Happy Reading
....
"Siapa Salwa?"
Kafka tak langsung menjawab, matanya langsung melirik ponselnya yang tergeletak di nakas samping tempat tidur Keira.
Belum sempat ia memeriksa layar, ponselnya kembali berdering. Dimas. Kafka hendak mengambilnya, tetapi Keira lebih dulu meraih ponsel tersebut.
"Kei."
Keira menggenggam ponsel itu erat. "Jawab dulu siapa Salwa."
"Bukan siapa-siapa."
"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa lo takut jawab dari tadi? Terus kenapa Dimas bilang nama Salwa?"
Kafka menghela napas. "Sini. Gue mau ngomong sama Dimas."
Keira menggeleng. "Nggak."
"Keira."
"Kalau lo nggak mau jujur, ponsel ini nggak akan gue kasih."
Kafka menatapnya tajam. "Nggak usah kekanak-kanakan gini, deh! Siniin HP gue!"
Keira mulai menahan air matanya. "Lo anggap gue apa sebenarnya?" Kafka terdiam. "Gue tahu ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue dari dulu." Suara Keira mulai bergetar. "Dan gue nggak tahu kenapa setiap kali gue tanya, lo selalu menghindar."
"Padahal lo selalu nyuruh gue terbuka sama lo." Keira tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. "Lo mau gue cerita semuanya. Gue harus bilang gue pergi ke mana, sama siapa, ngapain. Tapi giliran soal hidup lo sendiri..." Keira menggeleng. "Lo sama sekali nggak pernah terbuka."
Kafka menarik napas panjang. "Nanti gue cerita."
"Nanti kapan?"
"Nanti."
"Lo selalu bilang nanti."
Kafka akhirnya mengambil ponselnya dari tangan Keira. "Nanti gue jelasin semuanya."
Sebelum Keira sempat membalas, Kafka langsung keluar dari kamar. Ia berjalan menuju dapur dan menjauh sejauh mungkin agar Keira tidak mendengar percakapannya.
Kafka menekan tombol panggil. "Dimas."
Keira yang masih berada di kamar langsung bangkit. Tubuhnya memang lemas, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia berjalan perlahan mendekati pintu kamar. Dari sana, suara Kafka terdengar samar.
"Lo di mana?"
Keira menahan napas. Sayangnya, suara Dimas tidak terdengar dari tempatnya berdiri. Hanya suara Kafka yang sesekali masuk ke telinganya.
"Cewek itu siapa?"
Hening.
"Apa maksud lo ngaku sebagai Salwa?"
Keira semakin mendekat. Namun, suara Kafka kembali terdengar samar.
"Apa dia masih di sana?"
Keira menahan napas. Kafka terdiam cukup lama. Lalu suaranya terdengar lebih rendah.
"Jangan kasih tahu siapa-siapa dulu."
Keira menatap kosong ke arah dapur. Ada sesuatu. Ia yakin sekarang. Ada sesuatu yang selama ini Kafka sembunyikan darinya.
Beberapa menit kemudian, Kafka kembali ke kamar. Keira langsung kembali ke tempat tidur dan berpura-pura tidak mendengar apa pun.
Kafka menatapnya. "Gue mau keluar sebentar."
Keira langsung membuka mata. "Ke mana?"
"Keluar."
"Sama siapa?" Kafka tidak menjawab.
YOU ARE READING
24 Hours With You
RomanceSemua orang ingin memiliki Kafka Ardhana, cowok sempurna yang menjadi pusat perhatian di sekolah. Tapi, Keira tahu sisi lain Kafka-sisi yang terlalu takut kehilangan hingga mengubah cinta menjadi keterikatan. Dulu, 24 jam bersamanya terasa seperti k...
