beberapa helai uban keperakan kini menghiasi pelipisnya, kacamata frameless dan setelan jas hitamnya tetap serapi belasan tahun lalu. Di belakang Revan, Bima berjalan dengan posisi tegap, membawa sebuah tas dokumen taktis.
"Laporan perimeter pagi ini," ucap Revan sambil menyodorkan sebuah tablet transparan. "Jalur penerbangan helikopter dari Puncak menuju helipad sekolah sudah disterilkan oleh Paman Jaka dan Paman Raka. Sisa-sisa faksi luar yang mencoba meretas jaringan logistik kemarin malam sudah ditangani di batas laut."
Altair menerima tablet itu, melirik deretan data numerik di layarnya selama tiga detik sebelum mengembalikannya pada Revan. "Paman Raka tidak membakar kapal mereka, kan?" tanya Altair, suaranya berat dan bernada bariton yang sangat dalam.
Bima terkekeh pelan. "Tidak, Tuan Muda. Paman Raka cuma menenggelamkan mesinnya. Paman Jaka yang melarang karena takut asap pembakaran kapal bikin Nona Grizelle terganggu saat jalan-jalan pagi."
YOU ARE READING
SANGKAR TENANG KETURUNAN ADHITAMA
RomanceBagi seluruh penghuni Galaksi Elite High School, Altair V. Adhitama adalah definisi kesempurnaan yang tak tersentuh. Ketua OSIS berprestasi, calon tunggal penerus imperium bisnis Adhitama, sekaligus pemimpin tertinggi geng motor Astraion yang mengua...
